Friday, 15 August 2014

TENTANG PUJIAN



Tersebab Rasul saw. tak teladankan, maka hindari memuji nan berlebihan. Bukan tak sudi penghormatan, tapi imbasnya teramat kutakutkan. Sebab ia laksana mawar, harum tapi bertangkai duri menyakitkan. Yang lena dengan harumnya kelak dicelakai duri di kemudian.

Sungguh, yang kukhawatiri adalah hadirnya yang merusak niat lalu meruntuhkan ikhlasku. Karena diri ini tak selevel Abu Bakar Ash-Shiddiq yang boleh memasuki surga dari semua pintu. Tak pula setingkat ‘Umar ibn Khaththab yang bila berjalan, setan menghindar berharap tak bertemu. Tak jua setanding ‘Utsman ibn ‘Affan yang teramat shalih hatta malaikatpun jadi malu. Atau sebanding ‘Ali ibn Abi Thalib yang dipuji Rasul, “kamu bagian dariku dan aku bagian darimu”.

Jauh! Sebab diriku belum kukenal utuh, kutakut mudharatnya 'kan membuatku runtuh.

Maka mari teladani Rasul panutan. Bila memuji, pujilah ia di belakang. Bila berhadapan, sikap tercerdas adalah mendoakan. Tahanlah kekaguman, sebab bila diungkap, “leher saudaramu ‘kan terpenggal”.


Saudaraku, maka doamu jauh lebih kuharapkan. Lantaran ia lebih berguna lagi menenteramkan. Berguna, harapnya kualitas diri tertingkatkan. Tenteram lantaran niat tak berantakan.

0 komentar:

Post a Comment