Pada siapa kita belajar ketekunan?
Belajarlah pada penambang emas.
Lihatlah, dengan tekun ia menimba berliter-liter tanah keruh di sungai. Tanah
itu lalu disaringnya hingga lumpur terpisah dari pasir. Pasir itu lalu disisir
lagi dari logam. Hingga pada waktunya, butiran emas tampak berkilauan.
Begitu pula dengan pembelajar. Ia
timba berjuta-juta kegagalan. Ia pelajari penyebabnya. Ia perbaiki
kesalahannya. Terus-menerus hingga ia menemukan pelajaran berharga—mungkin
lebih berharga dari butiran emas—di dalamnya.
![]() |
| Belajar pada kerang mutiara |
Pada siapa kita belajar ketegaran?
Belajarlah pada kerang. Lihatlah,
perih ia menahan pasir yang ada di dalam cangkang. Namun dengan segenap
ketegaran, ia memilih bertahan. Hingga pada waktunya, butiran pasir berubah
menjadi mutiara nan mahal.
Begitu pula dengan pembelajar. Ia
tahan semua ejekan dan cemoohan yang menjatuhkan. Pembelajar adalah mereka yang
tegar lalu bertahan. Hingga pada waktunya, ejekan itu berubah menjadi pujian
penghormatan.
Pada siapa kita belajar kesabaran?
Belajarlah pada kepompong. Ia sabar
menanti detik demi detik dalam kurungan. Ia tahu butuh waktu untuk mencapai
keindahan. Memaksakan diri takkan memperbagus keadaan. Hingga pada waktunya, ia
berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah.
Begitu pula dengan pembelajar. Ia
tak memaksa Tuhan mempercepat keberhasilan. Sebab ia tahu sukses yang baik akan
indah bila dinikmati setelah lelah berjuang.

0 komentar:
Post a Comment