Wednesday, 25 December 2013

Kenduri Molod



Oleh Abid elSouphy
           
            Melihat suasana peringatan Maulid di kota sungguh mengingatkanku akan masa kecilku di kampung dulu, nun di sana di pantai barat selatan Aceh. Ada cerita unik yang bila kuingat-ingat, sungguh menggelikan rasanya. Begini, Kawan.
             Sudah menjadi kebiasaan di daerah kami mengundang warga kampung sebelah untuk sama-sama merayakan Maulid. Kali ini, kampung sebelah mengundang kami. Maka tak ayal, seluruh geng anak-anak di kampung bergembira menyambut berita yang amat baik ini.
            Hari yang dinanti-nantikanpun tiba. Semua geng anak-anak memakai baju rapi-rapi. Sebagian seragam, karena mereka adalah grup zikir yang akan meugeleng nantinya. Meugeleng dalam bahasa Indonesia berarti bergeleng, karena memang aktivitasnya adakah menggeleng-gelengkan kepala ke kiri kanan seirama dengan bacaan-bacaan zikir yang dibacakan. Tak lupa kami membawa kantong plastik. Lah, untuk apa? Tenang saja, Kawan, ini akan berfungsi nantinya.
            Singkat kata, acarapun dimulai dengan zikir dan doa. Geng anak-anak sangat bersemangat di awal, tapi lama-kelamaan kami mulai bosan dan kepanasan. Ada yang sebentar-sebentar keluar ke kamar mandi atau tempat wudhu. Tujuannya, mencuci muka. Di dalam mesjid, panasnya bukan main. Bukan karena tidak ada AC, tapi posisi duduk yang berdesak-desakan membuat bau wewangian dan bau keringat bercampur baur menjadi ‘wewangian’ baru yang sulit diungkapkan baunya.
            Semakin lama, geng anak-anak semakin bosan karena sejatinya kami hanya menunggu saat hidangan disajikan di depan kami. Ini Nampak dari raut wajah kami yang masih polos-polos. Sebagian terlihat diam saja, tidak ikut berzikir. Sebagian memilih ngobrol dengan teman yang duduk di samping sembari menunggu acara zikir dan doa selesai. Sebagian meuakuk (mengantuk) di dekat tiang mesjid atau di dinding-dinding mesjid.
            Namun, ketika teungku Imuem (Imam desa yang biasanya memimpin doa) mengakhiri pembacaan doa, maka geng anak-anak mulai bersemangat lagi. Inilah saat yang dinanti-nantikan. Panitia mulai membagikan nasi pulut yang dibungkus dengan daun pisang kepada setiap orang yang ada di mesjid. Maka, geng anak-anakpun beraksi. Kami menyembunyikan nasi pulut yang sudah dibagikan kepada kami. Ketika panitia melintas di depan kami, kamipun meminta ‘jatah’ nasi pulut lagi. Walhasil, masing-masing dari kami dapat jatah dobel.

            Tidak cukup sampai di situ, ketika aneka makanan disajikan dalam dalong, maka serta-merta kami membukanya. Maka terjadilah ‘pertempuran’ sengit di sana. Geng anak-anak saling sikut, adu cepat dan tepat. Sikut kanan, sikut kiri. Adu cepat mengambil lauk-pauk yang ada di dalam ‘dalong’ secepat mungkin, adu tepat mengambil lauk-pauk yang bernilai tinggi semisal ayam goreng, gulai kambing, dan sebagainya. Tidak ada pemenang dalam pertempuran ini, tapi yang jelas : Siapa cepat, dia dapat!

0 komentar:

Post a Comment