Monday, 8 September 2014

KTN: Tiga Hari yang Panjang (3)

Sore hari 25 Agustus, panitia mengabarkan kami bahwa keberangkatan ke Beijing ditunda hingga tanggal 28. Alasannya, visa keberangkatan belum selesai pengurusannya. Maka jadilah tiga hari penantian ini menjadi tiga hari paling panjang bagi kami bertiga. Bukan apa-apa, masalahnya—terutama saya dan mas Gegge—memiliki masa cuti yang terbatas (Hehe, masa cuti! Serasa udah jadi pegawai). Mas Gegge yang seorang pengajar di sebuah sekolah di Makassar awalnya mengambil cuti seminggu saja. Sebab perkiraan awal, kami sudah tiba kembali di daerah masing-masing paling telat pada hari Sabtu, 30 Agustus. Sedangkan saya, punya alasan sendiri yang tidak bisa dituliskan di sini (semoga tidak ada yang penasaran). Dengan penundaan ini, praktis kami harus menambah hari cuti hingga Senin, 1 September.

Namun, tiga hari yang panjang itu ternyata membawa berkah bagi saya. Betapa tidak, dua teman penulis saya ternyata sering berdiskusi ringan di setiap waktu makan.

Saya hanya bisa menyimak.

Obrolan mereka saya simak dengan teliti hingga menambah pengetahuan saya tentang dunia kepenulisan. Belum lagi curhatnya Mas Gegge di kamar. Ini ilmu gratis yang susah didapatkan di tempat lain.

Selain itu, waktu luang juga kami manfaatkan untuk jalan-jalan di TMII. Mas Gegge yang ingin sekali ke Padang begitu girang ketika berhasil menemukan anjungan Sumatera Barat di TMII. Ia berfoto sepuasnya di sana.

Mas Gegge di depan rumah gadang

Saya, tentu saja, menyempatkan diri berkunjung ke anjungan Aceh (by the way, di palang namanya masih tertulis “Nanggroe Aceh Darussalam”).

Rumoh Cut Nyak Dhien

Seulawah 001, terpisah jauh dari pasangannya.

Selain berkunjung ke anjungan, kami juga mencoba melihat-lihat TMII dari atas. Ya, naik kereta gantung. Ini sebenarnya ide mas Gegge yang secara mengejutkan fobia ketinggian (fobia kok malah nantang, ya?). Walhasil, istighfar meluncur beberapa kali dari mulutnya ketika kereta gantung kami bergoyang-goyang di udara.

Penampakan "Sumatera" dari atas

Oh iya, mbak Ruwi ke mana? Penulis yang satu ini ternyata sibuk menjelajahi Jakarta. Ke penerbit, jumpa editor dan sebagainya. Sepertinya beliau sedang menyiapkan buku baru untuk diterbitkan segera. Luar biasa!


Dan setelah tiga hari yang panjang itu, kabar baik datang juga ke wisma. Selepas Maghrib, 28 Agustus 2014, kami berangkat ke bandara. Good bye, ibukota!

0 komentar:

Post a Comment