Showing posts with label DuniaIslam. Show all posts
Showing posts with label DuniaIslam. Show all posts

Monday, 30 March 2015

Pemblokiran Media Islami dan Semangat Anti Demokrasi

Nusantara kembali heboh. Kali ini, berita menggemparkan datang dari jagat maya. Sebuah surat yang diduga ditulis oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo meminta Internet Service Provider untuk memfilter beberapa situs Islami. Situs-situs tersebut diduga BNPT sebagai media penggerak paham radikalisme dan/atau simpatisan radikalisme.

Saya awalnya mengira berita ini hanyalah hoax belaka yang disebarkan oleh pihak yang ingin memancing di air keruh. Tujuannya adalah mengadu domba aktivis dakwah dengan pemerintah yang terlihat semakin mengecewakan kinerjanya. Tetapi setelah mendengar klarifikasi dari Kemenkominfo, saya menjadi yakin bahwa berita ini benar adanya. Maka mari turut berduka atas kematian kebebasan pers ini, demikian ajakan Dakwatuna.com, sebuah media yang masuk dalam daftar hitam Kemenkominfo.

(Sumber gambar: Arrahmah.com)

Kenyataan ini mengingatkan saya pada sebuah faham anti demokrasi yang disebarkan oleh sebuah gerakan. Bukan apa-apa, melihat ‘kesemena-menaan’ pengambil keputusan negara yang kian menjadi-jadi, saya membayangkan andai saja semua gerakan Islam berpaham seperti gerakan tersebut, maka tamatlah riwayat perjuangan agama ini.

Dulu, pernah akan ada RUU Ormas yang mengharuskan ideologi setiap ormas sama. Dalam saat-saat terjepit itu, gerakan anti demokrasi terpaksa mendatangi markas-markas aktivis Islam yang berjuang di kancah perpolitikan negara. Tidak ada pilihan lain, atau jika tidak ormas tersebut terpaksa dibubarkan.

Sekarang coba bayangkan, di tengah adanya orang-orang Islam yang berjuang di dalam sistem demokrasi, golongan Islamphobia begitu berani membredeli media-media pro Islam serta menghasilkan kebijakan-kebijakan lain yang sangat tidak berpihak pada Islam. Bagaimana jadinya kalau tidak ada sama sekali pejuang Islam yang memegang tampuk kekuasaan? Bisa bayangkan? Mampukah kata-kata dalam aksi yang kita gelar tiap hari secara damai membatalkan peraturan yang sudah disahkan secara hukum? Saya tidak berani menjamin.

Kami akan terus bergerak untuk menyadarkan ummat ini, tapi ‘afwan akhi, kami takkan memilih jalan demokrasi yang kufur itu.
Tidak cukupkah kejadian demi kejadian di Timur Tengah menjadi pelajaran bagi pejuang-pejuang Islam di tanah air ini? Seberapa efektif gerakan penyadaran yang sudah berpuluh-puluh tahun antum lakukan itu? Jika demokrasi adalah sistem kufur, mengapa antum masih saja menikmatinya?

Kalau sudah begini, kalau gerak kita mulai dibatasi, kita baru tersadar bahwa berjuang melalui demokrasi itu penting. Berkoar-koar saja, tanpa memiliki power di lembaga legislatif dan eksekutif, jelas bukan senjata yang efektif lagi untuk saat ini.


Maka, selagi belum terlambat, mari rapatkan barisan!

Wednesday, 25 March 2015

Saat Televisi Kian Menjauhkan

Kita dihadapkan pada fenomena memiriskan akhir-akhir ini. Televisi yang awalnya diharapkan menjadi salah satu media belajar generasi bangsa kini malah memberikan kontribusi terburuknya. Tayangan-tayangan yang disuguhkan semakin mengecewakan dari hari ke hari. Parahnya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seperti tidak berfungsi menyikapi hal ini.

Tayangan Merusak

Komedi bernada "bully" dan penghinaan seolah sudah lazim ditayangkan di televisi kita. (Sumber gambar: http://1.brta.in/images/2013-11/f02f12bbafb010f32e92d6f364943af2.jpg)

