Tuesday, 21 January 2014

Ketika Sakit Membawa Berkah

Kader dakwah bukanlah malaikat yang putih dari noktah dosa, pun tak layak disetarakan para rasul dan anbiya’ yang ma’shum, empunya catatan amal tanpa cela. Kader dakwah hanyalah manusia biasa, sesekali akan tergelincir dalam kubang noda, meski telah dicoba untuk menghindar jauh darinya.

Kader dakwah juga bukan robot, yang siap bertugas tanpa jeda. Langkahnya kadang terseok di kerikil nan berserakan, tersandung batu-batu penghalang, terpeleset licinnya jalanan. Lalu, iapun jatuh sakit. Manusiawi, karena kader dakwah hanyalah manusia biasa.

Maka berbahagialah yang sakit, mereka yang tetap sabar dan ridha dalam penantian sehatnya. Sebab bisa jadi itu hanyalah alasan belaka agar dosa-dosa berguguran dari ranting iman. Bisa jadi itu adalah air dingin nan menyejukkan yang meluruhi salah-cela.

Maka bersyukurlah yang sakit, mereka yang tiada putus harap akan nikmat Tuhan. Siapa tahu ada pelangi nan cantik melengkung setelah mendung yang seakan tiada ber penghujung. Siapa tahu ada hikmah menggunung setelah musibah yang datang berkunjung. Siapa tahu ada berkah yang melimpah ruah setelah ujian tercurah.

Maka beruntunglah yang sakit, mereka yang masih ditatap lekat oleh Allah. Mungkin itu hanyalah usapan nan lembut agar berhenti sejenak memuhasabah amalan. Mungkin itu hanyalah stasiun pemberhentian agar sejenak melepas debu-debu riya’ yang mulai menempeli niat, melencangkan ghirah dan arah sebelum gerbong kereta dakwah kembali sedia diberangkatkan. Mungkin juga itu waktunya melirik kompas perjalanan, masih di jalurkah atau sudah keluar rel perjuangan.

0 komentar:

Post a Comment