Thursday, 26 March 2015

Jadilah Sahabat Bulan!

Hati-hati yang dekat itu berjalin mantap, bersimpul kuat lalu berkelindan erat.

Mari tengadah ke langit semesta. Mari belajar padanya. Siang hari, matahari yang garang memuntahkan cahayanya. Terik, panas, gerah. Lalu di penghujung siang, ia tenggelam di ufuk. Malam perlahan berlabuh. Dan di atas sana, rembulan berbinar lembut. Memancarkan cahayanya yang mempesona.
Kawan, pernahkah kaupikirkan mengapa bulan yang lebih kecil dari bumi itu terlihat sama besarnya dalam pandangan kita dengan matahari yang jauh lebih raksasa? Mungkin kau sudah tahu jawabannya. Karena ia dekat, bukan? Tepat sekali.

Matahari lebih besar 400 kali dari bulan namun berjarak 400 kali jarak bumi ke bulan. Maka keduanya terlihat seukuran di mata kita.

Mari kita teliti lagi. Mengapa bulan yang dekat justru bersinar lembut dan temaram? Sementara matahari yang jauh di pusat tata surya sana justru bercahaya garang dan panas? Mungkin kau juga sudah tahu jawaban ilmiahnya, Kawan.

(Sumber: http://aliahharizahani.blogspot.com/2013/07/rembulan.html)


Tapi ada satu pelajaran yang kita ambil bersama-sama di sini. Pelajaran persahabatan. Pelajaran kedekatan dan keterikatan hati. Sahabat yang baik itu laksana bulan, dekat dan lembut. Sinarnya tak sekedar datang di saat kita kegelapan, tapi juga ia menghadirkan segenap daya terbaiknya: terang, lembut dan indah. Begitulah sahabat. Di saat kita membutuhkan, ia tak sekedar hadir tapi berupaya memberikan kontribusi terbaiknya. Tak segan ia mencurahkan perhatiannya seperti ia memperhatika dirinya sendiri. Ia menganggap masalah yang kita hadapi adalah masalahnya juga. Ia mengamalkan apa yang disabdakan Rasul, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Begitulah sahabat iman, ia tahu persis kapan saatnya harus mengulurkan kedua tangannya. Ia tahu dengan pasti saat-saat mana kita berada dalam gelap. Lalu di saat itulah, hadirnya membenderang. Ia paham semua yang terjadi pada kita karena hatinya yang senantiasa dekat dan berpaut.

Lalu lihatlah matahari! Ia ibarat teman yang hatinya tak terpaut. Kehadiran cahayanya menggelisahkan, intensitas panasnya terlalu berlebihan, membuat orang kepanasan. Itu sebab hatinya yang jauh. Ia tak paham bagaimana seharusnya bersikap. Ketidakpahaman itu membuatnya mengeluarkan apa yang dimilikinya seenak hati. Cahayanya yang sesungguhnya dinanti-nantikan berubah menjadi jarum-jarum yang menusuk ubun-ubun. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bukan untuk menasehati, tetapi malah menyakiti. Dalam beberapa hal, ia mungkin menolong kita, tapi bukan atas niat persahabatan, hanya semata untuk meyakinkan orang lain bahwa kita berada di bawahnya lantaran kita membutuhkan bantuannya. Ia merasa bak matahari, yang selalu berada di atas kepala. Ia merasa bak matahari, yang tanpanya takkan ada kehidupan. Ia tak paham bagaimana seharusnya bersikap sebab hatinya jauh dan terlepas dari ikatan.

Inilah pelajaran persahabatan. Semoga bermanfaat.


Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati-hati ini telah berpadu…

Wednesday, 25 March 2015

Saat Televisi Kian Menjauhkan

Kita dihadapkan pada fenomena memiriskan akhir-akhir ini. Televisi yang awalnya diharapkan menjadi salah satu media belajar generasi bangsa kini malah memberikan kontribusi terburuknya. Tayangan-tayangan yang disuguhkan semakin mengecewakan dari hari ke hari. Parahnya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seperti tidak berfungsi menyikapi hal ini.

Tayangan Merusak

Komedi bernada "bully" dan penghinaan seolah sudah lazim ditayangkan di televisi kita. (Sumber gambar: http://1.brta.in/images/2013-11/f02f12bbafb010f32e92d6f364943af2.jpg)

Beberapa waktu lalu, dunia pertelevisian tanah air dimarakkan dengan munculnya sinetron-sinetron saduran film barat. Dimulai dengan Ganteng-ganteng Serigala di SCTV, Manusia Harimau di MNCTV dan 7 Manusia Harimau di RCTI (yang terakhir katanya diadopsi dari novel karya Motinggo Busye). Sinetron bertemakan percintaan antara manusia dengan makhluk ‘setengah manusia’ dan menampilkan adegan kekerasan itu ditayangkan di jam-jam primetime, sekitar pukul 19.00 sampai 21.00 setiap malam. Ini tentu saja meresahkan sebab ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Alhasil, tak butuh waktu lama, kasus-kasus tak pantas kita temukan pada generasi muda bangsa ini. Anak-anak berusia tiga tahun dapat dengan fasih menirukan suara auman harimau setelah hanya sekali saja menonton sinetron Manusia Harimau di sebuah stasiun televisi swasta (http://m.kompasiana.com/post/read/675606/3/sinetron-manusia-harimau-dan-pengaruh-buruk-sinetron-indonesia.html) dan suara melonglong layaknya seekor anjing atau serigala (http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2014/09/07/ganteng-ganteng-serigala-bikin-anak-kecil-jadi-gila-673007.html). Belum lagi, kejadian-kejadian memalukan yang menandakan telah rusaknya moral anak bangsa seperti percintaan di bawah umur dan pemerkosaan balita oleh anak SD (selengkapnya di sini: http://www.kaskus-dimension.com/2014/11/2-produk-industri-hiburan-yang-merusak.html).
Selain sinetron tak pantas itu, munculnya boyband (grup band yang semua personilnya laki-laki) cilik seperti Coboy Junior (CJR) juga telah merusak moral generasi muda bangsa. Anak-anak yang menjadi personil CJR dalam sekejap diidolai oleh anak-anak senusantara. Mereka kemudian tak hanya diidolai karena jago menyanyi dan menari, tetapi juga karena gaya hidup yang dewasa dan glamour. Sebut saja, lagu-lagu yang dinyanyikan bertemakan percintaan dan tindakan mereka  menciumi pacar masing-masing yang juga masih di bawah umur lalu meng-upload fotonya ke media sosial. Sungguh tragis! Parahnya, ini kemudian diikuti oleh penggemar-penggemar mereka di seluruh nusantara.
Fenomena lain yang menjadikan televisi kian jauh dari nilai edukasi adalah maraknya acara-acara gosip dan live show tak berkualitas. Acara-acara gosip tentu saja sangat tidak layak untuk ditonton. Pertama, acara ini menghilangkan batasan-batasan privasi seseorang. Urusan rumah tangga atau urusan pribadi lainnya menjadi diketahui publik lantaran penayangan ini. Kedua, acara semacam ini ‘melegalkan’ penyakit lisan bernama ghibah. Kehadiran berita gosip seolah mengajarkan masyarakat bahwa mengghibah bukanlah hal yang tidak boleh diperbincangkan, persis seperti jargon yang diusung sebuah acara gosip be-rating tinggi, “mengubah hal yang tabu menjadi layak untuk diperbincangkan”. Sementara program live show, apakah itu talkshow, variety show maupun program musik yang diselingi komedi menjadi tak berkualitas lantaran berisi komedi yang bersifat bullying dan “menyakiti” orang lain. Sebagai contoh, kita masih ingat ketika Kiwil melemparkan tepung kepada Wendi Cagur pada acara YKS di Trans TV hingga korban tidak bisa bernapas. Kejadian-kejadian ini secara tidak langsung mengajarkan masyarakat bahwa kekerasan adalah hal yang lumrah. Wajar saja bila kemudian siswa-siswa SMP dan SMA membawa barang-barang tajam ke sekolah.

Back to Islam
Islam, agama yang risalahnya dibawa oleh Rasulullah saw, telah meletakkan fundamen moral sebagai misi utama. Alasan pengutusan Rasulullah seperti yang beliau sampaikan dalam haditsnya adalah “…untuk memperbaiki akhlak (moral)”. Maka sudah sepantasnya bangsa ini kembali kepada Islam, mengambil konsep-konsepnya untuk memperbaiki moral anak bangsa yang telah begitu merosot ini.
Akan tetapi, meskipun ajakan untuk kembali kepada nilai-nilai Islam sudah digaungkan dalam jumlah yang tak terhitung, sampai saat ini belum terlihat upaya yang konkrit untuk memenuhi ajakan tersebut. Negara ini masih dilanda hedonisme yang seakan tak berkesudahan. Pemimpin-pemimpin yang memegang tampuk kekuasaan masih terpesona dengan gaya-gaya Barat dalam menyelesaikan masalah. Meski sebenarnya mereka tahu Barat menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru. Misalkan saja bagaimana Barat menanggulangi penyebaran HIV dengan penggunaan kondom. Lalu negara kita dengan latah meniru cara tersebut. Padahal Islam telah mengajarkan bahwa HIV tidak akan tersebar apabila seks bebas tidak dilakukan.
Demikianlah, Barat mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru sementara Islam mengatasi masalah tanpa masalah J.

