Monday, 23 June 2014

Catatan Akhir Juni: Antara PD, BP Dan PP



"ADA yang istimewa pada perjumpaan dengan Ramadhan kali ini."


 


Ada dua event besar beda orientasi pada bulan keenam Masehi ini. Event pertama adalah hajatan besar yang dilaksanakan empat tahun sekali, dimulai sejak 1930 (artinya ini adalah perhelatan ke-20), biasanya dipusatkan di satu negara (pernah di dua negara pada tahun 2002, Korea Selatan dan Jepang) dan cukup berhasil menyedot perhatian publik. Event ini berorientasi dunia, itu terlihat jelas dari namanya sendiri: Piala Dunia—saya menyingkatnya dengan PD saja. Kali ini, PD dipusatkan di Brasil, sebuah negara berareal cukup besar bahkan terluas dibandingkan negara-negara lain di kawasan Amerika Selatan. Dengan segala kelebihan—negara yang sebagian besar rakyatnya ‘menggilai’ bola, peraih trofi PD terbanyak, bintang lapangan hijau yang bertabur—dan kekurangan—alokasi APBN yang jor-joran untuk renovasi stadion, protes dan demo anti PD, masalah kemiskinan dan pengangguran yang menjamur—yang dimilikinya, Brasil ternyata mampu membuat mata dunia teralihkan ke sana.

Event besar kedua berbeda 180 derajat. Berlangsung tiap tahun, dimulai sejak 14 abad silam, tidak dipusatkan di satu negara sebab berlaku di seluruh penjuru dunia, tapi hanya mampu menarik perhatian sebagian orang. Berorientasi akhirat (meski ada begitu banyak keuntungan duniawi yang didapatkan), agenda besar ini bernama Ramadhan—kita sering menyebutnya bulan puasa, jadi saya singkat dengan BP.

Inilah dua kegiatan besar yang dimulai dalam bulan ini. Terlihat kontras perbedaan keduanya. Jikapun ada yang sama, maka itu hanyalah rentang pelaksanaannya yang berdurasi kurang lebih satu bulan. PD dimulai di pertengahan bulan, 13 Juni, dan baru akan berakhir pada tanggal 14 bulan selanjutnya. Sementara 1 Ramadhan—sesuai perhitungan sementara sembari menunggu rukyatul hilal—jatuh pada 29 Juni dan berakhir pada tanggal 27 Juli mendatang.

Pelajaran Ramadhan dari PD
Terlepas dari hingar bingar PD, saya menarik satu pelajaran berharga darinya. Kita tahu bahwa semua negara yang tergabung dalam FIFA—Federasi Sepakbola Internasional—berjuang mati-matian pada tahap kualifikasi agar bisa lolos ke babak final PD. Namun hanya 32 negara terbaiklah yang berhak mendapatkan tiket ke Brasil. Lalu di pentas PD, 32 tim itu bertarung untuk menjadi pemenang hingga berhak mengangkat trofi emas 22 karat di stadion Maracana nantinya. Artinya apa? Perlu kesiapan yang serius demi lolos ke ajang empat tahunan ini. Lalu apakah cukup di situ? Ternyata tidak. Usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras serta konsentrasi sangat dibutuhkan untuk menyingkirkan lawan demi menyabet gelar jawara.

Hal ini mengajarkan saya bahwa sebenarnya ini juga yang kita perlukan jelang Ramadhan mulia yang tinggal beberapa hari lagi ini. Kita perlu kesiapan yang matang menyambut bulan penuh berkah ini. Penting untuk memastikan fisik dalam kondisi prima sehingga mampu berpuasa nantinya, memastikan stok finansial dalam kondisi memadai sehingga cukup untuk disedekahkan selama 30 hari Ramadhan, dan memastikan pemahaman tentang Ramadhan cukup jelas sehingga bisa menunaikan pilar Islam itu sebaik mungkin. Tak lupa, perlu kesiapan ruhiyah yang mantap agar motivasi beribadah tetap terjaga. Kesiapan inilah yang mungkin dimaksud Rasulullah saw. sebagai bentuk kegembiraan menyambut Ramadhan. “Barangsiapa yang gembira dengan datangnya Ramadhan, maka Allah haramkan neraka baginya.”

