Kami tiba di Jakarta sekitar pukul
16.00 WIB. Saya dan Mas Gegge segera mencari mushalla untuk menunaikan shalat
Dhuhur dan Ashar. Barang-barang kami titipkan ke Mbak Ruwi. Usai shalat, Mas
Gegge dan Mbak Ruwi pamit. Mereka satu tujuan, Yogyakarta. Adapun panitia dan
beberapa staf kementerian yang menemani kami sudah lebih dulu berangkat. Tinggallah
saya sendiri di bandara.
![]() |
| Para pemenang KTN 2014 (Note: gambar tidak ada hubungan dengan cerita) |
Jam masih menunjukkan pukul lima
sore sementara pesawat saya baru akan berangkat pukul delapan malam (ini kata
panitia). Dalam hati saya sempat kesal sama panitia (maaf ya) yang dengan
senang hati memesan pesawat terakhir untuk saya. “Ini untuk antisipasi, mana
tahu pesawat kita yang dari Beijing nanti delay.
Kan bisa hangus tiket pulang ke Aceh,” begitu dalih mereka.
Iseng, saya cek email masuk. Tadi memang
saya minta ke panitia supaya mengirimkan e-ticket
ke email saya. Di situ tertulis:
31 AUG 19
45 JAKARTA
22
10 KUALA NAMU
01 SEP 09
40 KUALA NAMU
10
45 BANDA ACEH
Rupanya ini
maksud transit di Medan? Transit semalaman. Nginap
di mana nantinya saya? Selaku ureung
gampong, saya gelisah juga. Mau komplain langsung, panitianya sudah tidak
ada di tempat. Akhirnya saya hubungi via ponsel.
“Mas, itu
benar tiket pesawat saya?”
“Iya, Mas.”
“Jadi saya
baru tiba di Aceh besok pagi?”
“Iya, Mas. Soalnya
yang dari Jakarta ke Medan ‘kan pesawat terakhir.”
Nah, ini dia
alasannya saya tidak setuju dipesan pesawat terakhir. Transit di Kualanamu. Tapi
sudahlah, saya terima dengan lapang dada. Maunya
kalau harus nginap di Medan, kan di-booking hotelnya juga! :D
Masih terlunta-lunta
sendirian di ibukota, saya dihadapkan lagi pada kenyataan akan terlunta-lunta
di kota provinsi tetangga. Pukul 19.15, saya check-in. Tiga puluh menit kemudian, saya sudah di pesawat.
Pengeras suara di pesawat berbunyi, “Penumpang yang terhormat, kami mohon maaf
akan menunda keberangkatan selama dua puluh menit disebabkan bla bla bla.” Seorang
ibu yang duduk di samping saya mengeluh, “Yaaa, 20 menit.” Saya bercakap ringan
dengan si ibu. Beliau orang Medan asli. Dalam hati, saya berkata, “Tenang, Bu. Ibu
menunggu pulang ke Medan tidak akan selama saya menunggu pulang ke Aceh.”
Tiba di Kuala
Namu, saya langsung mencari mushalla. Hanya itu yang bisa dijadikan alternatif
penginapan. Jadilah saya semalaman sebagai ahlulmushalla.
Usai Shubuh,
tilawah dan alma’tsurat, saya sempatkan menulis beberapa artikel. Kabar baik
yang sedikit menghibur adalah dimuatnya tulisan tentang kemacetan di Beijing
pada harian Serambi Indonesia, halaman pertama. Tulisan itu saya kirim dua hari
sebelumnya, sewaktu masih di Beijing. Seketika, itu langsung jadi trending topic, tapi khusus di akun saya
:). Kekosongan waktu menunggu keberangkatan pesawat terisi karena saya membalas
satu per satu ucapan yang datang.
Dan akhirnya,
pukul 09.10 saya segera check-in. Tepat
pukul 10.45, saya tiba di Bandara Iskandar Muda. Alhamdulillah.

Keren!!!!!
ReplyDeleteCoollllll!!!!!!!!!!!!
ReplyDeleteBeijing, uhh!!!
ReplyDelete