Saturday, 13 September 2014

Norman Kamaru, Tukang Bubur dan Pelajarannya

Beberapa hari yang lalu, kita dihebohkan dengan pemberitaan tentang Norman Kamaru yang ternyata kini harus banting setir berjualan bubur. Norman adalah mantan polisi berpangkat Brigader Satu (Briptu) di Gorontalo. Beberapa waktu yang lalu, ia sempat mendadak popular setelah meng-upload goyang Chayya-chayya ke Youtube. Selanjutnya, kita tahu, ia memilih mengundurkan diri dari kepolisian dan mencoba meniti karir di dunia hiburan. Banyak yang mencemooh keputusannya waktu itu. Namun karirnya memang semakin melejit, meski hanya sesaat. Sebab beberapa waktu kemudian popularitasnya meredup dan hilang dari belantara entertainment nusantara.

Norman Kamaru, banting setir jadi tukang bubur

Setelah itu, orang-orang yang mencemoohnya kian merasa benar. Komentar-komentar yang bermunculan adalah “Benar kan, itu keputusan yang salah!” dan sejenisnya. Dan setelah berita berjualan bubur kemarin muncul, mereka kian di atas angin. Mungkin kamu salah satu yang berada di pihak ini.

Tapi tunggu dulu, mari kita lihat pengakuan Norman yang saya kutip dari tribunnews.com berikut.

"Alhamdulillah kalau dihitung-hitung acak per hari dapat Rp500 ribu dikali 30 hari. Itu contoh saja," kata Norman Kamaru di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis 11 September 2014 malam.

Nah! Berarti dalam sebulan ia bisa mendapat 15 juta. Bandingkan dengan gajinya di kepolisian yang hanya sekitar 1,8 jutaan! Lalu kenapa begitu cepat memvonis ia sudah salah memutuskan pilihan? Mari kita lihat pengakuan Norman selanjutnya.

Lebih lanjut, Norman mengaku menjalani profesi barunya karena sesuai dengan hobi dia selama ini, memasak. "(Membuka kafe kecil masakan Manado) Sama istri, yang masak saya sendiri. Memang sebelum jadi polisi sudah bisa masak," tandasnya.

Jadi? Sekarang ia telah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya. Sejarah menunjukkan bahwa pekerjaan yang digeluti berdasarkan hobi akan bertahan lebih lama daripada yang tidak berdasarkan pada hobi.

Tapi bukankah polisi terlihat lebih keren daripada seorang penjual bubur? Siapa bilang? Bukankah tukang bubur yang bisa naik haji terlihat lebih keren daripada seorang polisi yang naik haji?

Norman sekarang memang hanya menjadi pedagang, atau penjual bubur tepatnya. Tapi yang jelas ia sedang tidak ‘mengemis’ pada negara. Ia punya usaha sendiri. Itu lebih baik, bukan?


Artikel ini hanya berusaha melihat sudut positif dari ‘banting setir’-nya Norman Kamaru. Semoga tercerahkan.

4 comments: