Wednesday, 25 December 2013

Bola vs Tahajjud


 

oleh Abid elSouphy

Suatu hari, aku bertemu dengan mantan guru SMA-ku yang juga seorang ustadz. Singkat cerita, beliau mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam sekarang. Banyak yang terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan akhirat. Setelah panjang lebar bercerita, tiba-tiba beliau bertanya kepadaku.
“Ente tahu nggak El Clasico?”
“Tahu, ustadz,” jawabku.
“Apa itu?”
“Itu kalau Real Madrid ketemu sama Barcelona, Ustadz”.
“Kalau Inter Milan lawan AC Milan, itu namanya apa?” tanya beliau lagi.
Derby de la Madonina,” jawabku. Ternyata, guruku ini suka bola juga, pikirku. Tapi, aku belum bisa menebak arah pembicaraan beliau.
“Kalau ayat Alquran tentang tahajud, itu ada di surat apa ya?” tiba-tiba beliau bertanya kembali, sedikit tersenyum.
Aku menggaruk-garuk kepala. Baru aku sadar, ternyata ini maksudnya, kondisi terkini umat Islam. Mukaku memerah. Jujur saja, aku lupa –atau kalau boleh lebih jujur lagi, lupa total.
Kawan, whatever it is, inilah kenyataan yang terjadi di tubuh Islam sekarang. Kita sudah terlalu terlena dengan buaian kenikmatan dunia tapi sering malas atau asal-asalan ketika melakukan persiapan untuk kehidupan akhirat. Jika ada El Clasico atau Liga Champions, kita bela-belain untuk bangun tengah malam, bahkan seringkali melewatkan shalat Shubuh berjamaah dengan alasan ‘lagi seru’. Tapi pernahkan terbersit di benak kita, apakah hatiku seikhlas ini juga ketika aku memaksakan diri untuk bertahajjud? Jawabannya, hampir sebagian besar, tidak.
Kawan, ketika spiritual kita –atau dalam bahasa Islam disebut ruhiyah—melemah, maka apapun yang akan kita lakukan pasti tidak maksimal hasilnya. Percayalah! Kenapa? Karena kita melakukannya bukan karena Yang Di Atas semata. Nah, pertanyaannya, bagaimana meningkatkan spiritual quotient (SQ) itu? Banyak! Salah satunya adalah dengan berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Caranya? Salah satunya, tahajjud.

0 komentar:

Post a Comment