Wednesday, 25 December 2013

Negeriku



Oleh Abid elSouphy

            Suatu hari, pamanku yang berasal dari negeri sebelah datang menjenguk keluarga kami di negeri ‘gemah ripah loh jinawi’. Akupun senang bukan main. Alasannya bukan lagi karena akan diberikan topeng, Kawan, tapi aku berkesempatan memamerkan negeriku yang sejahtera ini kepadanya. Paman tiba di rumah kami jam sembilan malam. Kelihatannya beliau jetlag. Aku memutuskan untuk membiarkan beliau beristirahat malam ini. Besok pasti akan kuceritakan tentang negeriku yang indah ini.
Keesokan paginya, kulihat paman sedang duduk di teras rumah sambil membaca surat kabar terbitan lokal. Sesekali, beliau menyeruput teh hangat yang diletakkan di meja di sampingnya.
“Pagi, Paman,” sapaku.
“Pagi, Abid,” balasnya tanpa melihat ke mukaku, raut wajahnya serius menatap tulisan-tulisan di koran itu. Sesekali, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ada apa, Paman?” tanyaku.
“Koran ini bikin Paman sakit kepala. Masak ada pengacara yang berkata-kata kotor di majelis sidang? Bagaimana ini? Di negeri Paman,  berkata-kata kotor di tempat-tempat formal bisa dipidana, lho,” ketusnya.
Mukaku memerah.
“Ini lagi. Kok ada koruptor yang senyam-senyum di persidangan? Di negeri Paman, korupsi itu perbuatan yang memalukan. Sebuah lembaga riset menempatkan negeri Paman sebagai negeri yang tingkat korupsinya paling kecil di benua kita,” ujar Paman, bangga.
“Oh ya, kemarin itu paman baca di internet, seluruh rakyat di negeri ini berkomentar ketika pemimpinnya bilang ‘saya sudah beberapa tahun tidak pernah naik gaji’. Apa benar itu?” Tanya paman.
Aku hanya mengangguk.
“Abid, negeri Paman di sana kecil, tapi gaji pemimpinnya tertinggi sedunia, lho. Baru-baru ini gajinya diturunkan, tapi tetap tertinggi di dunia. Tidak ada masyarakat yang protes kenapa gaji pemimpinnya tertinggi di dunia.”
Paman menyeruput tehnya yang sudah dingin. Lalu, dia membolak-balik halaman koran. Sepertinya ada yang menarik baginya di rubrik Entertainment.
Oh my God, kalian punya kekayaan budaya dan seni yang luar biasa. Ini kok malah niru-niru budaya orang lain? Pake ada kontes boyband-girlband segala di televisi?”
Aku diam saja. Paman membaca halaman Olahraga.
“Bulutangkis kalian kan nomor wahid di dunia. Ini kok pemainnya kalah terus sebelum masuk final? Bulutangkis di negeri Paman sudah mulai bangkit. Kamu lihat sendiri buktinya, kan?”
Pupus sudah harapanku untuk menceritakan keindahan negeri ini kepada Paman. Beliau terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan itu sambil membanding-bandingkan apa yang dilihatnya di sini dengan yang diketahuinya di negerinya. Dan aku tidak bisa membantah sedikitpun, karena memang itulah kenyataannya, Kawan: Negeriku sedang terpuruk.

0 komentar:

Post a Comment