Senin,
25 Agustus 2014, mendadak menjadi salah satu hari penting dalam hidup saya. Ya,
pagi itu, satu dari sekian mimpi saya terwujud. Mimpi itu adalah menjuarai
kompetisi tingkat nasional. Meski sebenarnya tidak pernah terlintas sedikitpun
di benak akan mewujudkannya lewat ‘jalur lain’ (saya kuliah di jurusan
Pendidikan Matematika).
Pagi
itu, Kemenparekraf memberikan penganugerahan kepada kami, para pemenang KTN,
dalam sebuah acara sederhana di anjungan Jawa Tengah.
![]() |
| TKP :) |
![]() |
| Jelang acara |
Beberapa saat sebelum
acara dimulai, Mario sebagai pemenang II cerpen fiksi dan mas Andhika (juara II
novel) tiba di acara.
Pernyataan menarik yang disampaikan oleh Pak Iqbal
Alamsjah, Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media (semoga saya tidak salah), di
sambutan awalnya adalah “DNA orang Indonesia adalah kreatif”. Sebuah pernyataan
singkat yang sarat makna. Menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mengandung
doa.
Diselingi
tarian pembuka dan penutup, acara penganugerahan berlangsung khidmat. Untuk
pemenang novel, kami diselamati langsung oleh Pak Iqbal.
![]() |
| Momen bersejarah |
![]() |
| Ini dia: para pemenang |
Sebelum acara ditutup,
Faisal Odang membacakan puisi karyanya.
![]() |
| Faisal Oddang membacakan puisinya |
Selanjutnya, ada musikalisasi puisi
yang sama oleh dua orang yang sepertinya sudah disiapkan panitia.
Usai
acara, kami kembali ke wisma. Selain kami bertiga (juara I novel, cerpen fiksi
dan nonfiksi), semua bersiap-siap pulang. Sempat gaduh gara-gara tiket yang
salah tanggal, akhirnya mereka kembali juga ke daerah masing-masing. Tinggallah
kami bertiga—saya, Mas Gegge dan Mbak Ruwi—di wisma, menanti masa menuju
Beijing.





0 komentar:
Post a Comment