Tuesday, 21 January 2014

Menutup Aib Saudara



Tiap insan, terkecuali para utusan pilihan, dhaif adanya, nafsunya terkadang lebih sering menang dalam pertarungan melawan iman.
Maka dari itu, ianya pernah terjerembab dalam kubangan dosa; seringkali tegahan nurani tak diacuhkannya.
Itu wajar: manusiawi. Karena manusia bukanlah malaikat nan suci, yang terjarak dari dosa (QS At-Tahrim, 66; ayat 6).
Maka kewajaran itu akan lebih indah adanya apabila disusuli taubat menyegera: sesal akan dosa, harap akan ampunan, ikrar takkan mengulang.
Sebagai mu’min sejati, tak wajar rasanya bila mengungkit-ungkit dosa saudara seiman. Karena dosa adalah aib nan memalukan.
Tak maukah kita tergolong ke dalam kelompok yang disebut-sebut Rasul dalam hadits berikut?

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw.  bersabda: "Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan aibnya, sehingga ia tidak memperhatikan aib orang lain." (HR Al-Bazzar, sanad hasan). 

Ataukah kita merasa yakin bahwa aib kita tidak akan pernah terkuak suatu saat kelak? 

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “…barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat…”. (HR Muslim). 

Maka tutuplah aib saudaramu. Lalu, alangkah indahnya jika engkau justru memperbaiki aib saudaramu itu!

Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya. (HR. Bukhari)

0 komentar:

Post a Comment