Beberapa waktu lalu, dunia pertelevisian tanah air dimarakkan dengan munculnya sinetron-sinetron saduran film barat. Dimulai dengan Ganteng-ganteng Serigala di SCTV, Manusia Harimau di MNCTV dan 7 Manusia Harimau di RCTI (yang terakhir katanya diadopsi dari novel karya Motinggo Busye). Sinetron bertemakan percintaan antara manusia dengan makhluk ‘setengah manusia’ dan menampilkan adegan kekerasan itu ditayangkan di jam-jam primetime, sekitar pukul 19.00 sampai 21.00 setiap malam. Ini tentu saja meresahkan sebab ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Alhasil, tak butuh waktu lama, kasus-kasus tak pantas kita temukan pada generasi muda bangsa ini. Anak-anak berusia tiga tahun dapat dengan fasih menirukan suara auman harimau setelah hanya sekali saja menonton sinetron Manusia Harimau di sebuah stasiun televisi swasta (http://m.kompasiana.com/post/read/675606/3/sinetron-manusia-harimau-dan-pengaruh-buruk-sinetron-indonesia.html) dan suara melonglong layaknya seekor anjing atau serigala (http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2014/09/07/ganteng-ganteng-serigala-bikin-anak-kecil-jadi-gila-673007.html). Belum lagi, kejadian-kejadian memalukan yang menandakan telah rusaknya moral anak bangsa seperti percintaan di bawah umur dan pemerkosaan balita oleh anak SD (selengkapnya di sini: http://www.kaskus-dimension.com/2014/11/2-produk-industri-hiburan-yang-merusak.html).
Selain sinetron tak pantas itu, munculnya boyband (grup band yang semua personilnya laki-laki) cilik seperti Coboy Junior (CJR) juga telah merusak moral generasi muda bangsa. Anak-anak yang menjadi personil CJR dalam sekejap diidolai oleh anak-anak senusantara. Mereka kemudian tak hanya diidolai karena jago menyanyi dan menari, tetapi juga karena gaya hidup yang dewasa dan glamour. Sebut saja, lagu-lagu yang dinyanyikan bertemakan percintaan dan tindakan mereka  menciumi pacar masing-masing yang juga masih di bawah umur lalu meng-upload fotonya ke media sosial. Sungguh tragis! Parahnya, ini kemudian diikuti oleh penggemar-penggemar mereka di seluruh nusantara.
Fenomena lain yang menjadikan televisi kian jauh dari nilai edukasi adalah maraknya acara-acara gosip dan live show tak berkualitas. Acara-acara gosip tentu saja sangat tidak layak untuk ditonton. Pertama, acara ini menghilangkan batasan-batasan privasi seseorang. Urusan rumah tangga atau urusan pribadi lainnya menjadi diketahui publik lantaran penayangan ini. Kedua, acara semacam ini ‘melegalkan’ penyakit lisan bernama ghibah. Kehadiran berita gosip seolah mengajarkan masyarakat bahwa mengghibah bukanlah hal yang tidak boleh diperbincangkan, persis seperti jargon yang diusung sebuah acara gosip be-rating tinggi, “mengubah hal yang tabu menjadi layak untuk diperbincangkan”. Sementara program live show, apakah itu talkshow, variety show maupun program musik yang diselingi komedi menjadi tak berkualitas lantaran berisi komedi yang bersifat bullying dan “menyakiti” orang lain. Sebagai contoh, kita masih ingat ketika Kiwil melemparkan tepung kepada Wendi Cagur pada acara YKS di Trans TV hingga korban tidak bisa bernapas. Kejadian-kejadian ini secara tidak langsung mengajarkan masyarakat bahwa kekerasan adalah hal yang lumrah. Wajar saja bila kemudian siswa-siswa SMP dan SMA membawa barang-barang tajam ke sekolah.

Back to Islam
Islam, agama yang risalahnya dibawa oleh Rasulullah saw, telah meletakkan fundamen moral sebagai misi utama. Alasan pengutusan Rasulullah seperti yang beliau sampaikan dalam haditsnya adalah “…untuk memperbaiki akhlak (moral)”. Maka sudah sepantasnya bangsa ini kembali kepada Islam, mengambil konsep-konsepnya untuk memperbaiki moral anak bangsa yang telah begitu merosot ini.
Akan tetapi, meskipun ajakan untuk kembali kepada nilai-nilai Islam sudah digaungkan dalam jumlah yang tak terhitung, sampai saat ini belum terlihat upaya yang konkrit untuk memenuhi ajakan tersebut. Negara ini masih dilanda hedonisme yang seakan tak berkesudahan. Pemimpin-pemimpin yang memegang tampuk kekuasaan masih terpesona dengan gaya-gaya Barat dalam menyelesaikan masalah. Meski sebenarnya mereka tahu Barat menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru. Misalkan saja bagaimana Barat menanggulangi penyebaran HIV dengan penggunaan kondom. Lalu negara kita dengan latah meniru cara tersebut. Padahal Islam telah mengajarkan bahwa HIV tidak akan tersebar apabila seks bebas tidak dilakukan.
Demikianlah, Barat mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru sementara Islam mengatasi masalah tanpa masalah J.

