
oleh Abid
elSouphy
Waktu
masih kanak-kanak dulu, aku sering dibelikan topeng oleh pamanku jika ia pergi
ke rumah. Mulai dari topeng Satria Baja
Hitam, Power Rangers, Masked Rider,
Superman dan superhero lainnya
yang tengah ngetrend di zaman itu.
Tentunya, aku senang bukan main. Dengan topeng itu, aku mendadak berubah jadi
‘pemilik kekuatan super’ jika bermain-main dengan teman sebaya. Entah darimana
kekuatan itu kudapatkan, yang jelas jika kami bermain perang-perangan yang
diakhiri dengan perkelahian (seperti di film-film yang kami tonton), aku selalu
menang. Anehnya, jika aku menendang lawanku sedikit saja, sang lawan pun
langsung terjatuh tak berdaya. Beberapa tahun kemudian aku tahu ternyata temanku itu
berpura-pura jatuh biar aku menang. Kan sesuai dengan skenario di film-film?
Hehe. Sejak itu, aku beranggapan ternyata aku ‘ditakuti’ karena topeng yang
kupunya. Ternyata, topeng itu bisa merubah seseorang yang biasa menjadi luar
biasa.
Ketika
di Tsanawiyah, selera film-ku mulai berubah. Aku tidak suka lagi film-film
sejenis Superman, Batman atau apalah namanya. Tetapi aku mulai menyukai
film-film India. Selain alur ceritanya yang romantis, aku juga menyukai aksi
adu fisik antara pemeran utama dengan si antagonis beserta pasukannya. Ternyata, si pemeran utama yang tidak
memakai topeng akhirnya juga memenangkan pertarungan itu. Ditambah lagi, dia
mendapatkan cinta pemeran wanitanya. Aku menyimpulkan ternyata untuk menjadi
pemenang, kita tidak perlu lagi yang namanya topeng.
Masuk
‘Aliyah, seleraku berubah lagi. Dari Bollywood
ke Holywood. Film India kurasakan
terlalu monoton alur ceritanya. Selalu percintaan. Sedangkan film Barat lebih
unik dan bervariasi. Jadilah aku menyukai film Hollywood. Hingga suatu hari,
aku menonton sebuah film (yang tidak kuingat lagi judulnya). Film itu
mengisahkan tentang seorang perampok yang selalu memakai topeng ketika
melakukan aksinya. Tak tanggung-tanggung, semua orang yang mencoba menghentikan
aksinya dibunuh. Sejak itu aku berkesimpulan ternyata topeng itu tidak hanya
digunakan oleh orang baik, tapi orang jahat juga. Ah, ternyata kesimpulanku
tentang topeng selama ini salah.
Akhir-akhir
ini, menjelang pilkada, semakin banyak orang-orang yang menggunakan topeng.
Nah, ini membuat aku bingung karena aku tidak tahu apakah si pemakai topeng itu
adalah orang baik atau sebaliknya? Memang sih, topengnya tidak lagi berbentuk
tiruan wajah yang diikatkan dengan karet ke belakang kepala. Tetapi, bentuknya
itu sudah berevolusi ke dalam bentuk janji-janji dan aksi-aksi tertentu. Tentu
saja dipoles sedemikian rupa agar topengnya berbentuk ’wajah superhero’, bukan
wajah ‘perampok’ agar orang berpendapat bahwa itu adalah orang baik yang selalu
siap sedia membantu warganya. Bukan orang jahat yang hanya memikirkan keuntungan
sendiri tanpa mempedulikan kerugian yang dialami orang lain. Semoga saja,
‘topeng-topeng’ yang kita lihat dan akan segera kita lihat nantinya adalah
topeng superhero. Semoga!.
0 komentar:
Post a Comment