Friday, 12 September 2014

Nan Dou Ya, Mesjid Tua di Kota Komunis

      Selesai mengunjungi Forbidden City di pusat kota Beijing, kami diajak oleh Ali, guide yang lancar berbahasa Melayu, untuk mengunjungi sebuah mesjid yang sudah berusia lama di kawasan Douban Hutong, Dongcheng, di pusat kota Beijing. Terkaan saya, pasti arsitektur mesjid ini merupakan perpaduan antara seni rancang Islam dan China.
Dugaan saya lagi-lagi meleset. Di mesjid yang memiliki nama lain Beijing Douban Hutong Mosque ini, tidak ada kubah layaknya mesjid-mesjid yang kita temui di Indonesia. Padahal kubah adalah bangunan ‘wajib’ yang menjadi identitas sebuah mesjid—setidaknya begitulah anggapan kita yang tinggal di Indonesia. Hanya ada menara mesjid, itupun cukup kental dengan budaya China. Pembedanya, ada bulan sabit yang tegak menjulang di puncak menara.
Dari depan, mesjid ini tidak jauh beda dengan bangunan lainnya, setidaknya bagi kami yang buta huruf Mandarin yang terukir di pintu gerbang. Letaknya yang terhimpit gedung-gedung nan menjulang semakin menegaskan bahwa tidak ada yang istimewa dari Nan Dou Ya.

Pintu gerbang Nan Dou Ya

Tapi begitu melewati gerbang, saya langsung dilanda rasa takjub. Alasannya, pertama, hampir semua papan petunjuk di dalamnya bertuliskan bahasa China dan Melayu. Di tengah keterasingan lantaran di mana-mana kami hanya menjumpai huruf-huruf Mandarin, kehadiran papan petunjuk berbahasakan Melayu terasa begitu istimewa. Mungkin ini menjadi pertanda bahwa banyak muslim yang berasal dari Malaysia dan Indonesia singgah ke mesjid ini. Sayang, ketika hendak mengonfirmasikan hal ini kepada jamaah yang ada di mesjid, tidak ada dari mereka yang bisa berbahasa Inggris. Kedua, meski tidak dipadukan dengan gaya arsitektur Islam, ternyata seni ukir di beberapa bagian mesjid terlihat cukup menakjubkan. Mulai dari selasar hingga ke bagian langit-langit di dalam mesjid. Hal ini mengingatkan saya pada mesjid raya Baiturrahman di Banda Aceh.

Miringkan  kepala Anda #gagalupload

Arsitektur mesjid nan elegan merupakan perpaduan antara budaya dan alam selain keklasikannya cukup untuk menjelaskan bahwa Nan Dou Ya telah menjadi bagian dari saksi dan bukti sejarah perkembangan Islam di China.
Melewati pintu gerbang, ada sebuah ruangan kecil. Papan petunjuk menjelaskan bahwa itu adalah toko souvenir Islam. Sayangnya, toko itu tutup ketika kami datang.
Yang unik dari mesjid ini adalah terpisahnya tempat wudhu dan shalat antara jamaah laki-laki dan perempuan. Masuk ke dalam, Anda akan disambut oleh papan ucapan selamat datang.

Selamat datang

Jamaah lelaki akan diarahkan ke kanan, sementara jamaah perempuan melaksanakan shalat di sebelah kiri. Memang kebanyakan mesjid di China menggunakan konsep ini. Ini berbeda dengan tempat shalat di Indonesia yang kebanyakan berada di satu tempat dengan jamaah laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh sutrah (pembatas shalat).

Ruang shalat khusus laki-laki

Selain itu, tempat wudhu didesain senyaman mungkin namun sederhana. Jamaah bisa memilih berwudhu dengan berdiri atau duduk. Istimewanya, keran air dirancang sesederhana mungkin sehingga hemat air.

Nyaman dan hemat air

Ada rasa iri ketika melihat desain tempat wudhu seperti ini. Sebab di Indonesia, tak jarang kita jumpai tempat wudhu yang terkesan boros. Sebuah pertanyaan yang melintas di benak saya waktu itu adalah, “meskipun persediaan air sangat banyak, tapi bukankah mubadzir adalah temannya setan?”

Kami bergegas menunaikan shalat Ashar di Nan Dou Ya. Usai shalat, kami menyempatkan diri untuk membeli makanan yang dijual di dalam kompleks. Sudah pasti, setiap makanan yang dijual di situ tidak diragukan lagi kehalalannya. Sebab begitulah aturan yang diterapkan.

Mas Risky dan penjual roti

Kepenatan setelah berjalan kaki selama sekitar dua jam di Forbidden City terbayar sudah oleh beragam hal yang kami jumpai di Nan Dou Ya. Semoga mesjid yang sudah berusia 300 tahun lebih ini mampu tetap bertahan di tengah-tengah kota pusat komunis ini. Amin.

Note: artikel ini pernah dimuat di rubrik Citizen Reporter harian Serambi Indonesia, http://aceh.tribunnews.com/2014/09/06/nan-dou-ya-masjid-tua-di-kota-komunis

0 komentar:

Post a Comment