Tenaang! Itu hanya judul. Saya hanya menjumpai beberapa kasus saja terkait hal itu. Bukan lantas memvonis mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Mari dilanjutkan. :)
Dalam sebuah kesempatan menyambangi Beijing yang
diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, saya
menjumpai kenyataan bahwa betapa jarangnya menemui orang China, khususnya warga
Beijing, yang fasih berbicara bahasa Inggris. Ini adalah sebuah kenyataan
ironis sebab Beijing adalah salah satu kota besar di dunia.
Kasus pertama yang saya temui adalah guide rombongan kami, Mr. Ali. Selaku pemandu, seharusnya ia
menguasai beberapa kosakata ringan yang sering digunakan dalam bahasa Inggris.
Tapi kenyataaannya, ia bahkan tidak tahu arti cheese. Pun, ketika tidak mengerti pembicaraan saya—ia menguasai
bahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia—lalu saya menjelaskan ke dalam bahasa
Inggris, ia semakin tidak mengerti.

Selanjutnya adalah ketika kami singgah di sebuah restoran
muslim yang bernama Seilama Restaurant. Saya pikir sebagai sebuah restoran yang
melayani muslim dari berbagai belahan dunia, sudah sepatutnya pelayan restoran
lancar berbahasa Inggris. Tapi kami lagi-lagi menemui ironi yang sama. Terpaksa
kami menggunakan jasa Mr. Ali untuk berkomunikasi dengan pelayan restoran yang
kebanyakan nonmuslim.
Di Yashow Clothing Market, salah satu pusat perbelanjaan
besar di Beijing, kondisinya tidak jauh beda. Padahal Yashow Market seringkali
disinggahi wisatawan mancanegara yang hendak membeli souvenir khas China.
Kenyataannya, penjual souvenir, gadget,
dan pakaian yang ada di sana lebih memilih menggunakan kalkulator ketika
menyebutkan harga barang. Lalu terjadilah proses tawar-menawar dengan
menggunakan kalkulator. Biasanya, penjual menuliskan harga barang lalu
menyodorkan kalkulator kepada calon pembeli. Calon pembeli selanjutnya mengetik
angka yang diingininya. Penjual menurunkan harga lalu meminta pembeli mengetik
lagi. Begitu seterusnya hingga penjual menyebutkan “final price” atau “finish” yang
menandakan itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Kabar baiknya,
beberapa penjual malah bisa berbahasa Melayu. Ketika menyebutkan harga barang
yang kurang dari 10 yuan, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Melayu
daripada bahasa Inggris. Atau ketika para pengunjung seperti kami lewat, mereka
segera mengajak kami singgah sambil berkata “murah, murah!” atau menyebutkan
barang jualan dalam bahasa Melayu.
Usai belanja, saya dan beberapa teman menyempatkan diri
untuk singgah di toko Adidas, tak jauh dari Yashow Market untuk membeli bet
pingpong. Setiba di sana, kami mendapati pintu kaca toko tertutup namun di
dalamnya ada aktivitas layaknya toko biasa. Bingung dengan kondisi ini, saya
menghampiri dua orang pemuda seumuran saya sedang berbincang di depan pintu
toko. Saya menduga mereka mahasiswa dan setidaknya bisa berbahasa Inggris
dengan baik. Namun tak dinyana, keduanya juga tidak menguasai bahasa Inggris hingga
harus menjelaskan dengan menggunakan ponsel di tangan. Ia menunjuk gambar
Christopher Metzelder di layar ponselnya lalu menunjuk-nunjuk ke dalam. Sayapun
segera mafhum bahwa Metzelder sedang berada di dalam sehingga toko ditutup
untuk sementara waktu.
Kejadian lucu yang saya alami adalah ketika hendak sarapan di restoran dalam Hotel Wuhuan,
sebuah hotel berbintang empat yang sepertinya menjadi pilihan favorit para
wisatawan. Ketika hendak mengambil jagung, seorang pelayan berbaik hati
membantu saya. Ia menuangkan jagung dari mangkuk ke dalam piring saya. Namun
ketika saya mengatakan “enough”, ia malah menuangkan semua isi mangkuk ke dalam
piring saya. Tak cukup di situ, ia menuangkan semangkuk tomat dan dua mangkuk
lainnya ke dalam piring saya.
Dari beberapa kejadian itu, saya jadi berpikir ulang.
Mungkin mereka memang tidak bisa atau tidak mau berbahasa Inggris sebab bahasa
Mandarin juga telah diakui sebagai bahasa internasional. Bahkan penutur bahasa
Mandarin lebih banyak daripada penutur bahasa Inggris. Mungkin juga mereka
sengaja melakukan hal ini agar orang kian tertarik, atau minimal terpaksa,
untuk belajar bahasa Mandarin. Mungkin juga karena mereka merasa nyaman dan
bangga bertutur dalam bahasa sendiri daripada harus bersusah payah mengucapkan
kata-kata bahasa Inggris. Lidah Mandarin mereka akan menemui banyak kesulitan
nantinya. Ada banyak “mungkin” di sana. Entahlah.
Note: artikel ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia di rubrik Citizen Reporter dengan judul "Ironi Bahasa Inggris di Beijing".
0 komentar:
Post a Comment