
Menyontek adalah hal yang lumrah dilakukan oleh mahasiswa biasa, tapi
merupakan tabu bagi seorang penuntut ilmu sejati. Mengapa? Karena seorang
penuntut ilmu sejati sadar betul bahwa jalan menuntut ilmu tak jauh beda dengan
jalannya para mujahid, orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jalan itu
adalah jalan suci yang tak boleh dicurangi dan dinodai. Menyontek adalah salah
satu langkah termudah untuk mengotori kesuciannya.
Dulu sebelum tertarbiyah, saya juga mahasiswa yang doyan menyontek. Bukan
karena tidak bisa menjawab sama sekali, tetapi hanya ingin sekedar memastikan
jawaban teman di sebelah sama persis dengan jawaban saya. Itu akan menjadi
penguat bagi saya bahwa jawaban saya
benar. Tapi saya juga tidak dapat menyangkal bahwa di lubuk hati sana, ada rasa
bersalah yang muncul seketika. Saya merasa telah mencurangi dosen yang selama
ini mengajar sepenuh hati. Saya merasa telah mencurangi orang tua yang selama
ini mati-matian membiayai kuliah. Saya merasa telah mencurangi teman-teman yang
tidak bisa namun memilih untuk percaya dengan jawaban mereka sendiri, tanpa
harus melirik kiri kanan. Lalu rasa bersalah itu kian membesar. Saya merasa
telah menodai nama baik kampus ini, tempat yang katanya akan melahirkan
intelek-intelek nan berkualitas. Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika
nantinya saya akan mengenakan baju toga. Para wisudawan yang lulus cum laude
dipanggil ke depan. Saya termasuk
salah satu di antaranya. Ah, betapa bangga orang tua di masa itu. Tapi betapa
tercabik-cabiknya hati karena nilai prestisius itu hanyalah gara-gara
menyontek!
Lalu rasa bersalah itu kian membesar. Kini bahkan saya merasa telah
bersalah sepenuhnya karena tidak mampu menjadi generasi bangsa yang baik. Saya
membenci sepenuhnya pejabat-pejabat yang korup di lembaga pemerintahan. Saya
dengan antusias berdiri di terik matahari di depan kantor dewan hanya karena
ingin menuntut kasus anggota dewan yang mencuri uang rakyat. Lalu apa yang
telah saya lakukan saat ini? Saya telah mencuri hak dosen untuk memberikan penilaian yang tepat
kepada saya. Saya telah mencuri hak orang tua untuk mendapatkan nilai yang
jujur dari saya. Saya telah mencuri hak teman yang lebih pintar dan rajin dari
saya untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dari saya. Ah, betapa munafiknya
diri ini.
Saya
akhirnya sadar betul bahwa menyontek adalah sebuah kesalahan besar. Dan karena
itu, saya berjanji akan meninggalkannya, sesulit apapun kondisinya. Biarlah nilai A tanpa menyontek daripada nilai C tapi menyontek! :D
Karena pilihannya kini telah jelas, menjadi mahasiswa biasa atau penuntut
ilmu sejati.
0 komentar:
Post a Comment