Monday, 8 December 2014

Menjadi Hamba Gadget


Teknologi yang kian canggih berhasil memukau manusia. Penemuan dan inovasi jempolan menyulap dunia menjadi kecil, hanya seukuran gadget saja. Di gadget itu, semuanya ada. Mulai dari berita pemilihan geuchik di sebuah desa hingga penenggelaman beberapa sampan bekas di lautan nusantara (saya sepakat masalah “mulai” dan “hingga” tak usah terlalu diperdebatkan). Aksesibilitas informasi (sekali-kali ngomong bahasa canggih) semakin baik dan cepat. Hanya dalam hitungan detik saja.

Namun tak selamanya kemajuan pesat ini menguntungkan. Kemudahan demi kemudahan yang didapat manusia sebab teknologi juga cukup sukses menggerus nilai-nilai sosial di kehidupan. Einstein pernah memprediksi, “I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” Dan hari yang ditakutkan Einstein itu kini telah datang. Lihatlah keseharian kita sekarang. Interaksi dengan gadget sudah semakin intens. Di rapat-rapat, karyawan mencuri-curi kesempatan membalas pesan yang masuk ke akun Whatsapp-nya ketika yang lain sedang berpresentasi di depan. Di ruang keluarga, anak-anak sibuk ber-BBM (Blackberry Messenger) ria ketika orang tua sedang memberikan petuah pesan. Di warkop-warkop, apa lagi. Warung-warung kopi kini telah beralih fungsi. Jika dulu ia sebagai tempat poh cakra, cang panah, dan peh tem, kini hanya memiliki peran sebagai tempat bermain game online, meng-update status Facebook, twitter, dan sebagainya.

Lebih parah lagi, ketakutan Einstein itu kita takutkan akan “surpass the prediction” (benar gak bahasanya?). Bukan saja interaksi sesama manusia yang terganggu oleh teknologi, tapi juga interaksi manusia dengan Allah, tuhannya. Kita takutkan orang-orang akan mempercepat shalatnya karena mendengar dering hp di saku. Kita takutkan zikir-zikir seusai shalat terganggu dengan aktivitas semisal melihat notifikasi yang muncul di smartphone. Kita takutkan orang-orang menunda shalatnya hanya karena interaksi tidak penting dengan dunia maya. Jika sudah begini, maka yang menjadi pertanyaan adalah siapakah Tuhan yang sebenarnya? Kepada siapa sebenarnya kita telah menghambakan diri?


Akhirnya, jadilah lebih smart daripada smartphone Anda. Ujian itu tidak selamanya hadir dalam bentuk kekurangan dan kesulitan. Kadang ia tampil menggoda, hadir dalam bentuk gadget yang menawan dan melenakan. Orang-orang cerdas adalah mereka yang kemudahan membuat kualitas diri tertingkatkan.

0 komentar:

Post a Comment