Ketika mendengar nama Beijing, maka
yang pertama sekali melintas di pikiran saya adalah sebuah kota metropolitan
dengan tata kota yang apik dan mengagumkan. Pertimbangan saya tentu saja karena
ibukota RRC ini sedang bersiap ‘menguasai’ dunia melalui kemajuan
perkenomiannya. Tapi semua stigma itu hilang seketika begitu saya menginjakkan
kaki di ibukota Negeri Tirai Bambu ini.
Kami tiba di
Bandara Internasional Beijing sekitar pukul 07.30 pagi waktu setempat, satu jam
lebih cepat dibandingkan Jakarta. Jadi, waktu di Beijing sama dengan waktu di
Indonesia bagian tengah (WITA). Sempat ada kekhawatiran ketika awak pesawat
mengumumkan bahwa suhu di bandara mencapai angka 19 derajat Celcius. Tapi entah
karena terlalu bersemangat, perbedaan cuaca tidaklah menjadi masalah.
Di bandara,
sempat ada cerita menarik. Saya mengira hanya toilet di Indonesia saja yang
kondisinya ‘memprihatinkan’. Ternyata toilet di Beijing juga tidak mau kalah.
Begitu memasuki toilet, kita akan
‘disambut’ oleh bau khas toilet yang sangat menyengat. Ali, guide kami, sempat berceloteh, “jadi
kalau mau mencari toilet di China cukup dengan mengendus saja baunya. Anda akan
menemukannya!” Mengenai Ali, dia menamakan dirinya demikian meskipun nama
aslinya—saya sudah lupa karena susah diingat apalagi diucapkan—bukan itu.
Seperti saya, dia beralasan namanya susah diingat oleh orang-orang Indonesia
dan Malaysia yang sering dipandu olehnya.
Menggunakan van,
kami keluar dari bandara. Dan seperti kota-kota besar lainnya, tak jauh dari
bandara kami langsung disambut oleh masalah yang dialami oleh hampir semua kota
besar di dunia: kemacetan. Parahnya lagi, beberapa orang yang berasal dari
Jakarta sempat berkomentar, “Ini macetnya melebihi Jakarta!” Dan memang benar,
dari jendela kamar hotel di Beijing Wuhuan Hotel, saya masih bisa menyaksikan
kemacetan yang dimulai sejak pagi itu baru akan berakhir pada pukul sepuluh
malam lewat. Begitu macetnya hingga mobil-mobil terlihat sedang parkir di jalan
raya sementara di beberapa titik, bunyi klakson melengking bersahut-sahutan.
Meskipun
pemerintah sudah menerapkan berbagai cara untuk mengatasi hal ini, sepertinya
itu belum cukup berhasil. Alasannya, iklim persaingan bisnis mobil pribadi di
China yang begitu hidup. Akibatnya, harga mobil pribadi di China menjadi sangat
murah, berkisar di antara 20.000 hingga 30.000 yuan. Jika dirupiahkan, maka itu
berada di kisaran 40 hingga 60 juta! Bandingkan dengan harga mobil di Indonesia
yang paling murah berada di kisaran angka 105 juta.
![]() |
| Mobil murah di China |
Selain itu, rendahnya
kesadaran pengguna jalan juga turut berperan terhadap kemacetan, meskipun ini
terjadi hanya di ruas jalan tertentu. Misalnya, parkir yang semrawut di bahu
jalan terutama di ruas jalan di depan area perkantoran. Hampir setengah lebar
jalan dijadikan lahan parkir. Selain itu, isu ‘hati-hati menyeberang jalan di
Beijing’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Entah ada hubungannya
dengan kemacetan atau tidak—jika ada maka saya menduga ini akibat stress
pengemudi yang sudah berjam-jam terjebak macet lalu dipaksa untuk berhenti lagi
di lampu merah—Anda memang harus berhati-hati menyeberangi jalan di Beijing.
Sebab meski lampu merah sudah menyala, bisa saja ada kendaraan yang melintas
dengan kecepatan tinggi!
Beberapa
solusi yang coba diterapkan pemerintah Beijing di kota yang dihuni oleh lebih
dari 20 juta jiwa ini adalah dengan menarik minat warga untuk naik bus. Caranya
adalah dengan menekan tarif hingga 40 sen (lebih kurang 800 rupiah) untuk jarak
dekat dan 60 sen (lebih kurang 1200 rupiah) untuk jarak jauh. Namun solusi ini
belum cukup berhasil. Terbukti dengan adanya keluhan perusahaan bus yang terus
mengalami kerugian dari tahun ke tahun. Di jalan-jalan di Beijing kita akan
menemukan bus-bus berjalan dengan hanya beberapa penumpang saja di dalamnya.
Demi menghindari kebangkrutan perusahaan bus yang tentu saja akan menambah
masalah, pemerintah kota terpaksa membayar kerugian itu.
![]() |
| Jalan di Beijing. Tidak ada sepeda motor. |
Solusi lain yang
diterapkan oleh pemerintah kota Beijing adalah dengan melarang penggunaan
sepeda motor. Alasannya, sepeda motor berperan besar terhadap kemacetan jalan. Harganya
yang sangat murah serta pergerakannya yang lebih dinamis dari mobil—terutama
ketika berada di lokasi kemacetan—menjadi pertimbangan pemerintah untuk
meniadakan jenis alat transportasi ini di pusat kota. Makanya jangan heran jika
Anda tidak menemukan sepeda motor di sepanjang ruas jalan Beijing. Yang ada
hanyalah sepeda listrik atau sepeda motor berdaya baterai yang tidak boleh
dipacu melebihi kecepatan 30 km/jam. Adapun sepeda, jumlahnya lebih banyak lagi
sebab mereka memiliki jalur khusus di sebelah pejalan kaki.
Well, meskipun belum cukup berhasil,
solusi terakhir sepertinya menjadi alternatif untuk diterapkan di Indonesia,
terutama di kota-kota besar. Selain memperkecil resiko kemacetan, juga
mengurangi polusi udara yang dihasilkan. Tentu saja diimbangi dengan peningkatan
kualitas bus umum dan pembangunan infrastruktur jalan yang lebih baik. Tanpa
dua hal terakhir ini, sepertinya pelarangan penggunaan sepeda motor akan
sia-sia. Kita berharap semoga pemerintahan baru Indonesia mampu melakukan
perubahan ke arah yang lebih maju, termasuk di bidang transportasi.
Note: artikel ini pernah dimuat di Citizen Reporter harian Serambi Indonesia, http://aceh.tribunnews.com/2014/09/01/tanpa-sepmor-pun-beijing-macet


0 komentar:
Post a Comment