Oleh Abid elSouphy
Melihat suasana peringatan Maulid di
kota sungguh mengingatkanku akan masa kecilku di kampung dulu, nun di sana di
pantai barat selatan Aceh. Ada cerita unik yang bila kuingat-ingat, sungguh
menggelikan rasanya. Begini, Kawan.
Sudah menjadi kebiasaan di daerah kami
mengundang warga kampung sebelah untuk sama-sama merayakan Maulid. Kali ini,
kampung sebelah mengundang kami. Maka tak ayal, seluruh geng anak-anak di
kampung bergembira menyambut berita yang amat baik ini.
Hari yang dinanti-nantikanpun tiba.
Semua geng anak-anak memakai baju rapi-rapi. Sebagian seragam, karena mereka
adalah grup zikir yang akan meugeleng nantinya. Meugeleng dalam bahasa Indonesia
berarti bergeleng, karena memang aktivitasnya adakah menggeleng-gelengkan
kepala ke kiri kanan seirama dengan bacaan-bacaan zikir yang dibacakan. Tak
lupa kami membawa kantong plastik. Lah, untuk apa? Tenang saja, Kawan, ini akan
berfungsi nantinya.
Singkat kata, acarapun dimulai dengan zikir dan doa. Geng anak-anak sangat
bersemangat di awal, tapi lama-kelamaan kami mulai bosan dan kepanasan. Ada
yang sebentar-sebentar keluar ke kamar mandi atau tempat wudhu. Tujuannya,
mencuci muka. Di dalam mesjid, panasnya bukan main. Bukan karena tidak ada AC,
tapi posisi duduk yang berdesak-desakan membuat bau wewangian dan bau keringat
bercampur baur menjadi ‘wewangian’ baru yang sulit diungkapkan baunya.
Semakin lama, geng
anak-anak semakin bosan karena sejatinya kami hanya menunggu saat hidangan
disajikan di depan kami. Ini Nampak dari raut wajah kami yang masih
polos-polos. Sebagian terlihat diam saja, tidak ikut berzikir. Sebagian memilih
ngobrol dengan teman yang duduk di samping sembari menunggu acara zikir dan doa
selesai. Sebagian
meuakuk (mengantuk) di dekat tiang mesjid atau di dinding-dinding
mesjid.
Namun, ketika teungku Imuem
(Imam desa yang biasanya memimpin doa) mengakhiri pembacaan doa, maka geng
anak-anak mulai bersemangat lagi. Inilah saat yang dinanti-nantikan. Panitia
mulai membagikan nasi pulut yang dibungkus dengan daun pisang kepada setiap orang
yang ada di mesjid. Maka, geng anak-anakpun beraksi. Kami menyembunyikan nasi
pulut yang sudah dibagikan kepada kami. Ketika
panitia melintas di depan kami, kamipun meminta ‘jatah’ nasi pulut lagi.
Walhasil, masing-masing dari kami dapat jatah dobel.
Tidak cukup sampai di
situ, ketika aneka makanan disajikan dalam dalong, maka serta-merta kami
membukanya. Maka
terjadilah ‘pertempuran’ sengit di sana. Geng anak-anak saling sikut, adu cepat
dan tepat. Sikut kanan, sikut kiri. Adu cepat mengambil lauk-pauk yang ada di
dalam ‘dalong’ secepat mungkin, adu tepat mengambil lauk-pauk yang bernilai
tinggi semisal ayam goreng, gulai kambing, dan sebagainya. Tidak ada pemenang
dalam pertempuran ini, tapi yang jelas : Siapa cepat, dia dapat!
0 komentar:
Post a Comment