Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Friday, 30 January 2015

Kutipan Nasehat Syeikh Jum'ah Amin



Baru-baru ini, seorang wakil Mursyid 'Aam IM, Syaikh Jumah Amien, meninggal di London.

Berikut adalah kutipan nasehat Syeikh Jum'ah Amin untuk kita para kader dakwah: 
¤ Jangan terlalu fokus dengan sebab-sebab materi untuk mencapai kemenangan, tapi kurang fokus pada "Rabbul asbaab" (Allah yang menjadi Rabb/Pemilik dari sebab-sebab).  ¤ Jangan terlalu fokus dengan manajemen, idariyah, takhtith (perencanaan), tapi kurang fokus dalam hak-hak Allah. Takhtith dan manajemen baru efektif kalau dilakukan oleh tangan yang berwudhu, kening yang banyak sujud, jiwa yang khusyu', hati yang tenang dan tunduk pada Allah. Tanpa itu, sehebat-hebatnya manajemen dan takhtith yang dilakukan takkan memberi kemenangan.... ¤ Apa yang dianggap orang adalah nafilah (sunah), bagi antum bernilai faridhah (wajib). Dimana posisi antum dalam tilawah minimal 1 juz sehari? Dimana posisi antum dalam raka'at-raka'at saat malam? Dimana posisi antum dalam infak? Dimana posisi antum dalam raka'at dhuha? ¤ Lawan politik uang yang biasa dijadikan senjata lawan-lawan politik antum dengan akhlaq, dengan ukhuwwah dan dengan ubudiyah.... Bukan dengan uang juga...!! ¤ Senjata antum hanya dua : hubungan baik dengan Allah dan akhlak dengan manusia. Dengan itu, dua cinta berhimpun, cinta Allah dan cinta manusia. Ustadz al-Banna mengatakan : "Nahnu nuqaatil an naas bil hubb" (Kita menaklukan manusia dengan cinta)

Thursday, 29 January 2015

Apabila Allah Tidak Mengkehendaki Kita Lagi



Apabila Allah tidak mengkehendaki kita lagi 💢 Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia... Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak... Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan... Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan... Semua hanya titipan, sekiranya kita mampu bertanya pada orang-2 yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah SWT dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi, sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia. Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah dan beribadah kepada Allah... Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, rumah besar, mobil mewah... Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu orang lain lebih dari kita.. Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita... Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun di Sepertiga Malam, sholat Tahajud & bermunajat. Kita cemburu apabila melihat orang lain ganti mobil baru dengan yang lebih mewah... Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al'Quran sebulan dua kali... Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin, tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita..., maka panggilan Ilahi bertambah dekat.. Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Hidup di dunia menentukan kehidupan yg kekal nanti di Akhirat. Sesungguhnya mati itu Benar. Alam kubur itu benar, Hisab itu benar, mahsyar Allah itu benar syurga dan neraka itu benar... Penyelesaian kepada masalah hidup adalah melalui iman dan amal..., Iman sebesar zarrah, Allah muliakan dengan Syurga ..... #selamat mendulang kebaikan

Pengemis Buta Madinah; Satu dari Sekian Cerminan Keagungan Akhlak Rasulullah


Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi Madinah setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya." Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?" Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja."
"Apakah itu?" tanya Abubakar RA.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana", kata Aisyah RA. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?"
Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW." Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Menuai Cinta dengan Kesabaran

Seiring waktu yang terus melaju, rasa lelah terhadap dakwah terkadang mampir menyapa. Seperti tali sepatu, karena lama serta seringnya sepatu membersamai langkah, talinya pun akan mengendor sedikit demi sedikit. Semangat muda yang kemarin ada, terkadang sirna.

Sabar, kunci penting para juru dakwah

Saudara syurgaku, Inilah jalan dakwah… Jalan para pejuang yang tidak khawatir terhadap pujian dan celaan yang membahana. Jalan para pengganti generasi yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka. "Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." [QS Al Maidah : 54] Umar radhiyallahu 'anhu bertanya kepada para syaikh dari kalangan bani 'Abbas, "Dengan apa kalian memerangi manusia?" Mereka menjawab: "Dengan kesabaran. Tidaklah kami menjumpai suatu kaum (musuh) melainkan kami bersabar menghadapi mereka sebagaimana mereka bersabar menghadapi kami." "Masing-masing dari kami tidaklah menyukai kematian dan sakitnya luka-luka, akan tetapi kami diberi kelebihan dengan kesabaran." [Tuhfatul Ahwadzi hal. 206] Saudaraku, Bangkitlah!!! Bersemangatlah!!! Pemberhentian kita bukan di dunia. Istirahat kita di Jannah-Nya. Dan musuh-musuh Allah takkan puas hingga Dien ini padam cahayanya. Jika bersama dakwah saja engkau serapuh itu, sekuat apa jika engkau seorang diri? [Ust. Rahmat Abdullah] #Semangat Dakwah #Semangat Tilawah #Semangat Menjadi Pribadi Indah -ummu adib- Divisi Tarqiyah Imaniyah PSDM ODOJ

Bagaimana Menjadi Murabbi Goblok?

