Tiap insan, terkecuali para utusan
pilihan, dhaif adanya, nafsunya terkadang lebih sering menang dalam pertarungan
melawan iman.
Maka dari itu, ianya pernah terjerembab
dalam kubangan dosa; seringkali tegahan nurani tak diacuhkannya.
Itu wajar: manusiawi. Karena manusia
bukanlah malaikat nan suci, yang terjarak dari dosa (QS At-Tahrim, 66; ayat 6).
Maka kewajaran itu akan lebih indah
adanya apabila disusuli taubat menyegera: sesal akan dosa, harap akan ampunan,
ikrar takkan mengulang.
Sebagai mu’min
sejati, tak wajar rasanya bila mengungkit-ungkit dosa saudara seiman. Karena dosa
adalah aib nan memalukan.
Tak maukah kita tergolong ke dalam
kelompok yang disebut-sebut Rasul dalam hadits berikut?
Dari Anas ra.
bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan aibnya, sehingga ia tidak
memperhatikan aib orang lain." (HR Al-Bazzar, sanad hasan).
Ataukah kita
merasa yakin bahwa aib kita tidak akan pernah terkuak suatu saat kelak?
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu
'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
“…barangsiapa menutupi (aib)
seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat…”. (HR Muslim).
Maka tutuplah aib saudaramu. Lalu, alangkah indahnya jika engkau justru memperbaiki aib saudaramu itu!
Seorang mukmin adalah cermin bagi
mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera
memperbaikinya. (HR. Bukhari)
0 komentar:
Post a Comment