Thursday, 18 September 2014

Warga Beijing Tak Bisa Berbahasa Inggris

Tenaang! Itu hanya judul. Saya hanya menjumpai beberapa kasus saja terkait hal itu. Bukan lantas memvonis mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Mari dilanjutkan. :) 

Dalam sebuah kesempatan menyambangi Beijing yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, saya menjumpai kenyataan bahwa betapa jarangnya menemui orang China, khususnya warga Beijing, yang fasih berbicara bahasa Inggris. Ini adalah sebuah kenyataan ironis sebab Beijing adalah salah satu kota besar di dunia.

Kasus pertama yang saya temui adalah guide rombongan kami, Mr. Ali. Selaku pemandu, seharusnya ia menguasai beberapa kosakata ringan yang sering digunakan dalam bahasa Inggris. Tapi kenyataaannya, ia bahkan tidak tahu arti cheese. Pun, ketika tidak mengerti pembicaraan saya—ia menguasai bahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia—lalu saya menjelaskan ke dalam bahasa Inggris, ia semakin tidak mengerti.


Selanjutnya adalah ketika kami singgah di sebuah restoran muslim yang bernama Seilama Restaurant. Saya pikir sebagai sebuah restoran yang melayani muslim dari berbagai belahan dunia, sudah sepatutnya pelayan restoran lancar berbahasa Inggris. Tapi kami lagi-lagi menemui ironi yang sama. Terpaksa kami menggunakan jasa Mr. Ali untuk berkomunikasi dengan pelayan restoran yang kebanyakan nonmuslim.

Di Yashow Clothing Market, salah satu pusat perbelanjaan besar di Beijing, kondisinya tidak jauh beda. Padahal Yashow Market seringkali disinggahi wisatawan mancanegara yang hendak membeli souvenir khas China. Kenyataannya, penjual souvenir, gadget, dan pakaian yang ada di sana lebih memilih menggunakan kalkulator ketika menyebutkan harga barang. Lalu terjadilah proses tawar-menawar dengan menggunakan kalkulator. Biasanya, penjual menuliskan harga barang lalu menyodorkan kalkulator kepada calon pembeli. Calon pembeli selanjutnya mengetik angka yang diingininya. Penjual menurunkan harga lalu meminta pembeli mengetik lagi. Begitu seterusnya hingga penjual menyebutkan “final price” atau “finish” yang menandakan itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Kabar baiknya, beberapa penjual malah bisa berbahasa Melayu. Ketika menyebutkan harga barang yang kurang dari 10 yuan, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Inggris. Atau ketika para pengunjung seperti kami lewat, mereka segera mengajak kami singgah sambil berkata “murah, murah!” atau menyebutkan barang jualan dalam bahasa Melayu.

Usai belanja, saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk singgah di toko Adidas, tak jauh dari Yashow Market untuk membeli bet pingpong. Setiba di sana, kami mendapati pintu kaca toko tertutup namun di dalamnya ada aktivitas layaknya toko biasa. Bingung dengan kondisi ini, saya menghampiri dua orang pemuda seumuran saya sedang berbincang di depan pintu toko. Saya menduga mereka mahasiswa dan setidaknya bisa berbahasa Inggris dengan baik. Namun tak dinyana, keduanya juga tidak menguasai bahasa Inggris hingga harus menjelaskan dengan menggunakan ponsel di tangan. Ia menunjuk gambar Christopher Metzelder di layar ponselnya lalu menunjuk-nunjuk ke dalam. Sayapun segera mafhum bahwa Metzelder sedang berada di dalam sehingga toko ditutup untuk sementara waktu.
Kejadian lucu yang saya alami adalah ketika hendak  sarapan di restoran dalam Hotel Wuhuan, sebuah hotel berbintang empat yang sepertinya menjadi pilihan favorit para wisatawan. Ketika hendak mengambil jagung, seorang pelayan berbaik hati membantu saya. Ia menuangkan jagung dari mangkuk ke dalam piring saya. Namun ketika saya mengatakan “enough”, ia malah menuangkan semua isi mangkuk ke dalam piring saya. Tak cukup di situ, ia menuangkan semangkuk tomat dan dua mangkuk lainnya ke dalam piring saya.


Dari beberapa kejadian itu, saya jadi berpikir ulang. Mungkin mereka memang tidak bisa atau tidak mau berbahasa Inggris sebab bahasa Mandarin juga telah diakui sebagai bahasa internasional. Bahkan penutur bahasa Mandarin lebih banyak daripada penutur bahasa Inggris. Mungkin juga mereka sengaja melakukan hal ini agar orang kian tertarik, atau minimal terpaksa, untuk belajar bahasa Mandarin. Mungkin juga karena mereka merasa nyaman dan bangga bertutur dalam bahasa sendiri daripada harus bersusah payah mengucapkan kata-kata bahasa Inggris. Lidah Mandarin mereka akan menemui banyak kesulitan nantinya. Ada banyak “mungkin” di sana. Entahlah.

Note: artikel ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia di rubrik Citizen Reporter dengan judul "Ironi Bahasa Inggris di Beijing".

0 komentar:

Post a Comment