Suatu hari ba'da ashar, di sebuah mesjid yang belum setengah rampung renovasinya, seorang bapak menyengajai (sepertinya) duduk di samping seorang pemuda yang sedang khusyu' mentilawahi ayat demi ayat Al-Qur'an di dekat tiang mesjid. Karena si bapak tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menyapanya --terlihat dari mulutnya yang komat-kamit berzikir-- si pemuda memilih untuk terus tilawah. Ia ingat ada beberapa lembar lagi yang harus dibacanya mengingat deadline #ODOJ-nya adalah pukul enam sore. Tak lama kemudian, seorang pemuda yang kelihatannya lebih muda darinya mendatangi si bapak, menyalaminya, lalu bersila di depannya. Keduanya lalu larut dalam pembicaraan seputar pembinaan aqidah dan akhlak ummat. Sesekali si bapak menyindir-nyindir sebuah partai Islam yang sedang naik daun sekarang. Katanya, tidak ada yang bisa diharapkan dari dunia politik. Si pemuda yang sedang tilawah merasa agak terganggu namun tetap melanjutkan bacaannya dengan suara yang agak lebih keras. Tapi tetap saja suara kedua orang di sampingnya terdengar jelas.
Di sela-sela tilawah, ia mendengar si bapak berujar, "Kalau sekedar membaca seperti ini, tidak bermanfaat. Kita harus mengamalkannya dengan menyampaikan isi Al-Qur'an kepada orang lain." Anak muda di depannya mengangguk-angguk. Lalu si bapak mengajak anak muda itu untuk 'dakwah' door to door. Pahamlah si pemuda yang tilawah bahwa bapak ini adalah bagian dari sebuah harakah berinisial JT.
Pembicaraan mereka terus berlanjut. Si pemuda yang sudah selesai tilawah menutup mushafnya. Belum sempat ia menyapa kedua orang di sampingnya, si bapak langsung bertanya, "Adik ini dari mana?".
Si pemuda melempar senyum, lalu menjawab, "Saya dari Aceh ________", ia menyebut nama sebuah kabupaten di Aceh. Si bapak menanyakan alamatnya di Banda Aceh dan si pemuda menjawabnya lagi.
Pembicaraan berlanjut. Panjang lebar hingga anak muda di depan si bapak bertanya, "Tapi bukankah tujuan dakwah kita adalah khilafah, Ustadz?"
Si bapak terdiam sejenak lalu menjawab, "Iya, itu tujuan kita. Tapi itu akan terwujud jika aqidah dan akhlak ummat sudah bagus. Tanpa itu, mustahil kita bisa mewujudkan khilafah."
Lihatlah Aceh yang ditawari otonomi untuk melaksanakan syariat Islam. Sejauh ini, tidak ada perkembangan yang berarti. Kenapa? Karena pemimpin dan masyarakat belum mengerti seberapa penting syariat Islam itu bagi mereka. Maka tugas kitalah untuk memberi pemahaman itu.
Si pemuda yang baru nimbrung dan lebih sering menjadi pendengar terlihat seperti menemukan sesuatu. Raut wajahnya mencerah, kepalanya terangguk-angguk perlahan. Lalu pikirannya menerawang. Ia menemukan dua hal dari pembicaraan sore itu.
Pertama, semua harakah ini bertujuan satu: Khilafah. Lalu kenapa mesti gontok-gontokan dan menyalahkan harakah lain? Bukankah berjalan seiringan penuh mesra akan membuat Yahudi gentar?
Kedua, khilafah hanyalah sebuah sistem yang ditawarkan Islam. Artinya, sistem hanya akan berjalan dengan baik apabila yang terlibat dalam sistem adalah orang-orang yang sudah baik (aqidah dan akhlaknya).
Mari memperbaiki!
0 komentar:
Post a Comment