oleh Abid elSouphy
Cut Lem boleh berbangga hati.
Sebagai mahasiswa dengan otak ‘standar’, IP-nya tidak jelek-jelek amat. Bahkan bisa dikatakan bagus. Tiga koma
nol satu. Tentu saja, hal itu diperoleh dengan usaha belajar yang giat. Bahkan,
Lem tidak ikut organisasi apapun, karena dianggap menganggu kuliahnya.
Lain Cut Lem, lain pula dengan Cut
Po. Kakakku yang satu ini justru seorang aktivis kampus. Ada tujuh organisasi
yang diikutinya! Empat organisasi internal kampus, selebihnya adalah organisasi
luar kampus. Sudah barang tentu, Cut Po menjadi ‘mahasiswa sibuk’, dan
kesibukannya itu sedikit tidaknya mempengaruhi nilai kuliahnya.
Nah... karena menganut ‘paham’ yang
berbeda, tak jarang jika di rumah keduanya sering terlibat psywar. Cut Lem mengkritik mahasiswi yang terlalu sibuk dengan
organisasi,sementara Cut Po memvonis Lem sebagai ‘mahasiswa pasif’ yang tidak
mau membangun bangsa lewat organisasi. Sebagai pihak ketiga, aku sering menjadi
mediator kedua pihak yang terlibat ‘perang mulut’ ini.
Tapi, lama-kelamaan aku kian
mengerti, syedara! Ternyata, tidak
hanya ada dua ‘kelas’ dalam klasifikasi mahasiswa. Setelah kuperhatikan
teman-temanku yang lain, ada sebagian dari mereka yang tidak bisa dikategorikan
ke dalam kelasnya Cut Lem maupun Cut Po. Aku jadi perlu menceritakan ini kepada
syedara meskipun ada dari sebagian syedara yang sudah tahu. Baiklah,
menurutku, ada empat tipe mahasiswa.
Pertama, tipe mahasiswa ‘murni’.
Jenis ini adalah mahasiswa yang fokus ke perkuliahan. Termasuk di dalamnya
mahasiswa berkacamata, berambut rapi dan licin, selalu memakai kemeja dengan
ujungnya dimasukkan ke dalam celana, dan selalu bawa buku ke mana-mana (bahkan
ke toilet!). Syedara jangan salah
paham dulu, yamg kumaksud ini adalah mahasiswa kutubuku yang tidak mau
tahu-menahu tentang apapun kecuali belajar.
Kedua, mahasiswa ‘transisi’.
Maksudku, mahasiswa yang statusnya berada di antara tipe pertama dan tipe
ketiga yang akan kujelaskan nanti. Tipe mahasiswa ini banyak tahu tentang
perkembangan kampus, bahkan perkembangan luar kampus, taruhlah kepemerintahan,
politik, atau yang lainnya. Tapi, mahasiswa yang jenis ini tidak mau terlibat
organisasi apapun. Tentu saja alasan mereka bermacam-macam. Mahasiswa semisal
Cut Lem bisa dikategorikan ke tipe ini.
Nah, yang ketiga adalah tipe
mahasiswa ‘aktivis’, mahasiswa organisasi.. Mereka adalah orang-orang yang
aktif mengkritik segala sesuatu yang dirasa perlu untuk dikritik. Bahkan, ada yang mengkritik dengan cara
radikal, misalnya unjuk rasa anarkis. Tak heran, image mereka terkesan kurang baik. Tapi, syedara, setelah kuteliti lebih lanjut, ternyata ada dua jenis
mahasiswa organisasi. Yang
pertama, mereka yang berprinsip, ‘jangan sampai organisasi mengganggu kuliah’.
Tipe ini Cut Po punya, karena terbukti, IP-nya lumayan untuk seorang mahasiswi
yang aktif di organisasi. Tipe kedua adalah kebalikan dari tipe pertama,
‘jangan sampai kuliah mengganggu organisasi’. Artinya, kuliah dinomorduakan.
Organisasi lebih penting. Tidak heran jika golongan ini adalah mahasiswa calon
DO.
Tipe terakhir alias keempat adalah
mahasiswa-mahasiswaan. Kurasa
syedara sudah paham apa yang
kumaksud. Ini adalah tipe yang paling parah. Bahkan, menurut survey Cut Lem(sebagai mahasiswa tipe
kedua), ada sekitar 30% mahasiswa kita yang masuk ke tipe ini. Kapan bangsa ini
bisa maju kalau masih ada mahasiswa yang beginian! Han ek ta pike...
0 komentar:
Post a Comment