 Harapan untuk Seulaweut
Jauhnya tayangan-tayangan televisi dari nilai-nilai edukasi menimbulkan keresahan di masyarakat. Kekerasan demi kekerasan terus terjadi setiap harinya, seakan tidak bisa dibendung. Anak-anak yang kian menggandrungi teknologi semakin tak betah mendengarkan pendidikan moral di sekolah dan balai-balai pengajian. Sebagian besar telah menjadikan teknologi sebagai gurunya. Mereka belajar lalu berinteraksi sosial melalu produk-produk teknologi seperti televisi dan jejaring sosial.
Melihat fenomena di atas, kehadiran media Islami yang sarat dengan nilai-nilai edukasi sangat diharapkan kehadirannya. Alhamdulillah, dengan pasang surutnya, radio Seulaweut FM telah memenuhi sebagian harapan kita di Banda Aceh. Saat-saat televisi kian menjauhkan generasi bangsa ini dari pendidikan moral, radio yang memiliki motto “Nyaman di Hati, Membuka Cakrawala” ini justru berupaya mendekatkan. Radio yang telah mengudara sejak delapan tahun silam ini konsisten menghadirkan berbagai program yang Islami dan sarat dengan pendidikan moral generasi bangsa. Mengusung visi 3N (News, Nasyid, Nida’), Seulaweut FM konsisten mengudarakan acara-acara yang bermanfaat. Sebut saja Dialog Islam yang menghadirkan pemateri yang membahas seputar dunia Islam, Galeri Remaja yang diisi oleh narasumber muda yang prestatif, Mutiara Hadits berupa penyampaian hadits-hadits Rasulullah saw, Nasyid Request yang merupakan pemutaran lagu-lagu Islami sesuai permintaan pendengar, Kabar Dunia Islam yang menginformasikan berita Islam terkini di seantero dunia dan berbagai program lainnya. Program-program ini disajikan sesuai dengan misi “menyampaikan berbagai informasi yang bernilai kepada masyarakat dalam kemasan yang menghibur” dan “mengajak kepada kebaikan baik pribadi, keluarga maupun masyarakat”.
Namun, sejauh mana efektifitas pendidikan moral ini berjalan? Apakah Seulaweut FM telah berhasil dengan baik menjalankan misinya? Di tengah semakin berkembang-pesatnya teknologi, memang belum bisa kita katakan ‘ya’ untuk pertanyaan itu, namun tentu juga tidak bisa kita katakan ‘tidak’. Maka, di #Miladke8seulaweut ini, kita mengharapkan Seulaweut FM terus bertahan membersamai generasi, konsisten berbagi ilmu pengetahuan dan pendidikan moral serta terus beraksi untuk melakukan perbaikan dan pembenahan, sesuai dengan tagline yang diusung kali ini: Bersama, Berbagi, Beraksi.

Lebih lanjut, semoga Seulaweut terus berkembang. Pengembangan ini bisa jadi dalam bentuk pemancaran siaran dalam gelombang AM atau bahkan perwujudan stasiun televisi Seulaweut TV. Semoga! J

Saturday, 7 March 2015

Mau Dekat dengan Rasul? Perbanyak (Mendengar) Seulaweut

Agitatif? Bisa jadi, tergantung pemahaman Anda ketika membaca judul di atas, Kawan. Jujur nih, sengaja saya pilih judul itu untuk menimbulkan dua persepsi berbeda.

Tagline radio Seulaweut FM


Persepsi Pertama
Jika dibaca tanpa menyertakan kata di dalam tanda kurung, maka yang saya maksudkan adalah apa yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah saw.

"Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR Tirmidzi).

Seulaweut di judul di atas berarti shalawat kepada Rasulullah saw. Maka jika ingin kelak di surga bersama Rasulullah saw, perbanyaklah bershalawat kepadanya selama masih di dunia. Selain merupakan perintah Allah swt. (QS. Al-Ahzab: 56), ada banyak keutamaan yang akan kita dapat jika sering-sering bershalawat kepada beliau saw. Berikut saya kutip lima keutamaan bershalawat kepada Rasulullah saw.

Pertama, shalawat adalah syarat dikabulkannya doa. Ini seperti yang disabdakan Rasulullah saw. dalam haditsnya, “Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki." (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bersabda, "Setiap doa akan terhalang (pengabulannya) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya." (HR Thabrani).
Makanya, Syeikh Ali Jabeer dalam taushiyahnya suatu pagi seusai shalat Shubuh di halaman Mapolda Aceh menganjurkan agar memperbanyak shalawat di dalam lantunan doa.

Kedua, Allah swt. akan menuliskan sepuluh kebaikan bagi orang-orang yang bershalawat.

Ketiga, Allah swt. menghapus sepuluh keburukan orang-orang yang bershalawat.

Keempat, Allah swt. meninggikan derajat orang-orang yang bershalawat sebanyak sepuluh derajat. Mengenai tiga keutamaan terakhir, dikisahkan suatu malam Jibril as. menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula." (HR Ahmad).

Keutamaan shalawat yang kelima adalah mendapat syafaat dari Rasulullah saw. di hari Kiamat kelak. Ini sesuai dengan janji Rasulullah saw. dalam haditsnya, "Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat." (HR Muslim).

Demikian, semoga Allah swt. meringankan lisan kita untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah saw.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim.

Persepsi Kedua
Ini masih terkait Rasulullah saw. dan seulaweut. Jika Anda membaca judul di atas dengan menyertakan kata “mendengar” yang ada di dalam tanda kurung, maka yang saya maksudkan adalah:

Anda harus sering-sering mendengar radio Seulaweut FM agar bisa mengenal Rasulullah saw lebih dekat.

