Sunday, 14 September 2014

Zun-Nun dan Cincin Kotornya

Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan mengajukan pertanyaan, “Guru, sungguh saya tidak paham dengan penampilan guru. Di saat orang-orang di zaman ini begitu memperhatikan penampilan dengan mengenakan pakaian dan perhiasan yang mewah, guru malah mengenakan pakaian yang sederhana. Apa maksudnya, Guru?”

Zun-Nun tersenyum mendengar hal itu. “Anak muda, saya akan menjawab pertanyaanmu. Tapi sebelumnya, ambillah cincin ini lalu juallah ke pedagang pasar dengan harga sekeping emas,” Zun-Nun melepaskan cincin dari jari manisnya dan menyerahkannya kepada si pemuda.

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing.

Melihat cincin yang kotor itu, si pemuda ragu. “Mana mungkin akan ada orang yang mau membeli cincin ini seharga sekeping emas, Guru?”

“Lakukan saja, engkau akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu nanti.”

Sang pemuda mengambil cincin dan berangkat ke pasar. Di pasar, ia menawarkannya kepada siapa saja. Tapi seperti yang ia pikirkan, tidak ada satupun pedagang di pasar yang mau membeli cincin itu. Penjual ikan, pedagang sayur-sayuran, bahkan hingga tukang loakpun tak mau membelinya dengan harga sekeping emas. Merasa lelah, si pemuda kembali lagi ke Zun-Nun.

“Guru, tidak ada satupun orang di pasar yang mau membeli cincin ini seharga sekeping emas.”

Zun-Nun tersenyum lalu berkata, “Sekarang pergilah ke toko emas di belakang jalan ini. Tawarkan kepada dia untuk membeli cincin ini dan jangan sebutkan harga permintaanmu.”

Si pemuda segera menjalankan perintah Zun-Nun. Ia bergegas ke toko emas sesuai arahan Zun-Nun. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan wajah yang terlihat takjub.

“Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu harga cincin itu. Pedagang emas tadi mengatakan bahwa harga cincin ini lebih dari seribu keping emas!”


“Anak muda, itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi. Emas yang ada di dalam tidak bisa dilihat berdasarkan tampilan luarnya saja. Perlu keahlian khusus untuk bisa melihatnya. Para pedagang di pasar tidak paham akan hal ini, namun pedagang emas tentu sudah sangat mafhum. Anak muda, begitupun manusia. Tiap-tiap orang punya penilaian masing-masing terhadap orang-orang yang ditemuinya. Ada orang yang menilai berdasarkan tampilan luarnya saja, namun ada juga yang menilai karena ia mampu melihat ke kedalaman jiwa. Tampilan luar seringkali menipu. Adakalanya yang disangka emas ternyata loyang dan yang disangka loyang ternyata emas.”

0 komentar:

Post a Comment