Saudaraku,
tidak ada yang nikmat untuk dinikmati selain menikmati proses. Mengapa?
Ternyata yang bernilai di sisi Allah itu hanyalah proses, bukan hasil. Bukankah
Allah hanya menugaskan kita untuk memasang niat yang benar, lalu berikhtiar
dengan segenap kemampuan? Bukankah urusan “hasil” sepenuhnya berada di
tanganNya?
Terkadang,
kita memiliki hasrat yang menggebu-gebu untuk memiliki sebuah gelar: Sarjana.
Lalu, dengan segenap kemampuan kita mulai berjuang untuk mendapatkannya.
Tetapi, apa yang terjadi setelah kita memperoleh gelar sarjana? Rasa puas pasti
hinggap sebentar di hati kita, tetapi saya yakin sekali lambat laun kita semua
akan menyadari bahwa proses untuk mendapatkan gelar sarjana itu terasa lebih
nikmat dibandingkan ketika kita telah mendapatkan gelar itu sendiri. Maka ketika
kita masih berstatus mahasiswa ini, ada baiknya kita mereset kembali niat kita dan berikhtiar sesuai dengan jalan yang
diizinkan Allah. Jika kita kuliah hanya sekedar untuk mendapatkan gelar,
bagaimana kalau ternyata selesai kuliah, akan diwisuda, tiba-tiba meninggal?
Toh, kita tidak tahu kapan nafas kita yang terakhir kali kita hirup, bukan? Nah, apalagi kalau ternyata kita mendapatkan gelar itu dengan cara-cara
yang tidak benar, nyontek misalnya? Na’udzubillah.
Saudaraku, suatu ketika, di sebuah acara televisi favorit saya, seorang
motivator pernah ditanyakan oleh seorang audiens.
Pertanyaannya kira-kira begini,
“Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi seperti Bapak yang sekarang ini,
berdiri di depan orang banyak, memberikan motivasi yang mampu menginspirasi
banyak orang?”
Sang motivator lalu menuliskan dua kalimat: PROSES dan JADI. Lalu, ia
melingkari kata PROSES, sejenak kemudian ia berkata,
“Tiru PROSESnya, bukan JADInya. Anda ingin seperti saya berarti Anda siap
melakukan berbagai usaha jatuh bangun yang telah saya alami sejak dulu,”
jawabnya sembari tersenyum.
Ya, tepat sekali. PROSES. Satu hal yang harus kita yakini adalah konsep
sebab akibat yang adil ini, bahwa HASIL yang baik itu selalu diperoleh setelah
melalui PROSES yang baik pula. Begitu pula sebaliknya, jika PROSESnya merupakan
“jalan pintas” atau jalan “menghalalkan segala cara”, maka HASILnya juga akan
sepintas didapat lalu berlalu begitu saja. Maka, PROSES inilah sebenarnya yang
harus kita jalani dengan hati-hati lalu kita nikmati dengan sepenuh hati. Jalani
dengan hati-hati berarti kita harus melakukan proses yang “sesuai prosedur”.
Tidak ada proses contek-menyontek di ujian perkuliahan, sikut-menyikut dalam
perebutan jabatan, suap-menyuap dalam urusan pemenangan proyek, dan lain
sebagainya. Semuanya kita lakukan dengan penuh kehati-hatian. Maka kemudian, nikmatilah
ia dengan sepenuh hati ketika kita sudah berusaha untuk menjalaninya dengan
benar.
Saudaraku, tentu
saja menikmati proses itu tidak semudah melewati jalan tol yang sedang kosong
melompong. Proses tentu saja merupakan sebuah jalan
panjang dan terjal yang mengharuskan kita jatuh-bangun. Seringkali, ketika kita
terjatuh di pertengahan jalan, banyak tawaran-tawaran menggiurkan agar kita
melupakan nilai-nilai mulia yang masih kita pegang erat. Tapi, memang inilah
yang harus kita camkan baik-baik, bahwa yang termahal itu adalah nilai-nilai
yang kita jaga dalam proses. Kalau kuliah hanya untuk memudahkan kita untuk mencari
uang, tok uang, pertanyaannya adalah: bukankah pencopet, perampok, dan
penjambret juga memikirkan uang? Kalau hanya untuk mencari isi perut, kata Imam
Ali, "Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak
akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya".
Jadi, marilah kita mereset kembali niat kuliah kita. Pasang niat yang tulus
dalam hati bahwa kuliah hanyalah salah satu cara untuk menambah nilai
kemanfaatan hidup kita. Kuliah hanyalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu,
lalu menyebarkannya kepada yang lain. Begitu juga dengan mencari nafkah, niat
kita hanyalah agar bisa mensejahterakan orang lain. Bukankah
sebaik-baik manusia itu adalah yang paling banyak manfaatnya kepada orang lain?
Maka,
saudaraku, janganlah terpukau dengan hasil. Bisa saja Anda memperoleh uang 1
miliar dengan cara yang tidak halal dalam waktu yang singkat, tapi tiba-tiba
Anda kecopetan atau tiba-tiba jatuh sakit yang menghabiskan biaya pengobatan
dengan jumlah yang sama. Atau, Anda mendapat
rumah hasil “penggelapan dana” tertentu, namun tiba-tiba ada topan tornado yang
menghantam rumah Anda. Atau juga, Anda selalu mendapat IPK 4,00 di tiap
semester hasil nyontek, tapi begitu
tamat Anda menjadi pengangguran abadi. Siapa tahu, Kawan? Maka, berhati-hatilah
menjagi nilai-nilai selama menjalani proses. IPK itu tidak akan dibawa mati,
tapi Insya Allah cara kita mendapatkan IPK itu kelak akan ditanyai di
Pengadilan Akhirat.
Terakhir,
yakinlah bahwa rezeki itu bukan apa yang telah kita dapatkan tapi apa yang
dengan ikhlas telah kita lakukan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
Daftar
Pustaka:
Manajemen
Qalbu KH. Abdullah Gymnastiar
0 komentar:
Post a Comment