Lalu, cukupkah persiapan itu menjadi segala-galanya bagi kita mengarungi Ramadhan? Ternyata masih belum. Persiapan adalah syarat pertarungan. Karena Allah telah sediakan 11 bulan untuk mempersiapkan diri, maka siap tidak siap semua Muslim wajib terjun ke dalam kancah pertarungan ini. Berbeda dengan kontestan PD yang dihadapkan dengan 7 lawan (ini jumlah maksimal bagi tim yang mencapai final) pada 7 hari yang berselang, kita  akan bertarung dengan 1 lawan saja selama 30 hari berturut-turut! Dan lawan itu bernama nafsu.
Cukupkah persiapan itu menjadi segala-galanya? Ternyata masih belum. Seperti peserta PD, kita butuh usaha dan kerja keras serta konsentrasi demi menjadi pemenang. Persiapan hanyalah persiapan, meski sebenarnya juga diganjar pahala oleh Allah. Namun praktik akan jauh lebih penting. Apalah arti fisik yang prima jika selama Ramadhan menjadi malas-malasan bertarawih? Apalah guna harta yang banyak jika selama Ramadhan dihabiskan untuk membeli makanan banyak-banyak demi ‘menuntaskan dendam’ siang hari? Apalah faedah wawasan Ramadhan yang luas jika selama Ramadhan tetap saja menggosip dan berkata-kata yang tidak perlu?

Cukupkah persiapan itu menjadi segala-galanya? Ternyata masih belum. Tersebab “al-imaanu yaziidu wa yanqush”, kita perlu menjaga ruhiyah dalam kondisi yang juga prima. Ini yang berat! Sebab nafsu paham betul bahwa ini adalah titik kelemahan kita.

Maka, rumus pertarungan kita di Ramadhan nantinya lebih kurang sama dengan negara-negara yang bertarung di PD: all-out! Kelak di 1 Syawal nantinya, kita akan keluar sebagai pemenang!

BP dan PP
Ada yang istimewa pada perjumpaan dengan Ramadhan kali ini, khususnya bagi kita Muslim Indonesia. Istimewa, sebab belum pernah terjadi sebelumnya. Menyambut Ramadhan kali ini, kita juga dihadapkan pada event besar lainnya, Pilpres—Pemilu Presiden, dan oleh karenanya saya menyingkatnya PP—yang akan berlangsung pada awal Juli nantinya. Baru kali ini, ajang tahunan, ajang empat tahunan dan ajang lima tahunan berjumpa dalam satu tahun, bahkan di bulan yang sama. Secara matematis, hal ini akan terjadi untuk kedua kalinya 20 tahun mendatang.

Sejatinya, Pilpres memang digelar di Juli. Namun sekarang adalah masa kampanye. Tak pelak, ini juga menjadi kancah pertarungan bagi kedua kubu yang bertarung: Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Mungkin karena hanya ada dua pasangan, pertarungan ini terasa begitu sengit. Melibatkan tokoh-tokoh negara dari kalangan militer hingga pengusaha. Terkadang menjurus ke black campaign. Debat kandidatpun berlangsung hingga empat kali.
Tapi yang perlu disadari adalah kata yang saya “italic”-kan di paragraph di atas. Ya, kampanye hitam. Kampanye hitam adalah fitnah tak berdasar dan berpotensi memecah belah persatuan. Maka ia lebih buruk dari pembunuhan. Lalu? Hindari! Pembunuhan adalah dosa besar, bagaimana lagi jika Anda melakukan dosa lain yang lebih buruk dari dosa besar?

Semoga tiga pertarungan di atas menghasilkan pemenang terbaik dengan cara-cara yang baik pula. Adalah jauh lebih penting mempersiapkan diri menjadi juara BP daripada mati-matian begadang demi menunggu tim mana yang muncul sebagai pemenang PD. Namun jangan lupa pula untuk berdoa kepada Allah swt. agar Nusantara ini diberikan pemimpin terbaik yang nantinya akan kita pilih di PP nanti. Amin.

1 comment: