![]() |
Teknologi yang kian canggih
berhasil memukau manusia. Penemuan dan inovasi jempolan menyulap dunia menjadi
kecil, hanya seukuran gadget saja. Di gadget itu, semuanya ada. Mulai dari
berita pemilihan geuchik di sebuah
desa hingga penenggelaman beberapa sampan bekas di lautan nusantara (saya
sepakat masalah “mulai” dan “hingga” tak usah terlalu diperdebatkan).
Aksesibilitas informasi (sekali-kali ngomong bahasa canggih) semakin baik dan cepat. Hanya dalam hitungan detik
saja.
Namun tak selamanya kemajuan pesat
ini menguntungkan. Kemudahan demi kemudahan yang didapat manusia sebab
teknologi juga cukup sukses menggerus nilai-nilai sosial di kehidupan. Einstein
pernah memprediksi, “I fear the day that
technology will surpass our human interaction. The world will have a generation
of idiots.” Dan hari yang ditakutkan Einstein itu kini telah datang.
Lihatlah keseharian kita sekarang. Interaksi dengan gadget sudah semakin
intens. Di rapat-rapat, karyawan mencuri-curi kesempatan membalas pesan yang
masuk ke akun Whatsapp-nya ketika
yang lain sedang berpresentasi di depan. Di ruang keluarga, anak-anak sibuk
ber-BBM (Blackberry Messenger) ria
ketika orang tua sedang memberikan petuah pesan. Di warkop-warkop, apa lagi.
Warung-warung kopi kini telah beralih fungsi. Jika dulu ia sebagai tempat poh cakra, cang panah, dan peh tem, kini hanya memiliki peran
sebagai tempat bermain game online,
meng-update status Facebook, twitter, dan sebagainya.
Lebih parah lagi, ketakutan
Einstein itu kita takutkan akan “surpass
the prediction” (benar gak bahasanya?). Bukan saja interaksi sesama manusia
yang terganggu oleh teknologi, tapi juga interaksi manusia dengan Allah,
tuhannya. Kita takutkan orang-orang akan mempercepat shalatnya karena mendengar
dering hp di saku. Kita takutkan zikir-zikir seusai shalat terganggu dengan
aktivitas semisal melihat notifikasi yang muncul di smartphone. Kita takutkan orang-orang menunda shalatnya hanya
karena interaksi tidak penting dengan dunia maya. Jika sudah begini, maka yang
menjadi pertanyaan adalah siapakah Tuhan yang sebenarnya? Kepada siapa
sebenarnya kita telah menghambakan diri?
Akhirnya, jadilah lebih smart daripada smartphone Anda. Ujian itu tidak selamanya hadir dalam bentuk
kekurangan dan kesulitan. Kadang ia tampil menggoda, hadir dalam bentuk gadget
yang menawan dan melenakan. Orang-orang cerdas adalah mereka yang kemudahan
membuat kualitas diri tertingkatkan.

0 komentar:
Post a Comment