"ADA yang istimewa pada perjumpaan dengan Ramadhan kali ini."
Ada
dua event besar beda orientasi pada
bulan keenam Masehi ini. Event pertama adalah hajatan besar yang dilaksanakan
empat tahun sekali, dimulai sejak 1930 (artinya ini adalah perhelatan ke-20),
biasanya dipusatkan di satu negara (pernah di dua negara pada tahun 2002, Korea
Selatan dan Jepang) dan cukup berhasil menyedot perhatian publik. Event ini
berorientasi dunia, itu terlihat jelas dari namanya sendiri: Piala Dunia—saya
menyingkatnya dengan PD saja. Kali ini, PD dipusatkan di Brasil, sebuah negara
berareal cukup besar bahkan terluas dibandingkan negara-negara lain di kawasan
Amerika Selatan. Dengan segala kelebihan—negara yang sebagian besar rakyatnya
‘menggilai’ bola, peraih trofi PD terbanyak, bintang lapangan hijau yang
bertabur—dan kekurangan—alokasi APBN yang jor-joran untuk renovasi stadion,
protes dan demo anti PD, masalah kemiskinan dan pengangguran yang menjamur—yang
dimilikinya, Brasil ternyata mampu membuat mata dunia teralihkan ke sana.
Event
besar kedua berbeda 180 derajat. Berlangsung tiap tahun, dimulai sejak 14 abad
silam, tidak dipusatkan di satu negara sebab berlaku di seluruh penjuru dunia,
tapi hanya mampu menarik perhatian
sebagian orang. Berorientasi akhirat (meski ada begitu banyak keuntungan
duniawi yang didapatkan), agenda besar ini bernama Ramadhan—kita sering
menyebutnya bulan puasa, jadi saya singkat dengan BP.
Inilah
dua kegiatan besar yang dimulai dalam bulan ini. Terlihat kontras perbedaan keduanya.
Jikapun ada yang sama, maka itu hanyalah rentang pelaksanaannya yang berdurasi
kurang lebih satu bulan. PD dimulai di pertengahan bulan, 13 Juni, dan baru
akan berakhir pada tanggal 14 bulan selanjutnya. Sementara 1 Ramadhan—sesuai
perhitungan sementara sembari menunggu rukyatul
hilal—jatuh pada 29 Juni dan berakhir pada tanggal 27 Juli mendatang.
Pelajaran Ramadhan dari PD
Terlepas
dari hingar bingar PD, saya menarik satu pelajaran berharga darinya. Kita tahu
bahwa semua negara yang tergabung dalam FIFA—Federasi Sepakbola
Internasional—berjuang mati-matian pada tahap kualifikasi agar bisa lolos ke
babak final PD. Namun hanya 32 negara terbaiklah yang berhak mendapatkan tiket
ke Brasil. Lalu di pentas PD, 32 tim itu bertarung untuk menjadi pemenang
hingga berhak mengangkat trofi emas 22 karat di stadion Maracana nantinya.
Artinya apa? Perlu kesiapan yang serius demi lolos ke ajang empat tahunan ini.
Lalu apakah cukup di situ? Ternyata tidak. Usaha yang sungguh-sungguh dan kerja
keras serta konsentrasi sangat dibutuhkan untuk menyingkirkan lawan demi
menyabet gelar jawara.
Hal
ini mengajarkan saya bahwa sebenarnya ini juga yang kita perlukan jelang
Ramadhan mulia yang tinggal beberapa hari lagi ini. Kita perlu kesiapan yang
matang menyambut bulan penuh berkah ini. Penting untuk memastikan fisik dalam
kondisi prima sehingga mampu berpuasa nantinya, memastikan stok finansial dalam kondisi memadai sehingga cukup untuk
disedekahkan selama 30 hari Ramadhan, dan memastikan pemahaman tentang Ramadhan
cukup jelas sehingga bisa menunaikan pilar Islam itu sebaik mungkin. Tak lupa,
perlu kesiapan ruhiyah yang mantap
agar motivasi beribadah tetap terjaga. Kesiapan inilah yang mungkin dimaksud
Rasulullah saw. sebagai bentuk kegembiraan menyambut Ramadhan. “Barangsiapa yang gembira dengan datangnya
Ramadhan, maka Allah haramkan neraka baginya.”
