Entah siapa lagi yang diam
sebab kerikilpun telah memartir
pada deruderap mereka
pada debu asap kita
Siapa lagi yang bungkam
karena tanahpun ikut menangis
menyerap wangi darah kita
menabung miliaran semerbak surga
Siapakah lagi?
Mungkinkah malam-malam suram,
yang menggantung bulan-bulan muram di
atas kita?
Ataukah fajar-fajar prematur
karena moncong-moncong laknat itu
telah membangunkan mentari di subuh
buta?
Di tanah
ini,
kita adalah kumandang-kumandang
takbir,
berambisikan semangat mengekal tumpah
darah
kita adalah ketapel-ketapel kecil
beramunisikan semangat menuju simbah
darah
Maju,
tanpa ragu
menuju lingkar syahid
dan bila kita mati nanti
dunia telah tahu:
“semangatmu tak berpusara.”
Darussalam, 18 November 2012
0 komentar:
Post a Comment