Jika perbedaan adalah rahmat, lalu apa yang sebenarnya kita pertengkarkan?
Hingga
urat-urat leher kita menegang
Dan kebencian memuncak, amarah mengangkara murka
Jika perbedaan adalah rahmat, mengapa saling sinis dan menyalahkan?
Mengapa menuduh yang lain riya’, mengklaim diri suci dari hitam?
Membenarkan
jalan sendiri, memvonis ini-itu statusnya haram?
Jika
perbedaan adalah rahmat, maka siapa yang selayaknya menjadi kambing hitam?
Allahkah,
Zat yang telah menciptakan perbedaan?
Atau kita
yang terlalu naïf memaknai anugerah Pemilik alam?
Jika
perbedaan adalah rahmat, lalu kenapa
terlalu sibuk memaksanya tersamakan?
Padahal ana dan antum sama-sama faham,
Bahkan Allah sekalipun tidak pernah menciptakan
Sepasang kembar yang sama tingkah dan tampang
Jika perbedaan adalah rahmat, lantas mengapa saja kita tak berdampingan?
Saling melengkapi dan menutupi kekurangan
Semangat-menyemangati menuju kejayaan
Jika perbedaan adalah rahmat, bukankah lebih baik kita selaraskan hal-hal
yang bersesuaian?
Percaya setiap peluh-darah ialah pengorbanan
Percaya
setiap niat tulus kelak terbalaskan
Percaya cahaya Allah takkan pernah padam
Percaya, Ia
sebaik-baik pembuat makar
Dan tentu saja,
Diiringi kerja nyata yang berbuah manfaat
Dibarengi aksi
ikhlas yang menyirnai mudharat
Bagi izzah
Islam, bagi harga diri ummat
Maka jika
perbedaan adalah rahmat, nikmati saja sebagai bentuk syukur kepada Tuhan
Jika
perbedaan adalah rahmat, syukuri saja sebagai bentuk nikmat dari Tuhan
Bukankah
hidup lebih indah demikian?
WaLlahu
a’lam.
Pojok Kamar,
17 Februari 2014
0 komentar:
Post a Comment