Mengapa? Karena First Islamic Radio di Banda Aceh yang mengusung tema “Nyaman di Hati, Membuka Cakrawala” ini memiliki ragam sajian seputar Rasulullah saw. Misalkan saja, program Mutiara Hadits, Shirah, dan berbagai program lainnya.

Mengapa harus mengenal Rasulullah saw? Salah satu alasannya adalah seperti apa yang dituturkan ustadz Yusuf Mansur dalam taushiyahnya yang saya dengar di radio Seulaweut FM suatu malam (promosi nih…). “Belajar yang tidak boleh berhenti itu, salah satunya adalah belajar tentang Rasul”. Tidak boleh berhenti kita mempelajari sosok manusia termulia ini sebab Allah swt. telah menggaransi beliaulah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia (QS. Al-Ahzab: 21).


Jadi, sempatkan stay tune di frekuensi 91.00 FM setiap harinya ya. Eh, promosi lagi…

Saturday, 7 February 2015

Siapa yang Melakukan Shalat Pertama Kali?

Menurut buku karangan Dr. Ibrahim Rabi’ Muhamad tentang “Yang Pertama Berjasa Dalam sejarah dan peradaban Islam” Perintah shalat sebenarnya sudah ada dari sejak zaman Nabi Adam as bahkan sampai zaman Nabi Musa pun perintah shalat itu sudah dilakukan. Dari beberapa sumber hadits mengatakan bahwa umat Nabi Musa diperintahkan oleh Alloh SWT untuk melakukan shalat sebanyak 70 kali dalam sehari. Pantas saja ketika Nabi Muhammad melakukan isra' dan mi’raj, Nabi Musa menyuruh Beliau agar meminta keringanan perintah shalat karena Nabi Musa as dahulu pernah merasakan beratnya perintah itu karena umatnya yang pembangkang (Bani Israel yang merupakan nenek moyang orang Yahudi). Singkat cerita, pada akhirnya perintah shalat itu pun berkurang menjadi lima kali dalam sehari setelah Nabi Muhammad berupaya meminta keringanan shalat kepada Alloh untuk umatnya. Berikut adalah manusia pertama kali yang mengerjakan shalat lima waktu, yakni: Nabi Adam as adalah manusia pertama yang melaksanakan Shalat Shubuh Beliau adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Alloh SWT dan merupakan nenek moyang kita semua. Nabi Adam as selalu beribadah kepada Alloh SWT ketika terbit fajar, ia melakukan shalat dua rakaat sebagai tanda syukurnya kepada Alloh atas hilangnya kegelapan malam, atas hilangnya kemaksiatan, atas datangnya cahaya siang, dan sebagai wujud permintaan taubatnya. Nabi Ibrahim as adalah manusia pertama yang mengerjakan Shalat Dzuhur Dengan penuh keimanan, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Alloh SWT untuk menyembelih anak kesayangan yaitu nabi Ismail as. Pada saat itulah kebesaran Alloh muncul dengan mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing sebagai tebusan Agung. Nabi Ibrahim hampir tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Beliau lalu mengerjakan shalat empat rakaat sebagai tanda syukur kepada Alloh atas keselamatan anaknya yang bernama Ismail as. Nabi Ibrahim as adalah manusia pertama yang melaksanakan Shalat Ashar Ada yang ingat nggak cerita Nabi Ibrahim as? Ketika itu beliau sedang mencari tahu siapakah Tuhan dia yang patut disembahnya, setelah beberapa lama mengamati alam semesta dan seisinya. Pada akhirnya beliau di berikan bukti nyata keberadaan Tuhan dengan diperlihatkannya kebesaran Alloh melalui Burung yang pada mulanya Tuhan memerintahkan beliau untuk menyembelihnya dan memotong burung tersebut menjadi empat bagian, pada setiap bagian Alloh menyuruh Nabi Ibrahim untuk meletakan setiap bagian potongan burung tersebut di empat gunung yang berbeda. Singkat cerita, Alloh dengan kebesarannya bisa menyatukan kembali bagian potongan burung yang terpisah jauh dan akhirnya burung tersebut hidup kembali. Kemudian Nabi Ibrahim as bertaubat pada waktu tergelincirnya matahari. Beliau mengerjakan shalat sebanyak empat rakaat sebagai tanda syukur atas pemberian ilmu pengetahuan dan hikmah baginya. Nabi Isa as adalah manusia pertama yang mengerjakan Shalat Maghrib Peristiwa tersebut terjadi ketika Alloh mengangkat dan menyelamatkannya dari kejahatan bangsa Yahudi setelah tenggelamnya matahari. Lalu beliau melakukan shalat sebanyak tiga rakaat sebagai tanda syukur atas keselamatan yang dianugrahkan baginya dari segala tipu daya musuh. Juga sebagai tanda syukur atas dinaikanya ke langit sehingga terlepas dari berbagai urusan keduniaan. Nabi Yunus adalah manusia pertama yang mengerjakan Shalat Isya Peristiwa itu terjadi ketika Alloh menyelamatkan beliau dari perut ikan Hiu. Yaitu ketika hilangnya warna merah dari ufuk barat dan bintang-bintang pun telah bergemerlapan di atas langit. Kemudian beliau mengerjakan Shalat Isya sebagai tanda syukur atas keselamatannya dari empat kegelapan, yaitu; pertama, kegelapan malam; kedua, kegelapan awan; ketiga, kegelapan lautan; dan keempat adalah kegelapan di dalam perut Ikan Hiu.

