Sore hari 25 Agustus, panitia
mengabarkan kami bahwa keberangkatan ke Beijing ditunda hingga tanggal 28. Alasannya,
visa keberangkatan belum selesai pengurusannya. Maka jadilah tiga hari penantian
ini menjadi tiga hari paling panjang bagi kami bertiga. Bukan apa-apa,
masalahnya—terutama saya dan mas Gegge—memiliki masa cuti yang terbatas (Hehe,
masa cuti! Serasa udah jadi pegawai). Mas Gegge yang seorang pengajar di sebuah sekolah di Makassar
awalnya mengambil cuti seminggu saja. Sebab perkiraan awal, kami sudah tiba
kembali di daerah masing-masing paling telat pada hari Sabtu, 30 Agustus. Sedangkan
saya, punya alasan sendiri yang tidak bisa dituliskan di sini (semoga tidak ada
yang penasaran). Dengan penundaan ini, praktis kami harus menambah hari cuti
hingga Senin, 1 September.
Namun, tiga hari yang panjang itu
ternyata membawa berkah bagi saya. Betapa tidak, dua teman penulis saya
ternyata sering berdiskusi ringan di setiap waktu makan.
![]() |
| Saya hanya bisa menyimak. |
Obrolan mereka saya
simak dengan teliti hingga menambah pengetahuan saya tentang dunia kepenulisan.
Belum lagi curhatnya Mas Gegge di kamar. Ini ilmu gratis yang susah didapatkan
di tempat lain.
Selain itu, waktu luang juga kami
manfaatkan untuk jalan-jalan di TMII. Mas Gegge yang ingin sekali ke Padang
begitu girang ketika berhasil menemukan anjungan Sumatera Barat di TMII. Ia berfoto
sepuasnya di sana.
![]() |
| Mas Gegge di depan rumah gadang |
Saya, tentu saja, menyempatkan diri berkunjung ke anjungan
Aceh (by the way, di palang namanya
masih tertulis “Nanggroe Aceh Darussalam”).
![]() |
| Rumoh Cut Nyak Dhien |
![]() |
| Seulawah 001, terpisah jauh dari pasangannya. |
Selain berkunjung ke anjungan, kami
juga mencoba melihat-lihat TMII dari atas. Ya, naik kereta gantung. Ini sebenarnya
ide mas Gegge yang secara mengejutkan fobia ketinggian (fobia kok malah nantang, ya?). Walhasil, istighfar
meluncur beberapa kali dari mulutnya ketika kereta gantung kami
bergoyang-goyang di udara.
| Penampakan "Sumatera" dari atas |
Oh iya, mbak Ruwi ke mana? Penulis yang
satu ini ternyata sibuk menjelajahi Jakarta. Ke penerbit, jumpa editor dan
sebagainya. Sepertinya beliau sedang menyiapkan buku baru untuk diterbitkan
segera. Luar biasa!
Dan setelah tiga hari yang panjang
itu, kabar baik datang juga ke wisma. Selepas Maghrib, 28 Agustus 2014, kami
berangkat ke bandara. Good bye, ibukota!




0 komentar:
Post a Comment