“HAL pertama yang ingin saya sampaikan di sini adalah artikel ini terlepas dari tujuan politik.”

Tahun 2005, seorang walikota di Solo
dilantik. Namanya Joko Widodo. Kala itu, tidak banyak yang tahu atau setidaknya
pernah mendengar nama ini. Namun seiring berjalannya waktu, nama Joko
Widodo—yang kemudian lebih familiar dengan sebutan Jokowi—semakin booming di khalayak masyarakat.
Prestasi-prestasi yang disumbangkannya untuk kota Solo terkenal di masyarakat.
Yang paling megah tentu saja relokasi pedagang kaki lima (PKL) yang berlangsung
tanpa keributan.
Prestasi ini kian menghiasi media seiring
dengan penunjukan Jokowi oleh ketua umum PDI Perjuangan, Megawati
Soekarnoputri, sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Walhasil, lewat ‘kerja
keras’ tim sukses yang mengkampanyekan visi-misi calon dengan bumbu-bumbu
prestasi Solo, Jokowi yang bukan warga Jakarta itu berhasil memenangi Pilgub
meskipun masa jabatannya di Solo belum berakhir.
Waktu terus berlalu. Belum genap satu periode
memimpin Jakarta, Jokowi kembali diamanahkan ibu ketua umum partai untuk maju
sebagai calon presiden Indonesia 2014-2019. Jokowi yang merupakan
loyalis—beberapa media menggunakan kata ‘petugas’—partai segera mengiyakan.
Jabatan gubernur ibukota ditinggalkannya sementara dan diserahkan kepada
wakilnya, Basuki Thahaja Purnama (Ahok). Meski sudah dua kali berbuat
‘lancung’, masyarakat tetap saja menilai Jokowi memiliki daya tarik tersendiri
dan dianggap layak untuk dijadikan pemimpin.
Peran Media
Lalu sebenarnya apa yang membuat masyarakat
tetap percaya dengan Jokowi? Jawabannya: media.
Prestasi-prestasi yang dilambungkan media-lah
yang membuat sebagian rakyat yang belum pernah bertemu langsung dengan Jokowi
percaya bahwa sosok ini punya leadership yang
baik. Dengan bahasa lain, pencitraan media terhadap Jokowi membuat masyarakat
kagum.
Fokus pencitraan itu sendiri adalah ingin
memperlihatkan kepada rakyat bahwa Jokowi adalah sosok yang sederhana dan
merakyat. Sebuah akun twitter dengan nama @Sableng_ok
pada 12/6 menyebutkan bahwa pencitraan Jokowi dilakukan oleh media massa
bayaran, media sosial bayaran (sering dikenal dengan nama Jasmev, singkatan
dari Jokowi Advance Social Media
Volunteer), pengamat politik bayaran dan lembaga survey bayaran. Pencitraan
dilakukan dengan terstruktur dan massif di bawah arahan Diaz Hendro Priyono.
Sebagai contoh, saya kutip berita yang
diturunkan Tribunnews.com (10/6)
dengan judul Ini Kisah Sukses Jokowi di
Solo. Di badan berita tertulis “Jokowi melakukan komunikasi langsung secara
rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal)…”. Ini mengisyaratkan bahwa
memang media disiapkan terlebih dahulu ketika Jokowi hendak berkomunikasi
dengan masyarakat.
Terlepas dari benar atau tidaknya informasi di atas, yang jelas
sebagian besar rakyat Indonesia mengenal ‘kehebatan’ Jokowi lewat media.
Lalu apakah Jokowi lantas tanpa cacat selama
masa kepemimpinannya? Jawabannya tidak. Belakangan ini terkuak bahwa mobil
Esemka yang didengang-dengungkannya sebagai mobil karya anak bangsa ternyata
merupakan hasil rakitan dengan onderdil yang dicomot dari sana-sini. Belum lagi
masalah banjir Jakarta dan kasus TransJakarta yang bermasalah selama menjadi
gubernur Jakarta. Terbaru, hasil audit BPK menyebutkan Jakarta mengalami kerugian
triliunan rupiah selama kepemimpinan Jokowi-Ahok yang belum mencapai satu periode. Tapi lagi-lagi
media. Berkat media yang tidak menggembar-gemborkan hal ini, maka Jokowi tetap
terlihat sempurna di mata masyarakat.
Belajar dari
Jokowi
Apa hikmah yang bisa diambil? Bagi saya,
pelajarannya adalah peran media sebagai alat pencitraan. Terlihat jelas bahwa
kelihaian media mengekspos prestasi—yang oleh sebagian pengamat dianggap tidak
seberapa—dan menutup-nutupi kekurangan figur membuatnya menjelma sebagai dewa.
Lalu apakah tidak boleh melakukan pencitraan?
Tentu saja boleh, sejauh yang kita citrakan itu benar dan sesuai dengan
realita. Dalam ranah dakwah, tentu saja tidak dilarang mencitrakan dan
mengkampanyekan sebuah wajihah dakwah
kepada publik. Selama tujuan dari pencitraan itu adalah agar publik mengenal
dan memahami sepak terjang wajihah tersebut, bukan untuk terkenal dan mencari
sensasi atau keuntungan duniawi lainnya. Lebih jauh lagi, tentu saja agar ummat
tertarik untuk bergabung dalam barisan dakwah untuk menebar rahmat Islam ke
segala arah.
Belajar dari Jokowi, maka lakukanlah
pencitraan untuk wajihah dakwah antum.
Pencitraan yang jujur akan menimbulkan respek dan daya tarik yang ‘awet’ dari
masyarakat. Oleh karenanya, belajar dari JASMEV, antum juga harus menjadikan diri sebagai bagian dari armada
jejaring sosial lembaga dakwah. Banyak
hal-hal kecil yang bisa dilakukan bukan? Like
dan Share di Facebook, Reply dan Retweet di Twitter, +1 di Google+ dan sebagainya. Itu semua bisa
antum lakukan agar pesan kebaikan yang ingin disampaikan lembaga dakwah semakin
meluas. Kelihatan kecil memang, tapi sesuatu yang besar selalu dimulai dari
hal-hal kecil, bukan?
0 komentar:
Post a Comment