 Harapan untuk Seulaweut
Jauhnya tayangan-tayangan televisi dari nilai-nilai edukasi menimbulkan keresahan di masyarakat. Kekerasan demi kekerasan terus terjadi setiap harinya, seakan tidak bisa dibendung. Anak-anak yang kian menggandrungi teknologi semakin tak betah mendengarkan pendidikan moral di sekolah dan balai-balai pengajian. Sebagian besar telah menjadikan teknologi sebagai gurunya. Mereka belajar lalu berinteraksi sosial melalu produk-produk teknologi seperti televisi dan jejaring sosial.
Melihat fenomena di atas, kehadiran media Islami yang sarat dengan nilai-nilai edukasi sangat diharapkan kehadirannya. Alhamdulillah, dengan pasang surutnya, radio Seulaweut FM telah memenuhi sebagian harapan kita di Banda Aceh. Saat-saat televisi kian menjauhkan generasi bangsa ini dari pendidikan moral, radio yang memiliki motto “Nyaman di Hati, Membuka Cakrawala” ini justru berupaya mendekatkan. Radio yang telah mengudara sejak delapan tahun silam ini konsisten menghadirkan berbagai program yang Islami dan sarat dengan pendidikan moral generasi bangsa. Mengusung visi 3N (News, Nasyid, Nida’), Seulaweut FM konsisten mengudarakan acara-acara yang bermanfaat. Sebut saja Dialog Islam yang menghadirkan pemateri yang membahas seputar dunia Islam, Galeri Remaja yang diisi oleh narasumber muda yang prestatif, Mutiara Hadits berupa penyampaian hadits-hadits Rasulullah saw, Nasyid Request yang merupakan pemutaran lagu-lagu Islami sesuai permintaan pendengar, Kabar Dunia Islam yang menginformasikan berita Islam terkini di seantero dunia dan berbagai program lainnya. Program-program ini disajikan sesuai dengan misi “menyampaikan berbagai informasi yang bernilai kepada masyarakat dalam kemasan yang menghibur” dan “mengajak kepada kebaikan baik pribadi, keluarga maupun masyarakat”.
Namun, sejauh mana efektifitas pendidikan moral ini berjalan? Apakah Seulaweut FM telah berhasil dengan baik menjalankan misinya? Di tengah semakin berkembang-pesatnya teknologi, memang belum bisa kita katakan ‘ya’ untuk pertanyaan itu, namun tentu juga tidak bisa kita katakan ‘tidak’. Maka, di #Miladke8seulaweut ini, kita mengharapkan Seulaweut FM terus bertahan membersamai generasi, konsisten berbagi ilmu pengetahuan dan pendidikan moral serta terus beraksi untuk melakukan perbaikan dan pembenahan, sesuai dengan tagline yang diusung kali ini: Bersama, Berbagi, Beraksi.

Lebih lanjut, semoga Seulaweut terus berkembang. Pengembangan ini bisa jadi dalam bentuk pemancaran siaran dalam gelombang AM atau bahkan perwujudan stasiun televisi Seulaweut TV. Semoga! J

Saturday, 7 March 2015

Mau Dekat dengan Rasul? Perbanyak (Mendengar) Seulaweut

Agitatif? Bisa jadi, tergantung pemahaman Anda ketika membaca judul di atas, Kawan. Jujur nih, sengaja saya pilih judul itu untuk menimbulkan dua persepsi berbeda.

Tagline radio Seulaweut FM


Persepsi Pertama
Jika dibaca tanpa menyertakan kata di dalam tanda kurung, maka yang saya maksudkan adalah apa yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah saw.

"Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR Tirmidzi).

Seulaweut di judul di atas berarti shalawat kepada Rasulullah saw. Maka jika ingin kelak di surga bersama Rasulullah saw, perbanyaklah bershalawat kepadanya selama masih di dunia. Selain merupakan perintah Allah swt. (QS. Al-Ahzab: 56), ada banyak keutamaan yang akan kita dapat jika sering-sering bershalawat kepada beliau saw. Berikut saya kutip lima keutamaan bershalawat kepada Rasulullah saw.

