
Tersebab Rasul saw. tak teladankan,
maka hindari memuji nan berlebihan. Bukan tak sudi penghormatan, tapi imbasnya teramat kutakutkan. Sebab ia laksana mawar, harum tapi bertangkai duri
menyakitkan. Yang lena dengan harumnya kelak dicelakai duri di kemudian.
Sungguh, yang kukhawatiri adalah
hadirnya yang merusak niat lalu meruntuhkan ikhlasku. Karena diri ini tak
selevel Abu Bakar Ash-Shiddiq yang boleh memasuki surga dari semua pintu. Tak pula
setingkat ‘Umar ibn Khaththab yang bila berjalan, setan menghindar berharap tak
bertemu. Tak jua setanding ‘Utsman ibn ‘Affan yang teramat shalih hatta
malaikatpun jadi malu. Atau sebanding ‘Ali ibn Abi Thalib yang dipuji Rasul,
“kamu bagian dariku dan aku bagian darimu”.
Jauh! Sebab diriku belum kukenal
utuh, kutakut mudharatnya 'kan membuatku runtuh.
Maka mari teladani Rasul
panutan. Bila memuji, pujilah ia di belakang. Bila berhadapan, sikap tercerdas
adalah mendoakan. Tahanlah kekaguman, sebab bila diungkap, “leher saudaramu ‘kan
terpenggal”.
Saudaraku, maka doamu jauh lebih kuharapkan.
Lantaran ia lebih berguna lagi menenteramkan. Berguna, harapnya kualitas diri
tertingkatkan. Tenteram lantaran niat tak berantakan.
0 komentar:
Post a Comment