Sunday, 5 January 2014

Menikmati Kehilangan


Mungkin kita perlu merasakan kehilangan agar tahu betapa nikmatnya memiliki.

Kalimat ini tiba-tiba saja melintas di benak, lalu mengajak fikir untuk meresapi pesan yang dikandungnya. Ini kalimat yang mengajakku untuk meningkatkan rasa syukur yang terkadang sering terlupa. Syukur atas segala nikmat.

Mungkin kita perlu merasa kehilangan nikmat sehat agar bisa merasakan betapa nikmatnya memiliki tubuh yang bugar. Maka dari itu, Allah Yang Maha Adil menganugerahi kita sakit. Kenapa menganugerahi? Karena dengan sakit, kita kembali mengingat Allah. Karena dengan sakit, kita kembali tersadar akan betapa mahalnya kesehatan. Karena dengan sakit, Allah akan gugurkan dosa-dosa.

Atau juga kita perlu merasakan kehilangan barang berharga agar betapa tahu nikmatnya memiliki barang itu. Dulu ketika memilikinya, kita kadang-kadang sering kurang tepat mengambil nilai manfaatnya. Punya laptop, kita malah sibuk dengan games ketimbang menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Punya BB, kita sibuk ber-BBM ria dan melupakan tugas-tugas yang lebih penting lainnya.

Sekali-kali, mungkin kita perlu merasakan lapar yang sangat, agar bisa tahu betapa amat nikmatnya rasa kenyang itu. Maka dari itu, Allah memerintahkan kita berpuasa. Beberapa saat –sejak matahari terbit hingga terbenam—memerankan hidup saudara-saudara kita yang tak berpunya. Dan betapa adilnya Sang Pencipta, karena berpuasa –menahan lapar—pun menjadi anugerah yang tak terkira faedahnya. Dengan berpuasa, Allah ingin kita menjadi lebih peka terhadap lingkungan, menjadi lebih peduli kepada tetangga yang sedang kesulitan. Dengan berpuasa, Allah menginginkan kita hidup sehat, tidak berlebihan. Sekali-kali, lambung dan usus perlu untuk dibebastugaskan karena sejatinya semua yang bekerja membutuhkan istirahat.

“Lalu, aku menemukan keadaan di mana tidak ada sedikitpun alasan untuk tidak bersyukur. Tidak ada alasan untuk tidak menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Maka, aku harus mensyukuri nikmat-nikmat itu. Mensyukuri nikmat sehat, harta, dan segala amanah yang dititipkan sementara ini. Mensyukuri nikmat terbesar, dilahirkan dalam keluarga Islam serta diberikan cahaya hidayah yang indah bersinar.

Aku harus mensyukurinya segalanya dengan sepenuh hati karena tak bisa kubayangkan jika seandainya Allah berkehendak menuntut balas segala yang telah ia berikan. Aku harus mensyukuri semuanya setulus mungkin, seikhlas jiwa raga.”

Jika sudah demikian, bersyukurpun bahkan akan menjadi kenikmatan tersendiri. Karena ketika syukur dilakukan sepenuh hati, ketika kita ikhlas menjalankan perintah Allah, ketika kita ridha untuk menjauhi segenap larangNya, ketika itu jua kita menemukan kenikmatan, ketenangan, kedamaian yang semakin langka dijumpai wujudnya di kehidupan ini.

Duhai Allah, begitu dalamnya pesan yang kautitipkan tiba-tiba di benak hamba. Segala puji bagiMu atas peringatanMu ini.

0 komentar:

Post a Comment