Sangat tidak tepat istilah ini, tidak perlu dikembangkan lagi. Intinya kita perlu menjadi murabbi yang berpikir simpel, langsung praktek, tidak takut gagal, tidak takut salah, belajar dari kesalahan membina, mau akrab menemani mutarabi, serta menyampaikan hal yang bisa disampaikan.
Mulai membina

1. Berpikir simpel Jangan terlalu rumit memandang proses tarbiyah. Merasa belum menguasai manhaj, merasa belum menguasai ilmu alat, merasa belum menguasai mawad tarbiyah, sehingga akhirnya tidak membina. Itu karena terlalu rumit cara memandang tarbiyah. Simpel saja, tarbiyah itu aktivitas bersama antara murabbi dengan mutarabbi untuk menghantarkan mereka menuju muwashafat tarbiyahnya. Tanpa metode yang rumit, tanpa materi yang sulit, bahkan hanya dengan mengobrol santai saja, tarbiyah bisa berjalan. Lakukan saja, mulai saja, membina saja. Membina itu simpel kok... 2. Langsung praktek Tidak perlu berkutat dengan banyaknya teori. “Saya belum mengerti bagaimana cara mengevaluasi mutarabi”, itu tidak masalah. Nanti saja dipelajari. Sekarang langsung praktek, langsung membina saja. Tidak perlu IP tinggi dalam tarbiyah, cukup kemauan belajar dan semangat melakukan pembinaan. Jika menunggu sampai menguasai semua hal dalam “teori tarbiyah”, maka akan membuat tidak segera memulai praktek membina. Akhirnya hanya menjadi peserta daurah murabbi abadi, menguasai banyak teori, namun tidak mau praktek. Sudahlah, langsung praktek saja dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang pasti masih kita miliki. 3. Tidak takut gagal membina Gagal membina itu wajar saja. Banyak murabbi pernah mengalami. Kita tidak perlu takut gagal, takut membubarkan kelompok binaan, takut gagal menjadikan mutarabi menjadi kader yang handal. Sudahlah, mulai saja, lakukan saja, tidak perlu takut gagal atau bubar di tengah jalan. Ketakutan membina justru menjadi momok yang membuat tidak melakukan pembinaan. Padahal ketakutan itu justru akan terjawab dengan praktek melakukan pembinaan secara langsung. Kalau tidak praktek, bagaimana bisa mengetahui akan gagal atau berhasil? 4. Belajar dari kegagalan membina Bahkan ketika kita gagal membina, atau binaan bubar di tengah jalan, itu bisa memberi pelajaran penting tentang faktor-faktor kegagalan dan keberhasilan tarbiyah. Bukan mendapatkan ilmu lewat teori kuliah, tetapi mendapatkan ilmu dari praktek langsung di lapangan. Gagal pun ada pelajaran yang penting bagi pembentukan karakter murabbi dan kemampuan membina. Lakukan pembinaan, jika bubar, lakukan rekrutmen lagi, lalu dibina lagi dalam satu kelompok pembinaan. Jika kelompok kedua ini bubar lagi, rekrut kelompok berikutnya dan langsung dibina lagi, begitu seterusnya. Jangan takut gagal membina. 5. Tidak takut salah Setelah mengerti sangat banyak hal renik dari “teori tarbiyah”, kadang memunculkan ketakutan jangan-jangan tidak bisa sesuai dengan teori. Jangan-jangan cara saya membina tidak standar sebagaimana tuntutan manhaj. Ketakutan itu justru memberatkan diri sendiri. Setelah mengikuti daurah murabbi yang menjelaskan “teori tarbiyah”, segera praktek dan menjalankan program pembinaan. Tidak perlu takut salah, takut tidak sesuai teori, dan seterusnya. Tarbiyah itu proses, bukan sekali jadi. Maka yang penting mulai saja. Jika ada yang kurang dalam senuthannya, bisa dipoles sembari proses berjalan. 6. Mau akrab menemani mutarabi Mutarabi kita sekaligus bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi kita. Lakukan pendekatan dari hati ke hati, mau duduk akrab dengan mereka, tidak berjarak, mengobrol, bercanda, dan lain sebagainya. Itu akan membuat kedekatan murabbi dengan mutarabbi semakin baik, dan akan membuat proses tarbiyah semakin efektif. Berakrab dengan mutarabi juga sekaligus kontrol terhadap kondisi mereka. Murabbi bisa mengetahui situasi pemikiran dan jiwa mereka dalam berinteraksi dengan tarbiyah selama ini. 7. Sampaikan apa yang bisa disampaikan Nanti sore jadwal mengisi halaqah tarbawiyah? Jangan stres. Sampaikan saja apa yang bisa anda sampaikan. Mungkin berupa kisah, cerita, atau mengulas berita, atau menyampaikan satu madah tarrbiyah, atau memberikan tugas mutarabi untuk membaca buku tertentu dan menyampaikannya di forum, atau apa saja yang anda bisa. Jangan terbebani dengan pikiran “tidak punya sesuatu untuk disampaikan”. Anda bisa menyampaikan apa saja, termasuk cerita kejadian yang anda alami bersama keluarga. Itu bisa memancing diskusi menarik untuk diambil pelajaran pentingnya. Sudah siap? Harus siap. Semua harus membina, walau hanya satu kelompok binaan. Masih ada yang belum membina? Mungkin anda terlalu pandai. ~Cahyaditakariawan~