Setiap menyebut nama ibukota negeri
komunis itu, yang terbayang di benak saya adalah kota super-metropolitan.
Jalanan tertata rapi, bersih dan anti-macet. Gedung-gedung teratur dalam
susunan apik. Orang-orang lalu lalang berjaket tebal di musim dingin. Beberapa
tempat tertutup salju.
Tapi ternyata kota yang punya nama
lain Peking ini memang tak ‘se-beijing’ yang kubayangkan. Jalan memang bersih. Saya
tak melihat ada sampah di trotoar. Tapi untuk urusan kepadatan lalu lintas,
Beijing juaranya. Super-macet (tulisan tentang kemacetan di Beijing baca di sini).
Kami tiba di bandara internasional
Beijing sekitar pukul 7.00 pagi waktu setempat (pukul 8.00 WIB). Setelah mengambil
bagasi, pemeriksaan imigrasi dan urusan kebandaraan lainnya (>_<) kami
dijemput oleh Mr. Ali sekitar sejam kemudian.
![]() |
| Guide |
Baru beberapa menit dari bandara,
kami langsung disuguhi upacara penyambutan khas kota besar: macet.
Tujuan perdana
kami dari bandara adalah Kedutaan Besar RI. Sayangnya, kami gagal masuk ke
dalam tapi sempat mengambil beberapa foto di depannya.
![]() |
| Kedubes RI di China |
Gagal di kedubes, kami menuju
hotel. Hotel Wuhuan, begitulah namanya. Jelang siang, kami mencari restoran
muslim untuk makan siang. Dan inilah tempatnya (mungkin yang bisa baca,
silahkan tulis di kolom komentar).
![]() |
| Bismillah... |
![]() |
| Menu |
![]() |
| Ayo ditempel! |
Usai makan siang, kami mengunjungi
Beijing International Book Fair. Hasilnya, setelah keliling-keliling, ternyata
tidak ada stan Indonesia di sana.
![]() |
| Venue |
![]() |
| Salah satu stan |
Esoknya, usai sarapan kami singgah
sebentar di Yashow Market, sebuah pusat perbelanjaan besar di Beijing. Usai makan
siang, kami bergerak ke Forbidden City. Menghabiskan waktu dua jam untuk
mengunjungi tempat yang diyakini orang China sebagai penghubung dunia ke surga
ini.
![]() |
| Gerbang utama Kota Larangan |
Usai di Forbidden City, kami
singgah di mesjid Nan Dou Ya (tulisan tentang Nan Dou Ya baca di sini). Rasa penat tentunya terbayar tuntas.
![]() |
| Welcome! |
Kami menutup hari dengan makan di
restoran padang (untuk urusan rumah makan, urang
awak rajanya!).
![]() |
| Luar biasa... |
Setelah itu, kami pulang ke hotel
dan beristirahat. Esoknya, pagi-pagi sekali kami ke bandara (menghindari
macet). Good bye, Beijing!
Benar-benar dua hari yang singkat!










0 komentar:
Post a Comment