Pertama, shalawat adalah syarat dikabulkannya doa. Ini seperti yang disabdakan Rasulullah saw. dalam haditsnya, “Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki." (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bersabda, "Setiap doa akan terhalang (pengabulannya) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya." (HR Thabrani).
Makanya, Syeikh Ali Jabeer dalam taushiyahnya suatu pagi seusai shalat Shubuh di halaman Mapolda Aceh menganjurkan agar memperbanyak shalawat di dalam lantunan doa.

Kedua, Allah swt. akan menuliskan sepuluh kebaikan bagi orang-orang yang bershalawat.

Ketiga, Allah swt. menghapus sepuluh keburukan orang-orang yang bershalawat.

Keempat, Allah swt. meninggikan derajat orang-orang yang bershalawat sebanyak sepuluh derajat. Mengenai tiga keutamaan terakhir, dikisahkan suatu malam Jibril as. menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula." (HR Ahmad).

Keutamaan shalawat yang kelima adalah mendapat syafaat dari Rasulullah saw. di hari Kiamat kelak. Ini sesuai dengan janji Rasulullah saw. dalam haditsnya, "Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat." (HR Muslim).

Demikian, semoga Allah swt. meringankan lisan kita untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah saw.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim.

Persepsi Kedua
Ini masih terkait Rasulullah saw. dan seulaweut. Jika Anda membaca judul di atas dengan menyertakan kata “mendengar” yang ada di dalam tanda kurung, maka yang saya maksudkan adalah:

Anda harus sering-sering mendengar radio Seulaweut FM agar bisa mengenal Rasulullah saw lebih dekat.

Mengapa? Karena First Islamic Radio di Banda Aceh yang mengusung tema “Nyaman di Hati, Membuka Cakrawala” ini memiliki ragam sajian seputar Rasulullah saw. Misalkan saja, program Mutiara Hadits, Shirah, dan berbagai program lainnya.

Mengapa harus mengenal Rasulullah saw? Salah satu alasannya adalah seperti apa yang dituturkan ustadz Yusuf Mansur dalam taushiyahnya yang saya dengar di radio Seulaweut FM suatu malam (promosi nih…). “Belajar yang tidak boleh berhenti itu, salah satunya adalah belajar tentang Rasul”. Tidak boleh berhenti kita mempelajari sosok manusia termulia ini sebab Allah swt. telah menggaransi beliaulah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia (QS. Al-Ahzab: 21).


Jadi, sempatkan stay tune di frekuensi 91.00 FM setiap harinya ya. Eh, promosi lagi…

Friday, 20 February 2015

Lompatan Besar


Tak banyak yang berani melakukannya, sebab melompat adalah perbuatan penuh resiko. Karenanya  hanya yang berani saja yang akan senantiasa dikenang sejarah sebagai orang-orang yang hebat.

Sejarah kegemilangan Islam mencatat seorang jenderal perang Quraisy, ahli strategi terbaik di zamannya, pemegang rekor berperang tanpa pernah kalah, adalah satu dari sebagian kecil orang yang dikategorikan ke dalam kelompok ini. Ia adalah anak dari pasangan Walid dan Lababah, keponakan Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah saw. Di perang Uhud, pasukan Muslimin yang di ambang kemenangan keok dibuatnya. Tapi lihatlah kemudian ia melakukan lompatan besar itu. Setelah mendengar lantunan surah Al-Hujurat dari seorang Bilal, ia balik memeluk Islam, menjadi panglima perang mengagumkan sepanjang sejarah lalu menjayakan Islam. Ia bernama Khalid ibn Walid. sang pedang Allah.

Sebelum Khalid, kita tahu sepupuannya, ‘Umar ibn Al-Kaththab, juga adalah seorang penentang Islam. Tapi hatinya terhidayahi kebenaran, juga melalui lantunan surah Alquran. Ia, yang dari semula kokoh di garis depan penentang, melompati batas pemisah lalu berubah haluan menjadi pembela, berdiri gagah di baris muka.

Mungkin, bisa saja, jika Khalid tak masuk Islam, ia takkan dikenang sejarah. Mungkin, bisa saja, jika ‘Umar tak masuk Islam, ia takkan dimasukkan dalam daftar 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah.

Tapi begitulah, mereka berdua memilih tantangan sarat resiko. Keduanya adalah bagian dari sekelumit yang gagah berani melakukan perubahan. Berani melakukan lompatan yang tak sekadar: lompatan besar.

