Wednesday, 8 January 2014

Rokok Itu Jantan?



 Dulu ketika beranjak remaja, aku sering diejek teman-teman. Penyebabnya simpel. Aku menolak berpuluh-puluh tawaran bungkus rokok yang disodorkan di hadapanku. Padahal kala itu, hampir semua teman-teman merokok. Hebatnya lagi, semuanya merokok secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan orang tua atau saudaranya.

Uniknya, hal semacam ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri di kalangan anak-anak seusia kami. Melakukan tabu, melanggar pantangan atau apalah namanya. Jika sukses melakukan itu, maka si pelaku merasa sudah dewasa. Teman-temanpun mau tidak mau harus mengakui kehebatannya. Paradigma seperti ini terus bertahan, bahkan berkembang ke arah yang lebih ekstrim lagi. Ketika mayoritas dari kami sudah melakukannya, maka beberapa orang saja yang tidak merokok mulai terkucilkan. Lalu, mulailah muncul ungkapan-ungkapan “merokok itu pertanda kejantanan seorang anak laki-laki”dan “hanya banci yang tidak merokok”. Aku, dan beberapa teman saja, yang tidak pernah menghisap balutan tembakau itu terpaksa harus menerima bulat-bulat ejekan menyakitkan itu. Bahkan, jumlah kami yang tidak merokok semakin berkurang karena ada beberapa yang tidak tahan menerima ejekan serupa saban hari, akhirnya memutuskan untuk merokok. Atau, ada juga yang tergiur untuk coba-coba dan akhirnya ketagihan. Beberapa juga melakukannya karena “ah, gak enak rasanya terus-terusan menolak tawaran teman dekat!” Tragis!

Untungnya, dalam kondisi ‘kritis’ itu, aku tetap konsisten untuk tidak merokok. Selain orang tua tidak mengizinkan, aku juga terkenal pelit dalam urusan keuangan. Kali ini, kepelitanku berada pada tempatnya. Pelit untuk tidak membakar uang secara cuma-cuma untuk membeli penyakit. Faktor ketiga yang membuatku istiqamah adalah perbandingan gambar paru-paru orang merokok dengan orang yang tidak merokok di buku IPA. Bagiku, gambar itu lebih dari cukup untuk menghindari rokok meskipun sebenarnya tidak pernah cukup bagi pecandu rokok.

Ejekan-ejekan tadi terus saja berlanjut hingga aku menginjak bangku SMA, bahkan semakin bervariasi. Ketika telapak tangan kuarahkan pada setiap teman yang menawarkan gulungan-gulungan tembakau itu, aku pasti akan mendapatkan respons –meskipun kebanyakan dilontarkan dengan nada bercanda:
“Ah lu, banci.”
“Ah, gak jantan.”
“Gaul, meeeenn!”
“Bodoh amat sih. Gratis aja gak mau.”

Nah, merasa perlu untuk menyadarkan mereka, aku mencari-cari jawaban yang tepat jika ejekan-ejekan itu dilontarkan lagi. Setelah menemukannya, aku menunggu-nunggu mereka melakukannya lagi. Terkadang, aku memang sengaja mencari kesempatan agar mereka menawariku rokok. Dan itupun terjadi.

Seperti biasa, aku menolaknya. Temanku ketus, “Banci lu!“ Setengah tertawa, aku berkata, “Setahuku, justru hampir semua banci merokok, bray. Coba datangin aja tempat mereka mangkal”. Si teman terperangah begitu menyadari ada ‘senjata makan tuan’. Aku senyam-senyum saja melihat ekspresinya.

Ketika ada teman lain yang mengatakan “rokok itu menunjukkan jati diri kita sebenarnya, menunjukkan kejantanan kita!”, aku meminta bungkusan rokoknya. Ia memberikannya padaku. Lalu kutunjuk kotak kecil berisikanperingatan pemerintah.
“Silahkan dibaca.”
Ya, di situ memang tertera kalimat “Merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguankehamilan dan janin” (Atau sekarang telah keluar ‘edisi’ terbaru: Rokok Membunuhmu).
Setelah ia membacanya, aku bertanya, “Kira-kira kalau kita sering merokok, terus impotensi, itu masih jantan, nggak?”

“Gaul, men!” Kalimat ini pernah mencapai ‘puncak kejayaannya’ beberapa tahun silam. Pokoknya, merokok adalah salah satu ciri anak muda yang ‘gaul’. Nggak merokok, nggak gaul.
Ketika statemen itu diarahkan padaku, maka kupegang pundaknya. Lalu kutanyakan, “Kenal ustadz Jefri (alm), nggak?”. Ia mengangguk. Lalu kulanjutkan pertanyaanku, “Julukannya yang paling terkenal apa?”. Jawabnya, “Ustadz Gaul”. Aku bertanya lagi, “Berarti dia merokok, dong?”. Temanku yang sudah tahu arah pembicaraan hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala.

Nah, untuk yang terakhir, “Bodoh amat sih. Gratis aja gak mau”, aku biasanya langsung jawab, “Ya iyalah, siapa juga yang mau gratis dapat penyakit?”.


Ah, cerita masa lalu. Kita hanya bisa berharap, jargon baru rokok ini semakin menyadarkan pecandu tembakau untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Mari membangun bangsa yang sehat, Indonesia Tanpa Rokok!

0 komentar:

Post a Comment