Sumber : http://belajarharian.blogspot.com/2013/03/siapa-yang-melakukan-sholat-pertama-kali.html?m=1

Tuesday, 10 December 2013

Kesalahan Para Orientalis Dalam Memahami Alqur'an



Oleh DR M Masri Muadz MSc (Penulis BukuParadigma Al-Fatihah)

Alquran adalah Firman Allah SWT yang memiliki ciri-cirinya sendiri sebagai teks suci. Yang berbeda dengan ciri-ciri umum sebuah buku karangan manusia. Di antara ciri-ciri yang hanya dimiliki Alquran antara lain:
 
Pertama, Alquran menggunakan bahasa Arab, yang tidak hanya menulis alphabetnya dari kanan ke kiri, tapi juga menulis angka numeriknya dari kiri ke kanan.
 
Kedua, Alquran mengatur penulisan teksnya, tidak berdasarkan urutan turunnya ayat atau surahnya, tetapi berdasarkan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW Utusan-Nya.
 
Ketiga, Alquran menggunakan kata ganti untuk Diri Allah SWT, tidak hanya menggunakan kata ganti Saya (Ana), tapi juga menggunakan kata ganti Kami (Nahnu)  dan Dia (Huwa).
 
Keempat, Alquran menggunakan gramatika bahasa, yang dalam struktur kata atau ayatnya, tidak hanya bisa merujuk pada makna kata atau makna ayat sebelumnya (di belakangnya), tapi juga bisa merujuk kepada makna kata atau ayat sesudahnya (di depannya).
 
Kelima, Alquran menyampaikan pesan tauhid sebagai pesan intinya, tidak hanya menggunakan pendekatan deskriptif, tapi juga pendekatan matematis dalam struktur bangunan ayat dan surahnya.

Keenam, Alquran menyampaikan keseluruhan deskripsi kandungan isinya, tidak hanya  dalam 114 surah, tapi juga menyampaikan deskripsi keseluruhan isinya dalam  kapsulasi satu surah.
 
Ketujuh, Alquran dalam menguraikan pesan  tauhid, tidak hanya dengan menggunakan sebanyak 323.671 huruf, tapi juga menyampaikan pesan tauhid itu dalam kondensasi satu huruf.

Kedelapan, Alquran tidak hanya dapat dibaca dan dipahami makna ajaran yang dikandungannya, tapi juga dapat dihafal keseluruhan teksnya yang terdiri dari 114 surah, yang dicetak dalam sekitar 700 halaman.
 
Kesembilan, Alquran tidak hanya dapat dilombakan dalam penguasaan kandungan maknanya, tapi juga dapat dilombakan dalam penguasaan keindahan nada bacaannya.
 
Kesepuluh, Alquran bila dipelajari dengan niat yang tulus dan jujur, tidak hanya akan memperoleh pemahaman tentang makna  pesan-pesan yang dikandungnya, tapi juga akan mendapatkan hidayah keimanan, sehingga menjadi Muslim setelah memahaminya.

Kesebelas, Alquran tidak hanya memerintahkan manusia untuk berpikir tentang keseluruhan sistem kehidupan ciptaan-Nya, tapi juga memberikan contoh pendekatan sistem dalam menguraikan detil pesan-pesannya.

Itulah di antara ciri-ciri yang khas dimiliki Alquran, firman Allah SWT, sebagai petunjuk bagi kehidupan seluruh umat-Nya. Karena itu, siapa saja yang ingin mempelajari Alquran secara serius dan mendalam, perlu menyadari terlebih dahulu bahwa Alquran adalah sebuah Buku Bacaan yang khas (unik) dilihat dari pengaturan penulisan, bahasa, komposisi, ketelitian, tema, isi, penyampaian, keaslian, kesucian dan dampak yang ditimbulkannya. 

Sehingga, perlu menyadari sejak awal, bahwa berpegang pada konsep sebuah buku biasa yang dipahami selama ini, tidak akan menolong. Bahkan boleh jadi akan menghambat, untuk pencapaian pemahaman yang utuh dan benar tentang kandungan Alquran. 

Dan di sinilah letak kesalahan mendasar dari para orientalis Barat dalam memahami makna Alquran, selama ini. Mereka (para orientalis) mempelajari Alquran sebagai sebuah buku biasa, dengan ciri-ciri buku pada umumnya yang mereka pahami. Maka, hasil studi mereka sudah dapat diduga, bukanlah suatu pemahaman yang benar tentang kandungan Alquran. 


Bahkan sangat disesalkan, tanpa mereka sadari dan mau mengerti, apa yang dihasilkan para orientalis adalah kesimpulan-kesimpulan dan kritik-kritik yang salah, sehingga menyesatkan orang banyak tentang Alquran. 
           
