Sunday, 7 September 2014

KTN: Terbang Sendiri ke Ibukota (1)

Setelah pengumuman 10 Agustus 2014, saya dihubungi panitia beberapa hari selanjutnya untuk segera mengurus persiapan ke Jakarta dan Beijing. Dan tepat pada Minggu pagi, 24 Agustus, diantar tiga teman (Safrizal, Nano dan Rizki), saya melaku ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Blangbintang, Aceh Besar (senangnya nulis “bandara internasional”! J). Sayang, momen ini luput dari perhatian kamera.
Dan perjalanan dimulai! Inilah pengalaman perdana saya ke Jakarta sendirian (gayanya ngomong “sendirian”, padahal ke Jakarta baru dua kali!). Tidak ada teman. Semua terasa asing. Juga tidak ada persiapan khusus. Saya menumpang pesawat Lion Air ke ibukota.
Setiba di Bandara Soekarno-Hatta, rupanya teman-teman pemenang dari daerah lain sudah datang lebih dulu. Mereka siaga menunggu kedatangan saya di depan layar informasi di terminal kedatangan. Terakhir saya tahu mereka sempat tebak-tebakan, “Yuli itu yang mana orangnya?” Jawabanpun beragam. Ada yang bilang saya berjilbab, sebab dari Aceh. Ini jawaban paling unik! Tapi tak apalah, mengingat nama depan saya yang sering membuat orang salah duga.
Keterasingan saya kian terasa sebab teman-teman pemenang kebanyakan adalah penulis. Bahkan sebagian dari mereka sudah saling kenal sebelumnya. Saya diajak makan di KFC terdekat di bandara oleh Mas Risky, salah satu panitia. Mbak Winda, pemenang 3 Cerpen Nonfiksi, ikut menemani. Beliau sempat menanyakan beberapa hal, seperti “ini lomba ke berapa yang diikuti?” dan “aktif di komunitas menulis apa?”. Saya menjawab apa adanya.
Usai makan, rombongan kami segera menuju ke penginapan. Anjungan Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah yang juga menjadi tempat berlangsungnya acara penganugerahan pemenang nantinya. Di sini, saya berkenalan dengan para pemenang lainnya. Ada mas Gegge dari Makassar yang menjuarai Cerpen Nonfiksi. Beliau rupanya aktif di komunitas menulis terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena. Dari beliau, saya tahu banyak tentang FLP. Selanjutnya ada mas Didin (juara I Puisi) dan Faisal Oddang (juara III puisi). Keduanya juga dari Makassar. Lalu ada Guntur Alam (Sumatera Selatan, juara III cerpen fiksi) dan Faidi Rizal (Jawa Timur, juara III novel). Di kamar sebelah, selain Mbak Winda ada mbak Anggun Prameswari (juara II nonfiksi), mbak Ruwi Meita (juara I cerpen fiksi) dan Neng Lilis Suryani (juara II puisi) yang datang keesokan hari.
Esok paginya, kami jalan-jalan di sekitaran anjungan. Ada miniatur Candi Borobudur dan Prambanan di dekat wisma.

Miniatur Borobudur

Kami sempat berfoto di depan anjungan sebelum akhirnya berpencar.

Di depan anjungan

Tapi yang paling penting adalah pesan yang saya mintakan kepada Mbak Winda—yang orang Jawa Tengah—untuk membacakannya.
“Ojo dumeh,” kata Mbak Winda. Ojo dumeh berarti ‘jangan sombong’. Ya, jangan sombong atas prestasi ini.

Ojo Dumeh!

0 komentar:

Post a Comment