Maka melompatlah! Mungkin jika tak melompat, Sergio Ramos takkan bisa menyundul bola umpan Luka Modric untuk menyamakan kedudukan di final Liga Champions musim lalu, untuk selanjutnya mengangkat trofi bergengsi. La Decima. #HalaMadrid #eh

Saturday, 7 February 2015

Berlomba-lomba Jadi Pembicara, Tapi Ulama Makin Sedikit

Oleh: 
Mohammad Fauzil Adhim
Bukan Ustadz, Seorang yang Tak Kunjung Pintar


Merenungi hadis Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

 إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ


“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

Hadis ini cukuplah untuk menunjukkan kepada kita bahwa penceramah agama belum tentu dan bahkan boleh jadi amat sangat jauh dari kualifikasi seorang faqih. Seseorang dapat berceramah secara memukau, meski ia sama sekali tak memiliki kualifikasi sebagai ulama. Dan di akhir zaman, akan semakin banyak yang demikian itu. Disebut ustadz, tetapi sesungguhnya ia hanya patut digelari sebagai penceramah.

Dan aku dapati, diriku bukan termasuk orang yang telah memiliki kepatutan sebagai 'alim. Ingin rasanya menjadi seorang yang memiliki kedalaman ilmu dien, tapi rasanya baru berkelayakan menjadi penyampai saja (muballigh).

Memudah-mudahkan menyebut seseorang sebagai ustadz, padahal tak ada kepatutan sedikit pun meski amat pandai bicara, mengingatkanku pada sebuah hadis (yang rasanya lebih tepat menggambarkan keadaan diriku). Inilah masa ketika pembicaraan dibuka sehingga setiap orang dapat berbicara tentang apa saja, bahkan mengenai perkara yang ia tak memiliki ilmunya sedikit pun.

Mari kita renungi hadis ini:


مِنْ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ الأَشْرَارُ وَ تُوْضَعَ الأَخْيَارُ وَ يُفْتَحَ الْقَوْلُ وَ يُخْزَنَ الْعَمَلُ وَ يُقْرَأُ بِالْقَوْمِ الْمَثْنَاةُ لَيْسَ فِيْهِمْ أَحَدٌ يُنْكِرُهَا قِيْلَ : وَ مَا الْمَثْنَاةُ ؟ قَالَ : مَا اكْتُتِبَتْ سِوَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ


“Di antara (tanda) dekatnya hari kiamat adalah dimuliakannya orang-orang yang buruk, dihinakannya orang-orang yang terpilih (shalih), dibuka perkataan dan dikunci amal, dan dibacakan Al-Matsnah di suatu kaum. Tidak ada pada mereka yang berani mengingkari (kesalahannya)”. Dikatakan: “Apakah Al-Matsnah itu ? beliau menjawab: “Semua yang dijadikan panduan selain kitabullah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Al-Hakim).

Sebagian di antara makna al-matsnah adalah perkataan-perkataan atau literatur yang tidak memiliki dasar dalam agama, atau sesuatu yang seakan berasal dari agama, tetapi lebih merupakan perkataan-perkataan orang dalam satu kelompok, tetapi perkataan itu ditempatkan lebih tinggi daripada nash agama. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sudahkah ini terjadi?

Kisah Inspiratif: Tak Ada yang Tak Kompeten


Dari kisah nyata seorang guru. Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya. Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya. Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini. Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,” “..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini. Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,” Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,” Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,” Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,” Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam… Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak: “Bu guru kerja sampai sore di sekolah, kamu juga bagaimana kalau belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,” Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya. Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan dibangkunya di kelasnya. Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi. Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak. Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.” Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.” Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,” Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.” Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris, “Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,” Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia."

