Thursday, 11 September 2014

KTN: Ternyata Tak 'Se-Beijing' yang Kukira (4)

Setiap menyebut nama ibukota negeri komunis itu, yang terbayang di benak saya adalah kota super-metropolitan. Jalanan tertata rapi, bersih dan anti-macet. Gedung-gedung teratur dalam susunan apik. Orang-orang lalu lalang berjaket tebal di musim dingin. Beberapa tempat tertutup salju.

Tapi ternyata kota yang punya nama lain Peking ini memang tak ‘se-beijing’ yang kubayangkan. Jalan memang bersih. Saya tak melihat ada sampah di trotoar. Tapi untuk urusan kepadatan lalu lintas, Beijing juaranya. Super-macet (tulisan tentang kemacetan di Beijing baca di sini).

Kami tiba di bandara internasional Beijing sekitar pukul 7.00 pagi waktu setempat (pukul 8.00 WIB). Setelah mengambil bagasi, pemeriksaan imigrasi dan urusan kebandaraan lainnya (>_<) kami dijemput oleh Mr. Ali sekitar sejam kemudian.

Guide

Baru beberapa menit dari bandara, kami langsung disuguhi upacara penyambutan khas kota besar: macet.

Tujuan perdana kami dari bandara adalah Kedutaan Besar RI. Sayangnya, kami gagal masuk ke dalam tapi sempat mengambil beberapa foto di depannya.
Kedubes RI di China
Gagal di kedubes, kami menuju hotel. Hotel Wuhuan, begitulah namanya. Jelang siang, kami mencari restoran muslim untuk makan siang. Dan inilah tempatnya (mungkin yang bisa baca, silahkan tulis di kolom komentar).

Bismillah...
Menu

Ayo ditempel!

Usai makan siang, kami mengunjungi Beijing International Book Fair. Hasilnya, setelah keliling-keliling, ternyata tidak ada stan Indonesia di sana.

Venue

Salah satu stan

Esoknya, usai sarapan kami singgah sebentar di Yashow Market, sebuah pusat perbelanjaan besar di Beijing. Usai makan siang, kami bergerak ke Forbidden City. Menghabiskan waktu dua jam untuk mengunjungi tempat yang diyakini orang China sebagai penghubung dunia ke surga ini.

Gerbang utama Kota Larangan

Usai di Forbidden City, kami singgah di mesjid Nan Dou Ya (tulisan tentang Nan Dou Ya baca di sini). Rasa penat tentunya terbayar tuntas.

Welcome!

Kami menutup hari dengan makan di restoran padang (untuk urusan rumah makan, urang awak rajanya!).

Luar biasa...

Setelah itu, kami pulang ke hotel dan beristirahat. Esoknya, pagi-pagi sekali kami ke bandara (menghindari macet). Good bye, Beijing!

Benar-benar dua hari yang singkat!

0 komentar:

Post a Comment