Maka, untuk mempelajari dan memahami kandungan makna Alquran, perlu diawali dengan pendekatan dan niat yang tulus dan jujur. Ketulusan dan kejujuran dalam berusaha memahami secara optimal ilmu dan hikmah yang dikandung Alquran, dengan memosisikan Alquran secara benar, yaitu sebagai kitab suci, firman Allah SWT. Karena tidak ada yang mengetahui secara persis kandungan ilmu dan hikmah Alquran, selain Allah SWT sendiri. 

Tugas kita adalah berupaya optimal agar pemahaman kita bisa mendekati makna yang sesungguhnya. Dengan tujuan agar ilmu dan hikmah Alquran yang kita pahami, dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas zikir dan syukur, shalat dan doa kita, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. 

Allah ‘Alamu Bishshawab

Kisah Muallaf: Bill, Rugby dan Dunia Barunya


Bintang Rugby Dunia asal Selandia Baru, Sonny Bill Williams, merasakan banyak perubahan positif dalam hidupnya setelah ia masuk Islam. Diantaranya adalah kedamaian yang belum pernah ia alami sebelumnya.


"Apa yang anda dapatkan dari Islam?" tanya seorang reporter BBC kepada Sonny Bill Williams dalam sebuah wawancara. 

"Islam memberiku kebahagiaan," jawab Williams, seperti dikutip onIslam, Ahad (27/10).

Williams memeluk Islam pada tahun 2008 setelah menghadiri acara dakwah di sebuah masjid di Sidney. Sejak menjadi mualaf, banyak perubahan positif dalam dirinya. Termasuk berhenti dari alkohol.

“Saya rasa, saya telah menjadi seseorang yang lebih baik. Ketika bermain, saya bermain dengan baik,” tuturnya.

“Saya tidak minum minuman keras dan saya berusaha untuk hidup dengan gaya hidup yang lebih bersih… intinya ini benar-benar membuat saya lebih berbahagia,” tambahnya.

Orang yang mengenal Williams membenarkan perubahan itu.

"Dia memang fantastis. Dia benar-benar baik," kata Kearney memberikan kesaksian tentang William yang menjadi lebih baik setelah bersyahadat. 

"Dia memiliki bakat khusus, tetapi dalam lima tahun terakhir, ia terlihat lebih bijak dan lebih dewasa. Dia berbeda." [bersamadakwah]

Menjemput Si Jilbab Syar'i

Segala sesuatu di dunia ini butuh proses. Ingin menjadi pintar, butuh proses. Ingin kaya, perlu proses. Pun dengan menjadi baik, butuh proses. Banyak orang yang tak berhijab, bila ditanya ‘kapan akan berhijab?’, biasanya menjawab, ‘nunggu hidayah’. Padahal hidayah itu tak datang dengan sendirinya. Hidayah tak lalu tiba-tiba muncul dalam satu malam atau satu hari tanpa sebab. Hidayah perlu dijemput. Hidayah perlu dirangsang. Hidayahpun perlu proses.

Saya ingin bercerita pengalaman saya dalam mendapatkan hidayah untuk berhijab syar’i. Hidayah itu tak serta-merta saya dapatkan dalam waktu singkat. Tapi butuh enam tahun lamanya. Waktu yang lumayan tak singkat.

Dimulai saat akan masuk SMA, saya begitu galau memutuskan apakah nanti ke sekolah dengan berhijab atau tidak. Waktu itu saya termasuk cewek tomboy, tergabung dalam tim basket. Teman-teman seangkatan—yang notabene dari lingkungan yang sama dengan saya—memutuskan untuk berhijab. Dan keputusan mereka mempengaruhi pikiran saya. Separuh pikiran tidak ingin berhijab, namun separuhnya lagi ingin mengikuti teman-teman. Malu lah, kalau tak berhijab sendiri. Begitu pikir saya.

Pada saat mengisi formulir apakah saya akan memilih seragam yang berhijab atau tidak, saya lama sekali berpikir. Penting sekali mengisi formulir tersebut, karena kan mempengaruhi panjang kain jahitan yang akan diterima, disesuaikan dengan tujuannya. Jika ingin berhijab, maka kain yang diterima akan lebih panjang dibandingkan dengan yang tidak berhijab. Nah, saya galau sekali saat mengisi formulir itu. Teman-teman yang lain sudah mengumpulkan, namun saya belum tetap memilih. Berhijab atau tidak. Orang tua saat itu membebaskan saya mau berhijab atau tidak. Keputusan sepenuhnya di tangan saya. Maka di saat-saat terakhir pengumpulan, saya akhirnya mengisi formulir tersebut dengan keterangan berhijab. Rasa malu saya pada teman-teman waktu itu mengalahkan separuh pikiran saya tentang keinginan tak berhijab.