Membangun Rumah di Akhirat


Ada seorang mandor yang bekerja di salah satu perusahaan properti dalam waktu yang cukup lama. Lalu dia ingin mengakhiri masa khidmahnya pada perusahaan tersebut, dan mengajukan permintaan pensiun. Maka bos perusahaan pun menyanggupinya dengan syarat dia membangun rumah untuk terakhir kalinya. Dia pun menyanggupinya. Karena ingin segera pensiun, diapun mengerjakannya dengan SECEPAT MUNGKIN dan SEADANYA. Usai membangunnya, dia menghadap ke atasannya... Tapi ternyata; dia mengatakan: "Rumah itu, HADIAH dari kami untuk KAMU". Mendengarnya, dia pun sangat menyesal... mengapa dia membangunnya dengan asal-asalan?! Harusnya dia membangunnya dengan sebaik-baiknya. Saudaraku seaqidah... Sebenarnya, ini pula yang akan terjadi pada setiap dari kita. Sebenarnya kita sekarang sedang membangun TEMPAT TINGGAL kita di akhirat. Kita beribadah untuk Allah semata, tapi pahalanya untuk diri kita sendiri, karena Dia Maha Kaya dan sama sekali tidak membutuhkan kita dan ibadah kita. Ingatlah, sebenarnya dengan SHALAT dan IBADAH kita, kita sedang membangun TEMPAT TINGGAL kita sendiri. Jika kita membangunnya dengan asal-asalan, maka jadinya akan seadanya.. Jika kita membangunnya dengan sebaik-baiknya, maka jadinya akan sesuai usahanya. Allah ta'ala berfirman: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ "Barangsiapa beramal saleh, maka itu untuk DIRINYA SENDIRI, dan barangsiapa berbuat buruk, akibatnya pun untuk DIRINYA SENDIRI. Tuhanmu bukanlah Dzat Yang Menzalimi para hamba-Nya". [ QS. Fush-shilat: 46].
Wallahu a'lam.

Siapa yang Melakukan Shalat Pertama Kali?

Menurut buku karangan Dr. Ibrahim Rabi’ Muhamad tentang “Yang Pertama Berjasa Dalam sejarah dan peradaban Islam” Perintah shalat sebenarnya sudah ada dari sejak zaman Nabi Adam as bahkan sampai zaman Nabi Musa pun perintah shalat itu sudah dilakukan. Dari beberapa sumber hadits mengatakan bahwa umat Nabi Musa diperintahkan oleh Alloh SWT untuk melakukan shalat sebanyak 70 kali dalam sehari. Pantas saja ketika Nabi Muhammad melakukan isra' dan mi’raj, Nabi Musa menyuruh Beliau agar meminta keringanan perintah shalat karena Nabi Musa as dahulu pernah merasakan beratnya perintah itu karena umatnya yang pembangkang (Bani Israel yang merupakan nenek moyang orang Yahudi). Singkat cerita, pada akhirnya perintah shalat itu pun berkurang menjadi lima kali dalam sehari setelah Nabi Muhammad berupaya meminta keringanan shalat kepada Alloh untuk umatnya. Berikut adalah manusia pertama kali yang mengerjakan shalat lima waktu, yakni: Nabi Adam as adalah manusia pertama yang melaksanakan Shalat Shubuh Beliau adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Alloh SWT dan merupakan nenek moyang kita semua. Nabi Adam as selalu beribadah kepada Alloh SWT ketika terbit fajar, ia melakukan shalat dua rakaat sebagai tanda syukurnya kepada Alloh atas hilangnya kegelapan malam, atas hilangnya kemaksiatan, atas datangnya cahaya siang, dan sebagai wujud permintaan taubatnya. Nabi Ibrahim as adalah manusia pertama yang mengerjakan Shalat Dzuhur Dengan penuh keimanan, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Alloh SWT untuk menyembelih anak kesayangan yaitu nabi Ismail as. Pada saat itulah kebesaran Alloh muncul dengan mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing sebagai tebusan Agung. Nabi Ibrahim hampir tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Beliau lalu mengerjakan shalat empat rakaat sebagai tanda syukur kepada Alloh atas keselamatan anaknya yang bernama Ismail as. Nabi Ibrahim as adalah manusia pertama yang melaksanakan Shalat Ashar Ada yang ingat nggak cerita Nabi Ibrahim as? Ketika itu beliau sedang mencari tahu siapakah Tuhan dia yang patut disembahnya, setelah beberapa lama mengamati alam semesta dan seisinya. Pada akhirnya beliau di berikan bukti nyata keberadaan Tuhan dengan diperlihatkannya kebesaran Alloh melalui Burung yang pada mulanya Tuhan memerintahkan beliau untuk menyembelihnya dan memotong burung tersebut menjadi empat bagian, pada setiap bagian Alloh menyuruh Nabi Ibrahim untuk meletakan setiap bagian potongan burung tersebut di empat gunung yang berbeda. Singkat cerita, Alloh dengan kebesarannya bisa menyatukan kembali bagian potongan burung yang terpisah jauh dan akhirnya burung tersebut hidup kembali. Kemudian Nabi Ibrahim as bertaubat pada waktu tergelincirnya matahari. Beliau mengerjakan shalat sebanyak empat rakaat sebagai tanda syukur atas pemberian ilmu pengetahuan dan hikmah baginya. Nabi Isa as adalah manusia pertama yang mengerjakan Shalat Maghrib Peristiwa tersebut terjadi ketika Alloh mengangkat dan menyelamatkannya dari kejahatan bangsa Yahudi setelah tenggelamnya matahari. Lalu beliau melakukan shalat sebanyak tiga rakaat sebagai tanda syukur atas keselamatan yang dianugrahkan baginya dari segala tipu daya musuh. Juga sebagai tanda syukur atas dinaikanya ke langit sehingga terlepas dari berbagai urusan keduniaan. Nabi Yunus adalah manusia pertama yang mengerjakan Shalat Isya Peristiwa itu terjadi ketika Alloh menyelamatkan beliau dari perut ikan Hiu. Yaitu ketika hilangnya warna merah dari ufuk barat dan bintang-bintang pun telah bergemerlapan di atas langit. Kemudian beliau mengerjakan Shalat Isya sebagai tanda syukur atas keselamatannya dari empat kegelapan, yaitu; pertama, kegelapan malam; kedua, kegelapan awan; ketiga, kegelapan lautan; dan keempat adalah kegelapan di dalam perut Ikan Hiu.

