Friday, 12 September 2014

KTN: Terlunta-lunta di Dua Kota (5)

Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB. Saya dan Mas Gegge segera mencari mushalla untuk menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Barang-barang kami titipkan ke Mbak Ruwi. Usai shalat, Mas Gegge dan Mbak Ruwi pamit. Mereka satu tujuan, Yogyakarta. Adapun panitia dan beberapa staf kementerian yang menemani kami sudah lebih dulu berangkat. Tinggallah saya sendiri di bandara.

Para pemenang KTN 2014 (Note: gambar tidak ada hubungan dengan cerita)

Jam masih menunjukkan pukul lima sore sementara pesawat saya baru akan berangkat pukul delapan malam (ini kata panitia). Dalam hati saya sempat kesal sama panitia (maaf ya) yang dengan senang hati memesan pesawat terakhir untuk saya. “Ini untuk antisipasi, mana tahu pesawat kita yang dari Beijing nanti delay. Kan bisa hangus tiket pulang ke Aceh,” begitu dalih mereka.
Iseng, saya cek email masuk. Tadi memang saya minta ke panitia supaya mengirimkan e-ticket ke email saya. Di situ tertulis:

31 AUG        19 45                             JAKARTA
                     22 10                             KUALA NAMU

01 SEP         09 40                             KUALA NAMU
                     10 45                             BANDA ACEH

Rupanya ini maksud transit di Medan? Transit semalaman. Nginap di mana nantinya saya? Selaku ureung gampong, saya gelisah juga. Mau komplain langsung, panitianya sudah tidak ada di tempat. Akhirnya saya hubungi via ponsel.

“Mas, itu benar tiket pesawat saya?”
“Iya, Mas.”
“Jadi saya baru tiba di Aceh besok pagi?”
“Iya, Mas. Soalnya yang dari Jakarta ke Medan ‘kan pesawat terakhir.”

Nah, ini dia alasannya saya tidak setuju dipesan pesawat terakhir. Transit di Kualanamu. Tapi sudahlah, saya terima dengan lapang dada. Maunya kalau harus nginap di Medan, kan di-booking hotelnya juga! :D

Masih terlunta-lunta sendirian di ibukota, saya dihadapkan lagi pada kenyataan akan terlunta-lunta di kota provinsi tetangga. Pukul 19.15, saya check-in. Tiga puluh menit kemudian, saya sudah di pesawat. Pengeras suara di pesawat berbunyi, “Penumpang yang terhormat, kami mohon maaf akan menunda keberangkatan selama dua puluh menit disebabkan bla bla bla.” Seorang ibu yang duduk di samping saya mengeluh, “Yaaa, 20 menit.” Saya bercakap ringan dengan si ibu. Beliau orang Medan asli. Dalam hati, saya berkata, “Tenang, Bu. Ibu menunggu pulang ke Medan tidak akan selama saya menunggu pulang ke Aceh.”

Tiba di Kuala Namu, saya langsung mencari mushalla. Hanya itu yang bisa dijadikan alternatif penginapan. Jadilah saya semalaman sebagai ahlulmushalla.

Usai Shubuh, tilawah dan alma’tsurat, saya sempatkan menulis beberapa artikel. Kabar baik yang sedikit menghibur adalah dimuatnya tulisan tentang kemacetan di Beijing pada harian Serambi Indonesia, halaman pertama. Tulisan itu saya kirim dua hari sebelumnya, sewaktu masih di Beijing. Seketika, itu langsung jadi trending topic, tapi khusus di akun saya :). Kekosongan waktu menunggu keberangkatan pesawat terisi karena saya membalas satu per satu ucapan yang datang.


Dan akhirnya, pukul 09.10 saya segera check-in. Tepat pukul 10.45, saya tiba di Bandara Iskandar Muda. Alhamdulillah. 

3 comments: