Monday, 17 February 2014

Jika Perbedaan Adalah Rahmat



Jika perbedaan adalah rahmat, lalu apa yang sebenarnya kita pertengkarkan?
Hingga urat-urat leher kita menegang
Dan kebencian memuncak, amarah mengangkara murka

Jika perbedaan adalah rahmat, mengapa saling sinis dan menyalahkan?
Mengapa menuduh yang lain riya’, mengklaim diri suci dari hitam?
Membenarkan jalan sendiri, memvonis ini-itu statusnya haram?

Jika perbedaan adalah rahmat, maka siapa yang selayaknya menjadi kambing hitam?
Allahkah, Zat yang telah menciptakan perbedaan?
Atau kita yang terlalu naïf memaknai anugerah Pemilik alam?

Jika perbedaan adalah rahmat,  lalu kenapa terlalu sibuk memaksanya tersamakan?
Padahal ana dan antum sama-sama faham,
Bahkan Allah sekalipun tidak pernah menciptakan
Sepasang kembar yang sama tingkah dan tampang

Jika perbedaan adalah rahmat, lantas mengapa saja kita tak berdampingan?
Saling melengkapi dan menutupi kekurangan
Semangat-menyemangati menuju kejayaan

Jika perbedaan adalah rahmat, bukankah lebih baik kita selaraskan hal-hal yang bersesuaian?
Percaya setiap peluh-darah ialah pengorbanan
Percaya setiap niat tulus kelak terbalaskan
Percaya cahaya Allah takkan pernah padam
Percaya, Ia sebaik-baik pembuat makar
Dan tentu saja,
Diiringi kerja nyata yang berbuah manfaat
Dibarengi aksi ikhlas yang menyirnai mudharat
Bagi izzah Islam, bagi harga diri ummat

Maka jika perbedaan adalah rahmat, nikmati saja sebagai bentuk syukur kepada Tuhan
Jika perbedaan adalah rahmat, syukuri saja sebagai bentuk nikmat dari Tuhan
Bukankah hidup lebih indah demikian?

WaLlahu a’lam.


Pojok Kamar, 17 Februari 2014

0 komentar:

Post a Comment