Sumber : http://belajarharian.blogspot.com/2013/03/siapa-yang-melakukan-sholat-pertama-kali.html?m=1

Friday, 30 January 2015

Kisah Inspiratif Seorang Ayah Bersama Anaknya


Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini, ia baru duduk dikelas 3 SD. untuk mengatur uang jajannya... Sang anak diberi uang Rp. 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah... Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat., tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya... Ditengah keasyikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka.., tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yang telah tua renta sambil memelas... Tak tega melihat sang kakek tua yang memelas itu., sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya... Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini... Setelah si kakek tua berlalu.., Sang ayah bertanya; “Sayang.., kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu..??? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam..???” “Ayaaah.. kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit, maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar.!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum... “Tek..!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut. “Nah..! terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana..?” Tanya sang ayah mencoba mengujinya. “Kan aku kan masih punya ayah dan bunda..!!! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini..!” Balas anaknya... “Kenapa kamu begitu yakin kalau ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu..? Ayah nggak janji loh..!?” Kembali sang ayah mengujinya... “Kalau ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan bunda.., maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu...” Jawab sang anak mantap... Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata... Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya..! MASYA ALLAH... Lalu... ia berjongkok dan memegang kedua pundak buah hatinya itu... “Sayang… ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah Ta'ala tetapkan batas umur ini... Ayah sangat sayang padamu naak..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru... Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak pun membalas, “Ayah tak perlu berkata seperti itu... Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku..! Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda..! Dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalanan seperti kakek tua itu..!!!” Dan airmata sang ayah pun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya itu... Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat... Dan keduanya larut dalam haru dan kasih sayang...

Makna Indah di Balik Surah Al Baqarah Ayat 186



"Dan ketika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh keimanan." (QS AlBaqarah: 186)

Ada beberapa hal dalam ayat tersebut yang sangat istimewa, yang bahkan ketika kita resapi dalam-dalam maknanya tentu mampu membuat kita meneteskan air mata..

Diawali dengan "wa idzaa sa'alaka 'ibaadi" : ketika hamba-Ku bertanya kepadamu
Pernyataan ini Allah tujukan pada Rasulullah saw yang seringkali didatangi oleh umat untuk ditanyakan pertanyaan seperti "perbuatan apa yang Allah sukai dariku?", "Bagaimana agar Allah mengabulkan doaku?' dsb Jika melihat dari kata-kata "idza" yang artinya ketika, ini artinya Allah sedang menantikan kedatangan hamba-Nya. Allah mengantisipasi ketika kita datang. Allah tidak menggunakan kata jika. Jika ia datang. Ketika ia datang. Terasa ada hal yang berbeda bukan? Masha Allah, Allah sendiri menantikan kedatangan hamba-Nya :)

Dilanjutkan dengan kata " 'annii ": Saya 
Pada ayat ini Allah tak menggunakan kata-kata biasanya yaitu 'anna atau 'anillah (Kami, Pada Allah) Namun Allah menggunakan kata 'anni, yang ketika digunakan dalam AlQuran menggambarkan ukuran yang besar dalam rasa "kedekatan" 
Layaknya Allah sengat senang, sangat menyambut hamba-Nya yang datang kepada-Nya. Hingga Allah sendiri yang mendekat pada hamba-Nya. Ya, Allah sendiri yang mendekat pada hamba-Nya :"

