Saya ingin bercerita pengalaman saya dalam mendapatkan hidayah
untuk berhijab syar’i. Hidayah itu tak serta-merta saya dapatkan dalam waktu
singkat. Tapi butuh enam tahun lamanya. Waktu yang lumayan tak singkat.
Dimulai saat akan masuk SMA, saya begitu galau memutuskan apakah
nanti ke sekolah dengan berhijab atau tidak. Waktu itu saya termasuk cewek
tomboy, tergabung dalam tim basket. Teman-teman seangkatan—yang notabene dari
lingkungan yang sama dengan saya—memutuskan untuk berhijab. Dan keputusan
mereka mempengaruhi pikiran saya. Separuh pikiran tidak ingin berhijab, namun
separuhnya lagi ingin mengikuti teman-teman. Malu lah, kalau tak berhijab
sendiri. Begitu pikir saya.
Pada saat
mengisi formulir apakah saya akan memilih seragam yang berhijab atau tidak,
saya lama sekali berpikir. Penting sekali mengisi formulir tersebut, karena kan
mempengaruhi panjang kain jahitan yang akan diterima, disesuaikan dengan
tujuannya. Jika ingin berhijab, maka kain yang diterima akan lebih panjang
dibandingkan dengan yang tidak berhijab. Nah, saya galau sekali saat mengisi
formulir itu. Teman-teman yang lain sudah mengumpulkan, namun saya belum tetap
memilih. Berhijab atau tidak. Orang tua saat itu membebaskan saya mau berhijab
atau tidak. Keputusan sepenuhnya di tangan saya. Maka di saat-saat terakhir
pengumpulan, saya akhirnya mengisi formulir tersebut dengan keterangan
berhijab. Rasa malu saya pada teman-teman waktu itu mengalahkan separuh pikiran
saya tentang keinginan tak berhijab.
Maka setelah mengisi formulir tersebut otomatis saya harus
berhijab ke sekolah. Namun berhijab saya waktu itu masih hijab
gaya remaja labil. Saya masih berhijab ketika pergi dengan keluarga. Namun jika
saya pergi dengan teman-teman, terkadang saya tak berhijab. Saat praktek
renangpun saya tak berhijab. Hal ini saya lakukan karena masih terbawa suasana,
di mana teman-teman sebaya saya yang masih labil dalam berhijab, maka saya
ikut-ikutan labil. Jika teman-teman saya pergi tak berhijab, maka sayapun boleh
melakukannya. Begitu pikir saya waktu itu.
Meski
teman-teman yang berhijab labil lumayan banyak jumlahnya, terkadang perasaan
malu masih sempat menyambangi hati. Saya sudah memutuskan berhijab, tapi kok
terkadang masih buka hijab saat berpergian? Apa nggak malu dilihat orang?
Biasanya berhijab kok bepergian nggak?
Semakin
bertambahnya usia semakin sadar, saya tak memegang teguh keptutusan yang dulu
saya ambil. Tak konsisten dengan keputusan tersebut. Maka saat masuk kuliah,
saya memutuskan untuk berhijab sepenuhnya. Saat ke kampus berhijab, saat
pergipun berhijab. Beberapa teman saya yang tadinya berhijab waktu SMA beralih
tak berhijab saat kuliah. Namun tak peduli. Saya sudah memutuskan ingin memegang teguh
keputusan yang saya ambil dulu. Saya ingin konsisten berhijab!
Namun usia yang yang masih tergolong remaja itu terkadang masih
membuat saya bertingkah labil. Di tahun awal-awal kuliah, saya terkadang tak
berhijab saat keluar kost. Hal ini dikarenakan tujuan saya keluar itu hanya ke
depan kost saja—ingin beli makan. Dan didukung oleh mbak penjaga kost yang juga
keluar tanpa berhijab--yang bisasanya dia berhijab, maka saya nekat keluar
tanpa berhijab. Aduh, labilnya saya waktu itu.
Seiring berjalannya waktu, saya berpikir, hal tersebut sudah melanggar
keputusan yang saya buat. Hal tersebut sudah tak sesuai dengan niatan saya saat
masuk kuliah. Maka saya kembali memutuskan, jika keluar kost harus berhijab.
Alhamdulillah... sukses dengan keputusan tersebut. Namun hijab
saya masih hijab yang sedang trend di kalangan anak muda. Masih hijab yang stylish, hijab yang sedang in. Saya
tak serta-merta langsung berhijab syar’i kala itu. Hijab yang saya gunakan
masih tipis, hijab paris. Gaya berhijab sayapun mengikuti style hijab yang
sedang trend. Saya masih menggunakan celana ketat—saya pikir hal ini dikarenakan
sifat tomboy yang masih melekat. Dan saya nyaman-nyaman saja memakainya.
Waktu berjalan, keadaan fisik sayapun berubah. Saya
mengalami pertambahan tubuh, yang mengakibatkan paha saya juga bertambah besar.
Makin tak nyaman jika memakai
celana ketat. Akan tampak sekali bentuk paha saya. Ini bukan karena saya yang
mementingkan penampilan, tapi karena tak rela jika orang-orang—khususnya
laki-laki—tahu bentuk dan lekuk paha saya. Alhamdulillah, rasa malu ini masih
ada. Maka saya berhenti memakai celana ketat. Sebagai gantinya, selalu memakai
rok, terkadang gamis.
Dikarenakan sering sekali galau waktu itu, maka saya berusaha
untuk mendekatkan diri pada Allah. Saya follow twitter para ustadz, membaca
buku-buku agama, dan sebagainya. Dari twitter dan bacaan-bacaan tersebut, hati
saya tergerak ingin membuat bidadari surga cemburu pada saya dengan cara
menjadi muslimah yang extraordinary. Kenapa harus menjadi biasa, kalau kita bisa
menjadi luar biasa sebagai muslimah? Maka saya putuskan ingin menjadi muslimah
yang bukan biasa-biasa saja.
Berangkat
dari pemikiran ‘saya tidak ingin menjadi salah satu yang biasa’, saya berusaha
mengubah gaya berhijab. Saya ingin seperti para muslimah aktivis dakwah di
kampus. Hijab yang saya pakai—paris, tipis—itu saya dobel, agar tak menerawang.
Dan saya longgarkan hijab saya, supaya terlihat lebih besar, dan menutupi dada.
Kaos kaki tak lupa dipakai.
Hidayah
berhijab syar’i yang saya alami tersebut tidak terjadi dalam waktu semalam,
sehari, seminggu, atau sebulan. It takes six years. Saya perlu ‘menceburkan’ diri saya terlebih dahulu dalam dunia
hijab, belajar untuk merasakan, memahami, kemudian mendapatkan hal yang
sebenarnya itu—hidayah. Untuk mendapatkan view terumbu karang yang indah kita
perlu ‘menceburkan’ diri ke laut, bukan? Sama
dengan hidayah berhijab, kita juga perlu ‘menceburkan’ diri ke dalam dunia
hijab, berani mencoba berhijab. Tak perlu tunggu waktu untuk memulai. Waktu
yang akan menjawab keraguan berhijab. Waktu akan membawa proses itu. Proses menemukan hidayah. [islamedia]
0 komentar:
Post a Comment