Selesai mengunjungi Forbidden City di
pusat kota Beijing, kami diajak oleh Ali, guide
yang lancar berbahasa Melayu, untuk mengunjungi sebuah mesjid yang sudah
berusia lama di kawasan Douban Hutong, Dongcheng, di pusat kota Beijing.
Terkaan saya, pasti arsitektur mesjid ini merupakan perpaduan antara seni
rancang Islam dan China.
Dugaan saya lagi-lagi meleset. Di mesjid yang memiliki nama
lain Beijing Douban Hutong Mosque ini, tidak ada kubah layaknya mesjid-mesjid
yang kita temui di Indonesia. Padahal kubah adalah bangunan ‘wajib’ yang
menjadi identitas sebuah mesjid—setidaknya begitulah anggapan kita yang tinggal
di Indonesia. Hanya ada menara mesjid, itupun cukup kental dengan budaya China.
Pembedanya, ada bulan sabit yang tegak menjulang di puncak menara.
Dari depan, mesjid ini tidak jauh beda dengan bangunan
lainnya, setidaknya bagi kami yang buta huruf Mandarin yang terukir di pintu
gerbang. Letaknya yang terhimpit gedung-gedung nan menjulang semakin menegaskan
bahwa tidak ada yang istimewa dari Nan Dou Ya.
![]() |
| Pintu gerbang Nan Dou Ya |
Tapi begitu melewati gerbang,
saya langsung dilanda rasa takjub. Alasannya, pertama, hampir semua papan
petunjuk di dalamnya bertuliskan bahasa China dan Melayu. Di tengah
keterasingan lantaran di mana-mana kami hanya menjumpai huruf-huruf Mandarin,
kehadiran papan petunjuk berbahasakan Melayu terasa begitu istimewa. Mungkin
ini menjadi pertanda bahwa banyak muslim yang berasal dari Malaysia dan
Indonesia singgah ke mesjid ini. Sayang, ketika hendak mengonfirmasikan hal ini
kepada jamaah yang ada di mesjid, tidak ada dari mereka yang bisa berbahasa
Inggris. Kedua, meski tidak dipadukan dengan gaya arsitektur Islam, ternyata
seni ukir di beberapa bagian mesjid terlihat cukup menakjubkan. Mulai dari
selasar hingga ke bagian langit-langit di dalam mesjid. Hal ini mengingatkan
saya pada mesjid raya Baiturrahman di Banda Aceh.
![]() |
| Miringkan kepala Anda #gagalupload |
Arsitektur mesjid nan elegan
merupakan perpaduan antara budaya dan alam selain keklasikannya cukup untuk
menjelaskan bahwa Nan Dou Ya telah menjadi bagian dari saksi dan bukti sejarah
perkembangan Islam di China.
Melewati pintu gerbang, ada sebuah ruangan kecil. Papan
petunjuk menjelaskan bahwa itu adalah toko souvenir Islam. Sayangnya, toko itu
tutup ketika kami datang.
Yang unik dari mesjid ini adalah terpisahnya tempat wudhu
dan shalat antara jamaah laki-laki dan perempuan. Masuk ke dalam, Anda akan disambut
oleh papan ucapan selamat datang.
![]() |
| Selamat datang |
Jamaah lelaki akan diarahkan ke kanan,
sementara jamaah perempuan melaksanakan shalat di sebelah kiri. Memang
kebanyakan mesjid di China menggunakan konsep ini. Ini berbeda dengan tempat
shalat di Indonesia yang kebanyakan berada di satu tempat dengan jamaah
laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh sutrah
(pembatas shalat).
![]() |
| Ruang shalat khusus laki-laki |
Selain itu, tempat wudhu didesain senyaman mungkin namun
sederhana. Jamaah bisa memilih berwudhu dengan berdiri atau duduk. Istimewanya,
keran air dirancang sesederhana mungkin sehingga hemat air.
![]() |
| Nyaman dan hemat air |
Ada rasa iri ketika
melihat desain tempat wudhu seperti ini. Sebab di Indonesia, tak jarang kita
jumpai tempat wudhu yang terkesan boros. Sebuah pertanyaan yang melintas di
benak saya waktu itu adalah, “meskipun persediaan air sangat banyak, tapi
bukankah mubadzir adalah temannya
setan?”
Kami bergegas menunaikan shalat Ashar di Nan Dou Ya. Usai shalat,
kami menyempatkan diri untuk membeli makanan yang dijual di dalam kompleks.
Sudah pasti, setiap makanan yang dijual di situ tidak diragukan lagi
kehalalannya. Sebab begitulah aturan yang diterapkan.
![]() |
| Mas Risky dan penjual roti |
Kepenatan setelah
berjalan kaki selama sekitar dua jam di Forbidden City terbayar sudah oleh beragam
hal yang kami jumpai di Nan Dou Ya. Semoga mesjid yang sudah berusia 300 tahun
lebih ini mampu tetap bertahan di tengah-tengah kota pusat komunis ini. Amin.
Note: artikel ini pernah dimuat di rubrik Citizen Reporter harian Serambi Indonesia, http://aceh.tribunnews.com/2014/09/06/nan-dou-ya-masjid-tua-di-kota-komunis






0 komentar:
Post a Comment