Maka setelah mengisi formulir tersebut otomatis saya harus berhijab ke sekolah. Namun berhijab saya waktu itu masih hijab gaya remaja labil. Saya masih berhijab ketika pergi dengan keluarga. Namun jika saya pergi dengan teman-teman, terkadang saya tak berhijab. Saat praktek renangpun saya tak berhijab. Hal ini saya lakukan karena masih terbawa suasana, di mana teman-teman sebaya saya yang masih labil dalam berhijab, maka saya ikut-ikutan labil. Jika teman-teman saya pergi tak berhijab, maka sayapun boleh melakukannya. Begitu pikir saya waktu itu.

Meski teman-teman yang berhijab labil lumayan banyak jumlahnya, terkadang perasaan malu masih sempat menyambangi hati. Saya sudah memutuskan berhijab, tapi kok terkadang masih buka hijab saat berpergian? Apa nggak malu dilihat orang? Biasanya berhijab kok bepergian nggak?

Semakin bertambahnya usia semakin sadar, saya tak memegang teguh keptutusan yang dulu saya ambil. Tak konsisten dengan keputusan tersebut. Maka saat masuk kuliah, saya memutuskan untuk berhijab sepenuhnya. Saat ke kampus berhijab, saat pergipun berhijab. Beberapa teman saya yang tadinya berhijab waktu SMA beralih tak berhijab saat kuliah. Namun tak peduli. Saya sudah memutuskan ingin memegang teguh keputusan yang saya ambil dulu. Saya ingin konsisten berhijab!

Namun usia yang yang masih tergolong remaja itu terkadang masih membuat saya bertingkah labil. Di tahun awal-awal kuliah, saya terkadang tak berhijab saat keluar kost. Hal ini dikarenakan tujuan saya keluar itu hanya ke depan kost saja—ingin beli makan. Dan didukung oleh mbak penjaga kost yang juga keluar tanpa berhijab--yang bisasanya dia berhijab, maka saya nekat keluar tanpa berhijab. Aduh, labilnya saya waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya berpikir, hal tersebut sudah melanggar keputusan yang saya buat. Hal tersebut sudah tak sesuai dengan niatan saya saat masuk kuliah. Maka saya kembali memutuskan, jika keluar kost harus berhijab.

Alhamdulillah... sukses dengan keputusan tersebut. Namun hijab saya masih hijab yang sedang trend di kalangan anak muda. Masih hijab yang stylish, hijab yang sedang in. Saya tak serta-merta langsung berhijab syar’i kala itu. Hijab yang saya gunakan masih tipis, hijab paris. Gaya berhijab sayapun mengikuti style hijab yang sedang trend. Saya masih menggunakan celana ketat—saya pikir hal ini dikarenakan sifat tomboy yang masih melekat. Dan saya nyaman-nyaman saja memakainya.

Waktu berjalan, keadaan fisik sayapun berubah. Saya mengalami pertambahan tubuh, yang mengakibatkan paha saya juga bertambah besar. Makin tak nyaman jika memakai celana ketat. Akan tampak sekali bentuk paha saya. Ini bukan karena saya yang mementingkan penampilan, tapi karena tak rela jika orang-orang—khususnya laki-laki—tahu bentuk dan lekuk paha saya. Alhamdulillah, rasa malu ini masih ada. Maka saya berhenti memakai celana ketat. Sebagai gantinya, selalu memakai rok, terkadang gamis.

Dikarenakan sering sekali galau waktu itu, maka saya berusaha untuk mendekatkan diri pada Allah. Saya follow twitter para ustadz, membaca buku-buku agama, dan sebagainya. Dari twitter dan bacaan-bacaan tersebut, hati saya tergerak ingin membuat bidadari surga cemburu pada saya dengan cara menjadi muslimah yang extraordinary. Kenapa harus menjadi biasa, kalau kita bisa menjadi luar biasa sebagai muslimah? Maka saya putuskan ingin menjadi muslimah yang bukan biasa-biasa saja.

Berangkat dari pemikiran ‘saya tidak ingin menjadi salah satu yang biasa’, saya berusaha mengubah gaya berhijab. Saya ingin seperti para muslimah aktivis dakwah di kampus. Hijab yang saya pakai—paris, tipis—itu saya dobel, agar tak menerawang. Dan saya longgarkan hijab saya, supaya terlihat lebih besar, dan menutupi dada. Kaos kaki tak lupa dipakai.

Hidayah berhijab syar’i yang saya alami tersebut tidak terjadi dalam waktu semalam, sehari, seminggu, atau sebulan. It takes six years. Saya perlu ‘menceburkan’ diri saya terlebih dahulu dalam dunia hijab, belajar untuk merasakan, memahami, kemudian mendapatkan hal yang sebenarnya itu—hidayah. Untuk mendapatkan view terumbu karang yang indah kita perlu ‘menceburkan’ diri ke laut, bukan? Sama dengan hidayah berhijab, kita juga perlu ‘menceburkan’ diri ke dalam dunia hijab, berani mencoba berhijab. Tak perlu tunggu waktu untuk memulai. Waktu yang akan menjawab keraguan berhijab. Waktu akan membawa proses itu. Proses menemukan hidayah. [islamedia]

Wednesday, 4 December 2013

Seni Mencintai Dakwah



Oleh: Cahyadi Takariawan

Alhamdulillah, ikhwah, dakwah kita saat ini sedang berada dalam kondisi transisi, transisi dari satu tahapan satu ke tahapan yang lain. Transisi dari mihwar muassasi ke mihwar dauli. Maka untuk menuju mihwar yang lebih luas tersebut, dimana tantangan yang kita hadapi akan semakin kompleks, dibutuhkan profil – profil seorang negarawan sejati. Ketika kita mengingkan mihwar daulah, maka mental kita harus dirubah, menjadi memiliki mental daulah, seorang rijaluddaulah.

