Wednesday, 25 December 2013

Mahasiswa


 

oleh Abid elSouphy

Cut Lem boleh berbangga hati. Sebagai mahasiswa dengan otak ‘standar’, IP-nya tidak jelek-jelek amat. Bahkan bisa dikatakan bagus. Tiga koma nol satu. Tentu saja, hal itu diperoleh dengan usaha belajar yang giat. Bahkan, Lem tidak ikut organisasi apapun, karena dianggap menganggu kuliahnya.
Lain Cut Lem, lain pula dengan Cut Po. Kakakku yang satu ini justru seorang aktivis kampus. Ada tujuh organisasi yang diikutinya! Empat organisasi internal kampus, selebihnya adalah organisasi luar kampus. Sudah barang tentu, Cut Po menjadi ‘mahasiswa sibuk’, dan kesibukannya itu sedikit tidaknya mempengaruhi nilai kuliahnya.
Nah... karena menganut ‘paham’ yang berbeda, tak jarang jika di rumah keduanya sering terlibat psywar. Cut Lem mengkritik mahasiswi yang terlalu sibuk dengan organisasi,sementara Cut Po memvonis Lem sebagai ‘mahasiswa pasif’ yang tidak mau membangun bangsa lewat organisasi. Sebagai pihak ketiga, aku sering menjadi mediator kedua pihak yang terlibat ‘perang mulut’ ini.
Tapi, lama-kelamaan aku kian mengerti, syedara! Ternyata, tidak hanya ada dua ‘kelas’ dalam klasifikasi mahasiswa. Setelah kuperhatikan teman-temanku yang lain, ada sebagian dari mereka yang tidak bisa dikategorikan ke dalam kelasnya Cut Lem maupun Cut Po. Aku jadi perlu menceritakan ini kepada syedara meskipun ada dari sebagian syedara yang sudah tahu. Baiklah, menurutku, ada empat tipe mahasiswa.
Pertama, tipe mahasiswa ‘murni’. Jenis ini adalah mahasiswa yang fokus ke perkuliahan. Termasuk di dalamnya mahasiswa berkacamata, berambut rapi dan licin, selalu memakai kemeja dengan ujungnya dimasukkan ke dalam celana, dan selalu bawa buku ke mana-mana (bahkan ke toilet!). Syedara jangan salah paham dulu, yamg kumaksud ini adalah mahasiswa kutubuku yang tidak mau tahu-menahu tentang apapun kecuali belajar.
Kedua, mahasiswa ‘transisi’. Maksudku, mahasiswa yang statusnya berada di antara tipe pertama dan tipe ketiga yang akan kujelaskan nanti. Tipe mahasiswa ini banyak tahu tentang perkembangan kampus, bahkan perkembangan luar kampus, taruhlah kepemerintahan, politik, atau yang lainnya. Tapi, mahasiswa yang jenis ini tidak mau terlibat organisasi apapun. Tentu saja alasan mereka bermacam-macam. Mahasiswa semisal Cut Lem bisa dikategorikan ke tipe ini.
Nah, yang ketiga adalah tipe mahasiswa ‘aktivis’, mahasiswa organisasi.. Mereka adalah orang-orang yang aktif mengkritik segala sesuatu yang dirasa perlu untuk dikritik. Bahkan, ada yang mengkritik dengan cara radikal, misalnya unjuk rasa anarkis. Tak heran, image mereka terkesan kurang baik. Tapi, syedara, setelah kuteliti lebih lanjut, ternyata ada dua jenis mahasiswa organisasi. Yang pertama, mereka yang berprinsip, ‘jangan sampai organisasi mengganggu kuliah’. Tipe ini Cut Po punya, karena terbukti, IP-nya lumayan untuk seorang mahasiswi yang aktif di organisasi. Tipe kedua adalah kebalikan dari tipe pertama, ‘jangan sampai kuliah mengganggu organisasi’. Artinya, kuliah dinomorduakan. Organisasi lebih penting. Tidak heran jika golongan ini adalah mahasiswa calon DO.
Tipe terakhir alias keempat adalah mahasiswa-mahasiswaan. Kurasa syedara sudah paham apa yang kumaksud. Ini adalah tipe yang paling parah. Bahkan, menurut survey Cut Lem(sebagai mahasiswa tipe kedua), ada sekitar 30% mahasiswa kita yang masuk ke tipe ini. Kapan bangsa ini bisa maju kalau masih ada mahasiswa yang beginian! Han ek ta pike...

0 komentar:

Post a Comment