Kalimat ini tiba-tiba saja melintas di benak,
lalu mengajak fikir untuk meresapi pesan yang dikandungnya. Ini kalimat
yang mengajakku untuk meningkatkan rasa syukur yang terkadang sering terlupa. Syukur
atas segala nikmat.
Mungkin
kita perlu merasa kehilangan nikmat sehat agar bisa merasakan betapa nikmatnya
memiliki tubuh yang bugar. Maka dari itu, Allah
Yang Maha Adil menganugerahi kita sakit. Kenapa menganugerahi? Karena dengan
sakit, kita kembali mengingat Allah. Karena dengan sakit, kita kembali tersadar
akan betapa mahalnya kesehatan. Karena dengan sakit, Allah akan gugurkan
dosa-dosa.
Atau juga kita perlu merasakan kehilangan
barang berharga agar betapa tahu nikmatnya memiliki barang itu. Dulu ketika
memilikinya, kita kadang-kadang sering kurang tepat mengambil nilai manfaatnya.
Punya laptop, kita malah sibuk dengan games ketimbang menyelesaikan
tugas-tugas kuliah. Punya BB, kita sibuk ber-BBM ria dan melupakan tugas-tugas
yang lebih penting lainnya.
Sekali-kali, mungkin kita perlu merasakan
lapar yang sangat, agar bisa tahu betapa amat nikmatnya rasa kenyang itu. Maka dari
itu, Allah memerintahkan kita berpuasa. Beberapa saat –sejak matahari terbit
hingga terbenam—memerankan hidup saudara-saudara kita yang tak berpunya. Dan betapa
adilnya Sang Pencipta, karena berpuasa –menahan lapar—pun menjadi anugerah yang
tak terkira faedahnya. Dengan berpuasa, Allah ingin kita menjadi lebih peka
terhadap lingkungan, menjadi lebih peduli kepada tetangga yang sedang
kesulitan. Dengan berpuasa, Allah menginginkan kita hidup sehat, tidak
berlebihan. Sekali-kali, lambung dan usus perlu untuk dibebastugaskan karena
sejatinya semua yang bekerja membutuhkan istirahat.
“Lalu, aku menemukan keadaan di mana tidak
ada sedikitpun alasan untuk tidak bersyukur. Tidak ada alasan untuk tidak
menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Maka, aku harus mensyukuri
nikmat-nikmat itu. Mensyukuri nikmat sehat, harta, dan segala amanah yang
dititipkan sementara ini. Mensyukuri nikmat terbesar, dilahirkan dalam keluarga
Islam serta diberikan cahaya hidayah yang indah bersinar.
Aku harus mensyukurinya segalanya dengan
sepenuh hati karena tak bisa kubayangkan jika seandainya Allah berkehendak
menuntut balas segala yang telah ia berikan. Aku harus mensyukuri semuanya setulus
mungkin, seikhlas jiwa raga.”
Jika sudah demikian, bersyukurpun bahkan akan
menjadi kenikmatan tersendiri. Karena ketika syukur dilakukan sepenuh hati, ketika
kita ikhlas menjalankan perintah Allah, ketika kita ridha untuk menjauhi
segenap larangNya, ketika itu jua kita menemukan kenikmatan, ketenangan,
kedamaian yang semakin langka dijumpai wujudnya di kehidupan ini.
0 komentar:
Post a Comment