Friday, 12 September 2014

Tanpa Sepeda Motor Beijing Tetap Macet

Ketika mendengar nama Beijing, maka yang pertama sekali melintas di pikiran saya adalah sebuah kota metropolitan dengan tata kota yang apik dan mengagumkan. Pertimbangan saya tentu saja karena ibukota RRC ini sedang bersiap ‘menguasai’ dunia melalui kemajuan perkenomiannya. Tapi semua stigma itu hilang seketika begitu saya menginjakkan kaki di ibukota Negeri Tirai Bambu ini.
    Kami tiba di Bandara Internasional Beijing sekitar pukul 07.30 pagi waktu setempat, satu jam lebih cepat dibandingkan Jakarta. Jadi, waktu di Beijing sama dengan waktu di Indonesia bagian tengah (WITA). Sempat ada kekhawatiran ketika awak pesawat mengumumkan bahwa suhu di bandara mencapai angka 19 derajat Celcius. Tapi entah karena terlalu bersemangat, perbedaan cuaca tidaklah menjadi masalah.
      Di bandara, sempat ada cerita menarik. Saya mengira hanya toilet di Indonesia saja yang kondisinya ‘memprihatinkan’. Ternyata toilet di Beijing juga tidak mau kalah. Begitu memasuki toilet,  kita akan ‘disambut’ oleh bau khas toilet yang sangat menyengat. Ali, guide kami, sempat berceloteh, “jadi kalau mau mencari toilet di China cukup dengan mengendus saja baunya. Anda akan menemukannya!” Mengenai Ali, dia menamakan dirinya demikian meskipun nama aslinya—saya sudah lupa karena susah diingat apalagi diucapkan—bukan itu. Seperti saya, dia beralasan namanya susah diingat oleh orang-orang Indonesia dan Malaysia yang sering dipandu olehnya.
      Menggunakan van, kami keluar dari bandara. Dan seperti kota-kota besar lainnya, tak jauh dari bandara kami langsung disambut oleh masalah yang dialami oleh hampir semua kota besar di dunia: kemacetan. Parahnya lagi, beberapa orang yang berasal dari Jakarta sempat berkomentar, “Ini macetnya melebihi Jakarta!” Dan memang benar, dari jendela kamar hotel di Beijing Wuhuan Hotel, saya masih bisa menyaksikan kemacetan yang dimulai sejak pagi itu baru akan berakhir pada pukul sepuluh malam lewat. Begitu macetnya hingga mobil-mobil terlihat sedang parkir di jalan raya sementara di beberapa titik, bunyi klakson melengking bersahut-sahutan.
      Meskipun pemerintah sudah menerapkan berbagai cara untuk mengatasi hal ini, sepertinya itu belum cukup berhasil. Alasannya, iklim persaingan bisnis mobil pribadi di China yang begitu hidup. Akibatnya, harga mobil pribadi di China menjadi sangat murah, berkisar di antara 20.000 hingga 30.000 yuan. Jika dirupiahkan, maka itu berada di kisaran 40 hingga 60 juta! Bandingkan dengan harga mobil di Indonesia yang paling murah berada di kisaran angka 105 juta.

Mobil murah di China

Selain itu, rendahnya kesadaran pengguna jalan juga turut berperan terhadap kemacetan, meskipun ini terjadi hanya di ruas jalan tertentu. Misalnya, parkir yang semrawut di bahu jalan terutama di ruas jalan di depan area perkantoran. Hampir setengah lebar jalan dijadikan lahan parkir. Selain itu, isu ‘hati-hati menyeberang jalan di Beijing’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Entah ada hubungannya dengan kemacetan atau tidak—jika ada maka saya menduga ini akibat stress pengemudi yang sudah berjam-jam terjebak macet lalu dipaksa untuk berhenti lagi di lampu merah—Anda memang harus berhati-hati menyeberangi jalan di Beijing. Sebab meski lampu merah sudah menyala, bisa saja ada kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi!
      Beberapa solusi yang coba diterapkan pemerintah Beijing di kota yang dihuni oleh lebih dari 20 juta jiwa ini adalah dengan menarik minat warga untuk naik bus. Caranya adalah dengan menekan tarif hingga 40 sen (lebih kurang 800 rupiah) untuk jarak dekat dan 60 sen (lebih kurang 1200 rupiah) untuk jarak jauh. Namun solusi ini belum cukup berhasil. Terbukti dengan adanya keluhan perusahaan bus yang terus mengalami kerugian dari tahun ke tahun. Di jalan-jalan di Beijing kita akan menemukan bus-bus berjalan dengan hanya beberapa penumpang saja di dalamnya. Demi menghindari kebangkrutan perusahaan bus yang tentu saja akan menambah masalah, pemerintah kota terpaksa membayar kerugian itu.
Jalan di Beijing. Tidak ada sepeda motor.
      Solusi lain yang diterapkan oleh pemerintah kota Beijing adalah dengan melarang penggunaan sepeda motor. Alasannya, sepeda motor berperan besar terhadap kemacetan jalan. Harganya yang sangat murah serta pergerakannya yang lebih dinamis dari mobil—terutama ketika berada di lokasi kemacetan—menjadi pertimbangan pemerintah untuk meniadakan jenis alat transportasi ini di pusat kota. Makanya jangan heran jika Anda tidak menemukan sepeda motor di sepanjang ruas jalan Beijing. Yang ada hanyalah sepeda listrik atau sepeda motor berdaya baterai yang tidak boleh dipacu melebihi kecepatan 30 km/jam. Adapun sepeda, jumlahnya lebih banyak lagi sebab mereka memiliki jalur khusus di sebelah pejalan kaki.

      Well, meskipun belum cukup berhasil, solusi terakhir sepertinya menjadi alternatif untuk diterapkan di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Selain memperkecil resiko kemacetan, juga mengurangi polusi udara yang dihasilkan. Tentu saja diimbangi dengan peningkatan kualitas bus umum dan pembangunan infrastruktur jalan yang lebih baik. Tanpa dua hal terakhir ini, sepertinya pelarangan penggunaan sepeda motor akan sia-sia. Kita berharap semoga pemerintahan baru Indonesia mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih maju, termasuk di bidang transportasi.

Note: artikel ini pernah dimuat di Citizen Reporter harian Serambi Indonesia, http://aceh.tribunnews.com/2014/09/01/tanpa-sepmor-pun-beijing-macet

0 komentar:

Post a Comment