Beberapa hari yang lalu, kita
dihebohkan dengan pemberitaan tentang Norman Kamaru yang ternyata kini harus banting
setir berjualan bubur. Norman adalah mantan polisi berpangkat Brigader Satu
(Briptu) di Gorontalo. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat mendadak popular setelah
meng-upload goyang Chayya-chayya ke Youtube. Selanjutnya,
kita tahu, ia memilih mengundurkan diri dari kepolisian dan mencoba meniti
karir di dunia hiburan. Banyak yang mencemooh keputusannya waktu itu. Namun karirnya
memang semakin melejit, meski hanya sesaat. Sebab beberapa waktu kemudian
popularitasnya meredup dan hilang dari belantara entertainment nusantara.
![]() |
| Norman Kamaru, banting setir jadi tukang bubur |
Setelah itu, orang-orang yang
mencemoohnya kian merasa benar. Komentar-komentar yang bermunculan adalah “Benar
kan, itu keputusan yang salah!” dan sejenisnya. Dan setelah berita berjualan
bubur kemarin muncul, mereka kian di atas angin. Mungkin kamu salah satu yang
berada di pihak ini.
Tapi tunggu dulu, mari kita lihat
pengakuan Norman yang saya kutip dari tribunnews.com berikut.
"Alhamdulillah kalau dihitung-hitung acak per hari dapat Rp500 ribu dikali 30 hari. Itu contoh saja," kata Norman Kamaru di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis 11 September 2014 malam.
Nah!
Berarti dalam sebulan ia bisa mendapat 15 juta. Bandingkan dengan gajinya di
kepolisian yang hanya sekitar 1,8 jutaan! Lalu kenapa begitu cepat memvonis ia
sudah salah memutuskan pilihan? Mari kita lihat pengakuan Norman selanjutnya.
Lebih lanjut, Norman mengaku menjalani profesi barunya karena sesuai dengan hobi dia selama ini, memasak. "(Membuka kafe kecil masakan Manado) Sama istri, yang masak saya sendiri. Memang sebelum jadi polisi sudah bisa masak," tandasnya.
Jadi?
Sekarang ia telah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya. Sejarah menunjukkan
bahwa pekerjaan yang digeluti berdasarkan hobi akan bertahan lebih lama
daripada yang tidak berdasarkan pada hobi.
Tapi
bukankah polisi terlihat lebih keren daripada seorang penjual bubur? Siapa bilang?
Bukankah tukang bubur yang bisa naik haji terlihat lebih keren daripada seorang
polisi yang naik haji?
Norman
sekarang memang hanya menjadi pedagang, atau penjual bubur tepatnya. Tapi yang
jelas ia sedang tidak ‘mengemis’ pada negara. Ia punya usaha sendiri. Itu lebih
baik, bukan?
Artikel
ini hanya berusaha melihat sudut positif dari ‘banting setir’-nya Norman
Kamaru. Semoga tercerahkan.

ya, mari lihat dari sisi positifnya
ReplyDelete15jt!!!
ReplyDeletestuju....:)
ReplyDelete15 juta sebulan. Bakal bisa naik haji terus buat pilem
ReplyDelete