Oleh Abid elSouphy
Suatu hari,
pamanku yang berasal dari negeri sebelah datang menjenguk keluarga kami di
negeri ‘gemah ripah loh jinawi’. Akupun senang bukan main. Alasannya bukan lagi
karena akan diberikan topeng, Kawan, tapi aku berkesempatan memamerkan negeriku
yang sejahtera ini kepadanya. Paman tiba di rumah kami jam sembilan malam.
Kelihatannya beliau jetlag. Aku
memutuskan untuk membiarkan beliau beristirahat malam ini. Besok pasti akan
kuceritakan tentang negeriku yang indah ini.
Keesokan paginya, kulihat
paman sedang duduk di teras rumah sambil membaca surat kabar terbitan lokal.
Sesekali, beliau menyeruput teh hangat yang diletakkan di meja di sampingnya.
“Pagi, Paman,” sapaku.
“Pagi, Abid,” balasnya
tanpa melihat ke mukaku, raut wajahnya serius menatap tulisan-tulisan di koran
itu. Sesekali, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ada apa, Paman?” tanyaku.
“Koran ini bikin Paman
sakit kepala. Masak
ada pengacara yang berkata-kata kotor di majelis sidang? Bagaimana ini? Di negeri
Paman, berkata-kata kotor di
tempat-tempat formal bisa dipidana, lho,” ketusnya.
Mukaku
memerah.
“Ini
lagi. Kok ada koruptor yang senyam-senyum di persidangan? Di negeri Paman,
korupsi itu perbuatan yang memalukan. Sebuah lembaga riset menempatkan negeri
Paman sebagai negeri yang tingkat korupsinya paling kecil di benua kita,” ujar
Paman, bangga.
“Oh
ya, kemarin itu paman baca di internet, seluruh rakyat di negeri ini
berkomentar ketika pemimpinnya bilang ‘saya sudah beberapa tahun tidak pernah
naik gaji’. Apa benar itu?” Tanya paman.
Aku
hanya mengangguk.
“Abid,
negeri Paman di sana kecil, tapi gaji pemimpinnya tertinggi sedunia, lho.
Baru-baru ini gajinya diturunkan, tapi tetap tertinggi di dunia. Tidak ada
masyarakat yang protes kenapa gaji pemimpinnya tertinggi di dunia.”
Paman menyeruput tehnya
yang sudah dingin. Lalu, dia membolak-balik halaman koran. Sepertinya ada yang
menarik baginya di rubrik Entertainment.
“Oh my God, kalian punya kekayaan budaya dan seni yang luar biasa.
Ini kok malah niru-niru budaya orang lain? Pake ada kontes boyband-girlband segala di televisi?”
Aku
diam saja. Paman membaca halaman Olahraga.
“Bulutangkis kalian kan
nomor wahid di dunia. Ini kok pemainnya kalah terus sebelum masuk final?
Bulutangkis di negeri Paman sudah mulai bangkit. Kamu lihat sendiri buktinya,
kan?”
Pupus sudah harapanku untuk
menceritakan keindahan negeri ini kepada Paman. Beliau terus memberondongku
dengan pertanyaan-pertanyaan itu sambil membanding-bandingkan apa yang
dilihatnya di sini dengan yang diketahuinya di negerinya. Dan aku tidak bisa
membantah sedikitpun, karena memang itulah kenyataannya, Kawan: Negeriku sedang
terpuruk.
0 komentar:
Post a Comment