![]() |
| Ketika sudah tak bisa dipertahankan, mengapa tidak dilepaskan saja? |
Ada sebuah kisah menarik. Seorang
lelaki tua terburu-buru memasuki sebuah kereta yang hampir berangkat. Begitu Pak
Tua masuk, pintu kereta segera ditutup. Sayang, di pintu kereta Pak Tua
tersandung hingga sandal sebelah kirinya terlepas. Kejadiannya terjadi begitu
cepat di siang itu. Pintu kereta segera ditutup dan keretapun bergerak
perlahan. Tinggallah Pak Tua di dekat pintu dengan sandalnya yang tinggal
sebelah. Bak sebuah drama, cerita ini terus berlanjut menuju klimaksnya. Semua mata
menatap ke arah Pak Tua. Ada berbagai penilaian saat itu. Tapi kebanyakan
penumpang merasa kasihan.
Pak Tua yang sekarang menjadi pusat
perhatian bergerak pelan ke jendela. Ia mengambil sandalnya yang tinggal
sebelah dan melemparnya ke luar. Penumpang tentu saja terkaget-kaget. Salah seorang
di antara mereka segera bertanya, ”Kenapa Anda malah melempar sandal yang
sebelah lagi?”
Dengan santainya, Pak Tua menjawab,
“Kenapa saya harus mempertahankan apa yang sudah tidak mungkin dipertahankan
lagi? Bukankah dengan melepaskannya, sandal itu akan bisa digunakan oleh orang
lain?”
Jawaban Pak Tua di siang itu
menyadarkan semua penumpang bahwa keputusan yang diambilnya sangat bijak.

0 komentar:
Post a Comment