Showing posts with label Humor. Show all posts
Showing posts with label Humor. Show all posts

Friday, 30 January 2015

Gaptek dan Kepinteran


Amat dan Adi sedang berada di sebuah pameran komputer. Mereka mengobrol seputar dunia komputer di situ.
Amat : “Di, mau nanya dong? ‘ENTER’ itu maksudnya apa?”
Adi dengan sigap menjawab: “Kayaknya untuk mempercepat program deh, Mat!”
Amat: “Mempercepat gimana maksudnya Di?”
Adi : “Ya biar cepat kerja komputernya Mat. Kalau tulisannya ENTAR, kan jadinya lamaaa!!”
Amat: “Ohh... tanya lagi ya Di. Ini saya sudah masuk ke Internet Explorer. Kok saya ketik facebook.com, nggak keluar apa-apa yah?”
Adi : “Lah, di depannya udah ngetik www belum Mat?”
Amat: “Memangnya harus ya Di, sebenarnya www itu apa?”
Adi : “Eeeehhmmmm… Apa yah? Pokoknya kalo mau masuk ke website memang harus ketik www itu Mat, kode permisi gitu lhooh. kayak nya kalau ngak salah singkatan dari Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.”
Amat: "Oh gituu ajiiibb juga ya Di…. Hehe."

Baru Kenal Komputer


Ucup baru saja belajar mengenal dunia perkomputeran. Ada-ada aja kejadian yang dia alami.
Suatu siang Ucup menelepon toko tempat dia baru saja membeli printer barunya, “Halo, selamat siang, ini Ucup. Saya tidak bisa ngeprint nih Pak. Setiap saat saya coba klik ‘print’ di monitor saya malah keluar tulisan ‘Can’t Find Printer’ (printer tidak ditemukan). Padahal printernya udah saya taruh persis di depan monitor lho, Pak!”
Pada hari yang lain Ucup ketakutan sebab dia menghilangkan sesuatu dari monitornya, dan menelepon sebuah toko komputer, “Wah ada masalah gawat nih, Pak. Temanku baru saja memasang ‘Screen Saver’ di monitorku. Tapi setiap saya menggerakkan mouse, ‘screen savernya’ hilang!”

Harap Ditutup Dengan Rapat



Seorang nenek mengundang Pak RT, Pak RW dan Pak Lurah serta beberapa warga untuk rapat di rumahnya. Setelah semuanya berkumpul, sang nenek pun angkat bicara. "Pak Lurah, Pak RW, Pak RT dan segenap peserta rapat yang saya hormati, maaf saya telah merepotkan bapak-bapak sekalian. Sebenarnya maksud saya adalah sekedar untuk menutup botol obat saya ini, dan untuk tujuan tersebut saya mengundang bapak-bapak semua untuk mengadakan rapat." Mendengar pernyataan nenek ini, segenap warga yang hadir bingung. Lalu dengan nada setengah protes, mereka mencak-mencak, "Nenek apa-apaan ini, mau menutup botol obat saja pakai mengundang rapat segala!" Dengan santainya, sang nenek berujar, "Soalnya pada label botol obat ini tercantum tulisan: "BOTOL HARAP DITUTUP DENGAN RAPAT".

Thursday, 29 January 2015

Rumitnya Bahasa Inggris, Sederhananya Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia lebih simpel daripada bahasa Inggris

Tahu nggak kenapa orang bule gampang banget belajar bahasa Indonesia? Karena bahasa Indonesia lebih simpel dibanding bahasa Inggris. Mau buktinya? Nih beberapa, check it out. English: "Would you please care to elaborate on that statement?"
Indonesian: "MAKSUD LOH?!" English: "The meeting will start at 9:15 AM. Please be there 15 minutes beforehand."
Indonesian: "Jangan Telat Yee!!!" English: "I definitely won't make it. You guys go and have fun without me." 
Indonesian: "Ntar gue nyusul" English: "Your statement is already known by everybody else". 

Indonesian: "Basi Loh " English: "I couldn't see the necessity of this conversation".
Indonesian: "Ga Penting Boo ..." English: "I couldn't think of any idea of where to go and what to do".
Indonesian: "Mati Gaya neh". English: "I need to tell u something, unfortunately the validity still needs to be confirmed"
Indonesian: "Eh Tau Ga Sih Lo...... (ngegosip) " English: "I couldn't imagine what else could have happened".
Indonesian: "Buset dah...!!! English: "The conclusion which is not accepted".
Indonesian: "Cape Deh!!" English: "Pardon me."
Indonesian; "HAAAHH...???" English: "I think you should not act in such an improper way".
Indonesian: "Pliiisss Dech..." English: "I think it would be better if we don't see each other again..."
Indonesian: "LOE, GUE, END !!!" English: "Thank God... This moment and circumstances mean so much to me and I should be grateful...."
Indonesian: "Alhamdulillah yaah... Sesuatu banget..." English: "Oh my God... This is very surprising to me, I thought it's gonna be like that..... "
Indonesian: "Trus gue harus bilang "wow" gituu.." English: "Don't lie to me, let God be our witness for that....."
Indonesian: "Sumpeee loo!!!" English: "It's really disappointing to know how you treat me like this after all what I've done for you.."
Indonesian: "Sakitnya tuh disini."

Terbukti 'kan, kalau bahasa Indonesia jauh lebih simpel daripada bahasa Inggris?

Wednesday, 25 December 2013

Iblis dan Fir'aun


Suatu hari, Iblis la'natuLlah 'alaihi ketemu Fir'aun la'natuLlah 'alaihi (sodaraan nih, gelarnya sama). Si Iblis berkata, "Bang, apa rencanamu selanjutnya?".
Fir'aun terkejut. "Lho, kok kamu panggil 'bang' ke saya, Blis?"
"Lha iya. Mungkin saya lebih tua kalau dari segi umur, tapi dari segi maksiat, ente lebih senior dari saya. Makanya saya panggil 'bang'."
Fir'aun masih belum paham maksud si Iblis. "Maksudnya?"
"Saya paling banter cuma membangkang sama Allah ketika diperintah bersujud ke Adam.
Lha, ente? Malah ngaku-ngaku jadi Tuhan!" kata si Iblis sembari berlalu.

Tuesday, 10 December 2013

Pesan Bagi Para Hakim


Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh su­per lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab", la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.

Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sul­tan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka Sul­tan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.

Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.

Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari ba­tang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapak­nya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia me­ngajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.

Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.

"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.

"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.

"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."

"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat ke­lakuan Abu Nawas.

"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sul­tan?" kata wazir

"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu Nawas.

"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.

"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada raja­mu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh se­mua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit ista­na. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.

"Ya Baginda, tahukah Anda....?"

"Apa Abu Nawas...?"

"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"

"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"

"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"

Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.

"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"

"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?"

"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"

"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"

"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima ha­diah dari Baginda."

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.

Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.

Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.

"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?"

Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pu­kulan itu."

"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" tanya Baginda.

"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."

"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.

"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.

"Tapi        hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."

"Hahahahaha        IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!"

"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok ham­ba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."

Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.

Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengada­kan rapat dengan para menterinya.

"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?"

Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.

"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."

"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja."

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.

Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi ma­ka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah        aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja."

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:

Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku."

Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"

"Benar Bapak!"

"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."

"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"

"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"

"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."

Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."

Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.


Sumber: Buku Abu Nawas, Sang Penggeli Hati, karangan MB. Rahimsyah