Kata-kata selanjutnya adalah "Fainni Qariib" : maka sesungguhnya Aku sangat dekat
Apakah kita mengira ketika kita datang dan menanyakan pada Rasulullah saw lalu Rasulullah saw akan menjawab seperti itu? Ternyata maknanya bukan seperti itu. Bahwa yang terjadi adalah, Allah ingin mengabarkan langsung pada hamba-Nya bahwa Ia sangat dekat. Tak perlu bertanya atau menunggu jawaban Rasulullah saw, biar Allah yang menjawabnya langsung bahwa Ia sangat dekat. Inilah inti dari ajaran agama kita bahwa; kita terhubung langsung dengan Allah swt

Lalu Allah meneruskan lagi dalam kalimat yang sangat indah "ujiibu da'wataddaa'ii idza da'aanii" : Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa pada-Ku 
Ini berlaku untuk masa sekarang dan masa yang akan datang yang artinya memberikan kita harapan

"Aku punya banyak dosa. Allah hanya akan mengabulkan para ulama, imam, orang baik, dsb" Mungkinkah itu pernah tersirat dalam benak kita?

Allah berkata dengan sangat jelas...
'Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku'
Allah tidak mengatakan , :'Aku mengabulkan doa orang yang shaleh, doa alim ulama, doa orang yang beriman, doa orang yang bertakwa, doa orang yang bersedekah.' 
Allah sama sekali tidak menggunakan satupun dari deskripsi itu. Allah sama sekali tidak mencantumkan kriteria apapun dalam ayat ini. Ia mengundang siapapun yang ingin berdoa kepada-Nya. Siapapun pemohon itu.

Satu hal lagi yang sangat membuat kita terkesima dari ayat ini adalah, Allah mengatakan "addaa''ii" yang artiya si pemohon. Dengan penggunaan kata 'si', ini berarti bahwa Allah menunjuk pada personal pendoa. Bukan setiap pendoa. Tapi si pendoa. Allah mengetahui secara personal siapa hamba-Nya dan apa yang ia minta. Secara personal, Allah menyatakan kedekatannya pada kita, sampai-sampai Ia mampu membedakanmu dengan berjuta-juta orang yang berdoa kepada-Nya. Dalam waktu yang bersamaan, tapi Ia sangat mengkhususkan kita. Masha Allah :"

Allah melanjutkan dengan "falyastajiibuulii" : "Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku" Allah tidak mengatakan "mereka HARUS memenuhi perintah-Ku"
Ayat ini mengajarkan kita untuk berusaha. Setidaknya untuk berikhtiar. Bahwa kita berusaha untuk memenuhi perintah Allah swt. Dan Allah tidak meminta banyak dari kita...

"Falyastajiibuu lii wal yu'minuubii" ; "Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku"
Allah meminta kita beriman kepada-Nya. Apakah ini hanya kalimat tambahan biasa? Ternyata bukan. Justru inilah hal terpenting dari ayat ini. Bahwa Allah mengharapkan keimanan kita. Keimanan ketika doa-doa atau harapan kita belum kunjung dikabulkan Allah swt. Allah mengharapkan kita untuk memegang teguh keimanan, bahwa Allah akan mengabulkan di waktu yang tepat. Allah akan menjawab doa kita, yang bahkan kita tak akan bisa bayangkan betapa baiknya cara Allah menjawab doa kita :"

Dan ayat ini ditutup dengan "la'allahum yarsyuduun" : "Agar mereka memperoleh kebenaran"
Kita mempelajari rahasia agama Islam yang sangat dalam di sini. Bahwa mereka yang terhubung dengan baik dengan Allah, mereka yang senantiasa percaya bahwa Allah dekat dan memperhatikan hamba-Nya adalah orang-orang yang senantiasa berada dalam kebenaran. Karena kesadaran mereka bahwa Allah senantiasa mendengar, Allah senantiasa memperhatikan, Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, dan Allah senantiasa dekat.. Membuat mereka sangat yakin akan keberadaan Allah swt dan akan sangat membuat mereka terhindar dari jalan yang menyimpang.

Ruhnya doa adalah berbicara kepada Allah.. Jangan hanya sekadar membacanya, tetapi maknailah, hayati dalam-dalam karena inti dari doa adalah kita berkomunikasi langsung dengan Allah. Doa adalah kuncinya. Doa adalah hatinya dalam beribadah. 

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa berdoa dan selalu berikhtiar yang terbaik. Aamiin


🐰🐰🐰
Di sadur dari ceramah Ust Nouman Ali Khan ; "Allah is Near"
21.07