Dulu ketika
beranjak remaja, aku sering diejek teman-teman. Penyebabnya simpel. Aku menolak
berpuluh-puluh tawaran bungkus rokok yang disodorkan di hadapanku. Padahal kala
itu, hampir semua teman-teman merokok. Hebatnya lagi, semuanya merokok secara
sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan orang tua atau saudaranya.
Uniknya, hal semacam ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri di kalangan
anak-anak seusia kami. Melakukan tabu, melanggar pantangan atau apalah namanya.
Jika sukses melakukan itu, maka si pelaku merasa sudah dewasa. Teman-temanpun
mau tidak mau harus mengakui kehebatannya. Paradigma seperti ini terus
bertahan, bahkan berkembang ke arah yang lebih ekstrim lagi. Ketika mayoritas
dari kami sudah melakukannya, maka beberapa orang saja yang tidak merokok mulai
terkucilkan. Lalu, mulailah muncul ungkapan-ungkapan “merokok itu pertanda
kejantanan seorang anak laki-laki”dan “hanya banci yang tidak merokok”.
Aku, dan beberapa teman saja, yang tidak pernah menghisap balutan tembakau itu
terpaksa harus menerima bulat-bulat ejekan menyakitkan itu. Bahkan, jumlah kami
yang tidak merokok semakin berkurang karena ada beberapa yang tidak tahan
menerima ejekan serupa saban hari, akhirnya memutuskan untuk merokok. Atau, ada
juga yang tergiur untuk coba-coba dan akhirnya ketagihan. Beberapa juga
melakukannya karena “ah, gak enak rasanya terus-terusan menolak tawaran
teman dekat!” Tragis!
Untungnya, dalam kondisi ‘kritis’ itu, aku tetap konsisten untuk tidak
merokok. Selain
orang tua tidak mengizinkan, aku juga terkenal pelit dalam urusan keuangan. Kali ini, kepelitanku berada pada tempatnya. Pelit untuk tidak membakar
uang secara cuma-cuma untuk membeli penyakit. Faktor ketiga yang membuatku istiqamah
adalah perbandingan gambar paru-paru orang merokok dengan orang yang tidak
merokok di buku IPA. Bagiku, gambar itu lebih dari cukup untuk menghindari
rokok meskipun sebenarnya tidak pernah cukup bagi pecandu rokok.
Ejekan-ejekan tadi terus saja berlanjut hingga aku menginjak bangku SMA,
bahkan semakin bervariasi. Ketika telapak tangan kuarahkan pada setiap teman
yang menawarkan gulungan-gulungan tembakau itu, aku pasti akan mendapatkan
respons –meskipun kebanyakan dilontarkan dengan nada bercanda:
“Ah lu, banci.”
“Ah, gak jantan.”
“Gaul, meeeenn!”
“Bodoh amat
sih. Gratis aja gak mau.”
Nah, merasa
perlu untuk menyadarkan mereka, aku mencari-cari jawaban yang tepat jika
ejekan-ejekan itu dilontarkan lagi. Setelah menemukannya, aku menunggu-nunggu
mereka melakukannya lagi. Terkadang, aku memang sengaja mencari kesempatan agar
mereka menawariku rokok. Dan itupun terjadi.
Seperti biasa, aku menolaknya. Temanku ketus, “Banci lu!“ Setengah
tertawa, aku berkata, “Setahuku, justru hampir semua banci merokok, bray.
Coba datangin aja tempat mereka mangkal”. Si teman terperangah begitu
menyadari ada ‘senjata makan tuan’. Aku senyam-senyum saja melihat ekspresinya.
Ketika ada teman lain yang mengatakan “rokok itu menunjukkan jati diri
kita sebenarnya, menunjukkan kejantanan kita!”, aku meminta bungkusan
rokoknya. Ia memberikannya padaku. Lalu kutunjuk kotak kecil
berisikanperingatan pemerintah.
“Silahkan dibaca.”
Ya, di situ memang tertera kalimat “Merokok dapat menyebabkan kanker,
impotensi, gangguankehamilan dan janin” (Atau sekarang telah keluar ‘edisi’
terbaru: Rokok Membunuhmu).
Setelah ia membacanya, aku bertanya, “Kira-kira kalau kita sering
merokok, terus impotensi, itu masih jantan, nggak?”
“Gaul, men!”
Kalimat ini pernah mencapai ‘puncak kejayaannya’ beberapa
tahun silam. Pokoknya, merokok adalah salah satu ciri anak muda yang ‘gaul’. Nggak
merokok, nggak gaul.
Ketika
statemen itu diarahkan padaku, maka kupegang pundaknya. Lalu kutanyakan, “Kenal
ustadz Jefri (alm), nggak?”. Ia mengangguk. Lalu kulanjutkan
pertanyaanku, “Julukannya yang paling terkenal apa?”. Jawabnya, “Ustadz Gaul”. Aku bertanya lagi, “Berarti dia merokok,
dong?”. Temanku yang sudah tahu arah pembicaraan hanya bisa nyengir sambil
garuk-garuk kepala.
Nah, untuk
yang terakhir, “Bodoh amat sih. Gratis aja gak mau”, aku biasanya
langsung jawab, “Ya iyalah, siapa juga yang mau gratis dapat penyakit?”.
Ah, cerita
masa lalu. Kita hanya bisa berharap, jargon baru rokok ini semakin menyadarkan
pecandu tembakau untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Mari membangun
bangsa yang sehat, Indonesia Tanpa Rokok!
0 komentar:
Post a Comment