Setelah pengumuman 10
Agustus 2014, saya dihubungi panitia beberapa hari selanjutnya untuk segera
mengurus persiapan ke Jakarta dan Beijing. Dan tepat pada Minggu pagi, 24
Agustus, diantar tiga teman (Safrizal, Nano dan Rizki), saya melaku ke Bandara
Internasional Sultan Iskandar Muda di Blangbintang, Aceh Besar (senangnya nulis
“bandara internasional”! J). Sayang, momen ini luput dari
perhatian kamera.
Dan perjalanan dimulai!
Inilah pengalaman perdana saya ke Jakarta sendirian (gayanya ngomong “sendirian”,
padahal ke Jakarta baru dua kali!). Tidak ada teman. Semua terasa asing. Juga tidak
ada persiapan khusus. Saya menumpang pesawat Lion Air ke ibukota.
Setiba di Bandara
Soekarno-Hatta, rupanya teman-teman pemenang dari daerah lain sudah datang
lebih dulu. Mereka siaga menunggu kedatangan saya di depan layar informasi di
terminal kedatangan. Terakhir saya tahu mereka sempat tebak-tebakan, “Yuli itu
yang mana orangnya?” Jawabanpun beragam. Ada yang bilang saya berjilbab, sebab
dari Aceh. Ini jawaban paling unik! Tapi tak apalah, mengingat nama depan saya
yang sering membuat orang salah duga.
Keterasingan saya kian
terasa sebab teman-teman pemenang kebanyakan adalah penulis. Bahkan sebagian
dari mereka sudah saling kenal sebelumnya. Saya diajak makan di KFC terdekat di
bandara oleh Mas Risky, salah satu panitia. Mbak Winda, pemenang 3 Cerpen
Nonfiksi, ikut menemani. Beliau sempat menanyakan beberapa hal, seperti “ini
lomba ke berapa yang diikuti?” dan “aktif di komunitas menulis apa?”. Saya menjawab
apa adanya.
Usai makan, rombongan
kami segera menuju ke penginapan. Anjungan Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia
Indah yang juga menjadi tempat berlangsungnya acara penganugerahan pemenang
nantinya. Di sini, saya berkenalan dengan para pemenang lainnya. Ada mas Gegge
dari Makassar yang menjuarai Cerpen Nonfiksi. Beliau rupanya aktif di komunitas
menulis terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena. Dari beliau, saya tahu
banyak tentang FLP. Selanjutnya ada mas Didin (juara I Puisi) dan Faisal Oddang
(juara III puisi). Keduanya juga dari Makassar. Lalu ada Guntur Alam (Sumatera
Selatan, juara III cerpen fiksi) dan Faidi Rizal (Jawa Timur, juara III novel).
Di kamar sebelah, selain Mbak Winda ada mbak Anggun Prameswari (juara II
nonfiksi), mbak Ruwi Meita (juara I cerpen fiksi) dan Neng Lilis Suryani (juara
II puisi) yang datang keesokan hari.
Esok paginya, kami
jalan-jalan di sekitaran anjungan. Ada miniatur Candi Borobudur dan Prambanan
di dekat wisma.
![]() |
| Miniatur Borobudur |
Kami sempat berfoto di depan anjungan sebelum akhirnya
berpencar.
![]() |
| Di depan anjungan |
Tapi yang paling penting adalah pesan yang saya mintakan kepada Mbak
Winda—yang orang Jawa Tengah—untuk membacakannya.
“Ojo dumeh,” kata Mbak
Winda. Ojo dumeh berarti ‘jangan sombong’. Ya, jangan sombong atas prestasi
ini.
![]() |
| Ojo Dumeh! |



0 komentar:
Post a Comment