Ikhwah, ada satu kisah menarik yang ingin saya sampaikan kepada antum semua, yaitu tentang energi cinta dalam dakwah ini. Energi cinta kita dalam dakwah inilah yang membuat kita sampai saat ini masih tetap istiqomah untuk terus membersamai dakwah. Energi cinta itulah yang menjadi daya penguat kita sehingga kita bisa tetap eksis berada dalam kereta dakwah ini, meskipun terpaan angin, rintangan, halangan itu terus saja menghalangi kita, tetapi hal itu justru membuat kita makin kuat saja dalam dakwah ini, dan hal itu karena satu hal. Kita begitu mencintai dakwah ini.

Saya ingin mengilustrasikan tentang seni menikmati dan mencintai dakwah itu dari perenungan saya sepanjang perjalan dari Jogja-Semarang, beberapa waktu lalu. Kondisi jalanan di sekitaran Ambarawa padat merayap, dengan truk-truk besar yang berjalan lambat itu, kadang membuat kita jenuh juga.

Akan tetapi, setelah saya merenung, ternyata ini adalah bentuk jihad kita untuk senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang kita alami. Begitu pun ketika mobil yang saya tumpangi tersebut berhasil menyalip truk besar tersebut, ada kelegaan sedikit, tetapi setelah berhasil menyalip, akan ada truk-truk besar lagi yang berada didepan kita. terus seperti itu.

Energi yang tiada terputus

Kalau kita umpamakan perjalanan Jogja-Semarang tersebut adalah tentang dakwah ini, kita pun akan mengambil satu kesimpulan bahwa, setelah kita menyelesaikan suatu urusan, kita harus siap dengan urusan selanjutnya. Atau bisa kita analogikan, setelah kita berhasil menaklukkan satu badai, akan muncul badai-badai selanjutnya yang lebih kuat, lebih besar, dan menuntut daya dan ketegaran kita dalam menaklukkan badai tersebut.

Ikhwah, begitulah dakwah kita saat ini. Di masa-masa dakwah yang terus bersemi dan berkembang menuju puncaknya, justru badai – badai akan semakin kuat dan besar menghalangi laju kereta dakwah kita. maka butuh satu kekuatan, maka butuh energi yang tiada terputus untuk menguatkan kita dalam membersamai dakwah ini.
Maka energi yang tiada terputus itu adalah rasa cinta kita pada dakwah ini. Cinta kita pada dakwah inilah yang akhirnya membuat energi kita selalu besar, selalu ada, dan terus ada untuk memperjuangkan dakwah kita.

Seni mencintai dakwah

Ikhwah, ada satu peristiwa yang mungkin ini adalah bagian yang semakin menguatkan tekad saya untuk terus istiqomah dan mencintai dakwah ini. Satu peristiwa tersebut adalah ketika saya diamanahi menjadi Ketua Wilda Sulawesi, suatu ketika menyaksikan betapa ikhwah yang berada di daerah dengan kondisi yang minimalis, baik kadernya maupun infrastuktur dakwahnya, ternyata hal tersebut tak menghalangi niatnya untuk berdakwah. Mereka begitu tulus bekerja dan mendakwahkan Islam di daerahnya. Mereka tak terlalu peduli urusan di pusat, karena yang mereka pikirkan adalah mengelola daerahnya masing – masing, mampu memberikan efek dakwah Islam kepada obyek dakwah di daerahnya.

Dahsyat, inilah yang saya maksud dengan seni mencintai dakwah itu. Mereka mencintai dakwah ini sehingga dari sikap yang begitu mencintai dakwah, maka Allah Azza Wa Jalla anugerahkan energi yang tiada terputus itu, meskipun mungkin fisik terbatas, sarana terbatas, akan tetapi ketika energi cinta yang tiada terputus kepada dakwah ini terus membara, maka hal tersebut sudah cukup untuk memenangkan dakwah ini.

Maka ikhwah, mari kita mencintai dakwah ini, dimanapun, kapanpun, bersama siapapun kita berada.
Insyaallah energi kita tidak akan pernah habis dan terputus. Semoga istiqomah.


Wallahua’lam. [pkspiyungan]

Ujian Hidup

Oleh: Ustaz Arifin Ilham

Dalam menghadapi kehidupan di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan dua keadaan silih berganti. Suatu saat merasakan suka, saat lain merasakan duka. Pada saat bahagia, terkadang manusia menjadi lupa. Sebaliknya, saat duka mendera, seringkali manusia berkeluh kesah.