Lalu,
cukupkah persiapan itu menjadi segala-galanya bagi kita mengarungi Ramadhan?
Ternyata masih belum. Persiapan adalah syarat pertarungan. Karena Allah telah
sediakan 11 bulan untuk mempersiapkan diri, maka siap tidak siap semua Muslim
wajib terjun ke dalam kancah pertarungan ini. Berbeda dengan kontestan PD yang
dihadapkan dengan 7 lawan (ini jumlah maksimal bagi tim yang mencapai final)
pada 7 hari yang berselang, kita akan
bertarung dengan 1 lawan saja selama 30 hari berturut-turut! Dan lawan itu
bernama nafsu.
Cukupkah
persiapan itu menjadi segala-galanya? Ternyata masih belum. Seperti peserta PD,
kita butuh usaha dan kerja keras serta konsentrasi demi menjadi pemenang.
Persiapan hanyalah persiapan, meski sebenarnya juga diganjar pahala oleh Allah.
Namun praktik akan jauh lebih penting. Apalah arti fisik yang prima jika selama
Ramadhan menjadi malas-malasan bertarawih? Apalah guna harta yang banyak jika
selama Ramadhan dihabiskan untuk membeli makanan banyak-banyak demi
‘menuntaskan dendam’ siang hari? Apalah faedah wawasan Ramadhan yang luas jika
selama Ramadhan tetap saja menggosip dan berkata-kata yang tidak perlu?
Cukupkah
persiapan itu menjadi segala-galanya? Ternyata masih belum. Tersebab “al-imaanu yaziidu wa yanqush”, kita
perlu menjaga ruhiyah dalam kondisi
yang juga prima. Ini yang berat! Sebab nafsu paham betul bahwa ini adalah titik
kelemahan kita.
Maka,
rumus pertarungan kita di Ramadhan nantinya lebih kurang sama dengan
negara-negara yang bertarung di PD: all-out!
Kelak di 1 Syawal nantinya, kita akan keluar sebagai pemenang!
BP dan PP
Ada
yang istimewa pada perjumpaan dengan Ramadhan kali ini, khususnya bagi kita
Muslim Indonesia. Istimewa, sebab belum pernah terjadi sebelumnya. Menyambut
Ramadhan kali ini, kita juga dihadapkan pada event besar lainnya,
Pilpres—Pemilu Presiden, dan oleh karenanya saya menyingkatnya PP—yang akan
berlangsung pada awal Juli nantinya. Baru kali ini, ajang tahunan, ajang empat
tahunan dan ajang lima tahunan berjumpa dalam satu tahun, bahkan di bulan yang
sama. Secara matematis, hal ini akan terjadi untuk kedua kalinya 20 tahun
mendatang.
Sejatinya,
Pilpres memang digelar di Juli. Namun sekarang adalah masa kampanye. Tak pelak,
ini juga menjadi kancah pertarungan bagi kedua kubu yang bertarung:
Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Mungkin karena hanya ada dua pasangan, pertarungan
ini terasa begitu sengit. Melibatkan tokoh-tokoh negara dari kalangan militer
hingga pengusaha. Terkadang menjurus ke black
campaign. Debat kandidatpun berlangsung hingga empat kali.
Tapi
yang perlu disadari adalah kata yang saya “italic”-kan di paragraph di atas.
Ya, kampanye hitam. Kampanye hitam adalah fitnah tak berdasar dan berpotensi memecah
belah persatuan. Maka ia lebih buruk dari pembunuhan. Lalu? Hindari! Pembunuhan
adalah dosa besar, bagaimana lagi jika Anda melakukan dosa lain yang lebih
buruk dari dosa besar?
Semoga
tiga pertarungan di atas menghasilkan pemenang terbaik dengan cara-cara yang
baik pula. Adalah jauh lebih penting mempersiapkan diri menjadi juara BP
daripada mati-matian begadang demi menunggu tim mana yang muncul sebagai
pemenang PD. Namun jangan lupa pula untuk berdoa kepada Allah swt. agar
Nusantara ini diberikan pemimpin terbaik yang nantinya akan kita pilih di PP
nanti. Amin.
Good article
ReplyDelete