Friday, 31 January 2014

Haruskah Mahasiswa Menyontek?



Menyontek adalah hal yang lumrah dilakukan oleh mahasiswa biasa, tapi merupakan tabu bagi seorang penuntut ilmu sejati. Mengapa? Karena seorang penuntut ilmu sejati sadar betul bahwa jalan menuntut ilmu tak jauh beda dengan jalannya para mujahid, orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jalan itu adalah jalan suci yang tak boleh dicurangi dan dinodai. Menyontek adalah salah satu langkah termudah untuk mengotori kesuciannya.

Dulu sebelum tertarbiyah, saya juga mahasiswa yang doyan menyontek. Bukan karena tidak bisa menjawab sama sekali, tetapi hanya ingin sekedar memastikan jawaban teman di sebelah sama persis dengan jawaban saya. Itu akan menjadi penguat bagi saya bahwa  jawaban saya benar. Tapi saya juga tidak dapat menyangkal bahwa di lubuk hati sana, ada rasa bersalah yang muncul seketika. Saya merasa telah mencurangi dosen yang selama ini mengajar sepenuh hati. Saya merasa telah mencurangi orang tua yang selama ini mati-matian membiayai kuliah. Saya merasa telah mencurangi teman-teman yang tidak bisa namun memilih untuk percaya dengan jawaban mereka sendiri, tanpa harus melirik kiri kanan. Lalu rasa bersalah itu kian membesar. Saya merasa telah menodai nama baik kampus ini, tempat yang katanya akan melahirkan intelek-intelek nan berkualitas. Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika nantinya saya akan mengenakan baju toga. Para wisudawan yang lulus cum laude  dipanggil ke depan. Saya termasuk salah satu di antaranya. Ah, betapa bangga orang tua di masa itu. Tapi betapa tercabik-cabiknya hati karena nilai prestisius itu hanyalah gara-gara menyontek!

Lalu rasa bersalah itu kian membesar. Kini bahkan saya merasa telah bersalah sepenuhnya karena tidak mampu menjadi generasi bangsa yang baik. Saya membenci sepenuhnya pejabat-pejabat yang korup di lembaga pemerintahan. Saya dengan antusias berdiri di terik matahari di depan kantor dewan hanya karena ingin menuntut kasus anggota dewan yang mencuri uang rakyat. Lalu apa yang telah saya lakukan saat ini? Saya telah mencuri hak dosen untuk memberikan penilaian yang tepat kepada saya. Saya telah mencuri hak orang tua untuk mendapatkan nilai yang jujur dari saya. Saya telah mencuri hak teman yang lebih pintar dan rajin dari saya untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dari saya. Ah, betapa munafiknya diri ini.

Saya akhirnya sadar betul bahwa menyontek adalah sebuah kesalahan besar. Dan karena itu, saya berjanji akan meninggalkannya, sesulit apapun kondisinya. Biarlah nilai A tanpa menyontek daripada nilai C tapi menyontek! :D

Karena pilihannya kini telah jelas, menjadi mahasiswa biasa atau penuntut ilmu sejati.

0 komentar:

Post a Comment