Wednesday, 25 December 2013

Topeng


 

oleh Abid elSouphy

Waktu masih kanak-kanak dulu, aku sering dibelikan topeng oleh pamanku jika ia pergi ke rumah. Mulai dari topeng Satria Baja Hitam, Power Rangers, Masked Rider, Superman dan superhero lainnya yang tengah ngetrend di zaman itu. Tentunya, aku senang bukan main. Dengan topeng itu, aku mendadak berubah jadi ‘pemilik kekuatan super’ jika bermain-main dengan teman sebaya. Entah darimana kekuatan itu kudapatkan, yang jelas jika kami bermain perang-perangan yang diakhiri dengan perkelahian (seperti di film-film yang kami tonton), aku selalu menang. Anehnya, jika aku menendang lawanku sedikit saja, sang lawan pun langsung terjatuh tak berdaya. Beberapa tahun kemudian aku tahu ternyata temanku itu berpura-pura jatuh biar aku menang. Kan sesuai dengan skenario di film-film? Hehe. Sejak itu, aku beranggapan ternyata aku ‘ditakuti’ karena topeng yang kupunya. Ternyata, topeng itu bisa merubah seseorang yang biasa menjadi luar biasa.
Ketika di Tsanawiyah, selera film-ku mulai berubah. Aku tidak suka lagi film-film sejenis Superman, Batman atau apalah namanya. Tetapi aku mulai menyukai film-film India. Selain alur ceritanya yang romantis, aku juga menyukai aksi adu fisik antara pemeran utama dengan si antagonis beserta pasukannya. Ternyata, si pemeran utama yang tidak memakai topeng akhirnya juga memenangkan pertarungan itu. Ditambah lagi, dia mendapatkan cinta pemeran wanitanya. Aku menyimpulkan ternyata untuk menjadi pemenang, kita tidak perlu lagi yang namanya topeng.
Masuk ‘Aliyah, seleraku berubah lagi. Dari Bollywood ke Holywood. Film India kurasakan terlalu monoton alur ceritanya. Selalu percintaan. Sedangkan film Barat lebih unik dan bervariasi. Jadilah aku menyukai film Hollywood. Hingga suatu hari, aku menonton sebuah film (yang tidak kuingat lagi judulnya). Film itu mengisahkan tentang seorang perampok yang selalu memakai topeng ketika melakukan aksinya. Tak tanggung-tanggung, semua orang yang mencoba menghentikan aksinya dibunuh. Sejak itu aku berkesimpulan ternyata topeng itu tidak hanya digunakan oleh orang baik, tapi orang jahat juga. Ah, ternyata kesimpulanku tentang topeng selama ini salah.

Akhir-akhir ini, menjelang pilkada, semakin banyak orang-orang yang menggunakan topeng. Nah, ini membuat aku bingung karena aku tidak tahu apakah si pemakai topeng itu adalah orang baik atau sebaliknya? Memang sih, topengnya tidak lagi berbentuk tiruan wajah yang diikatkan dengan karet ke belakang kepala. Tetapi, bentuknya itu sudah berevolusi ke dalam bentuk janji-janji dan aksi-aksi tertentu. Tentu saja dipoles sedemikian rupa agar topengnya berbentuk ’wajah superhero’, bukan wajah ‘perampok’ agar orang berpendapat bahwa itu adalah orang baik yang selalu siap sedia membantu warganya. Bukan orang jahat yang hanya memikirkan keuntungan sendiri tanpa mempedulikan kerugian yang dialami orang lain. Semoga saja, ‘topeng-topeng’ yang kita lihat dan akan segera kita lihat nantinya adalah topeng superhero. Semoga!.

0 komentar:

Post a Comment