Kader dakwah
bukanlah malaikat yang putih dari noktah dosa, pun tak layak disetarakan para
rasul dan anbiya’ yang ma’shum, empunya catatan amal tanpa cela. Kader dakwah
hanyalah manusia biasa, sesekali akan tergelincir dalam kubang noda, meski
telah dicoba untuk menghindar jauh darinya.
Kader dakwah
juga bukan robot, yang siap bertugas tanpa jeda. Langkahnya kadang terseok di
kerikil nan berserakan, tersandung batu-batu penghalang, terpeleset licinnya
jalanan. Lalu, iapun jatuh sakit. Manusiawi, karena kader dakwah hanyalah
manusia biasa.
Maka
berbahagialah yang sakit, mereka yang tetap sabar dan ridha dalam penantian
sehatnya. Sebab bisa jadi itu hanyalah alasan belaka
agar dosa-dosa berguguran dari ranting iman. Bisa jadi itu adalah air dingin
nan menyejukkan yang meluruhi salah-cela.
Maka
bersyukurlah yang sakit, mereka yang tiada putus harap akan nikmat Tuhan. Siapa
tahu ada pelangi nan cantik melengkung setelah mendung yang seakan tiada ber
penghujung. Siapa tahu ada hikmah menggunung setelah musibah yang datang
berkunjung. Siapa tahu ada berkah yang melimpah ruah setelah ujian tercurah.
Maka
beruntunglah yang sakit, mereka yang masih ditatap lekat oleh Allah. Mungkin
itu hanyalah usapan nan lembut agar berhenti sejenak memuhasabah amalan.
Mungkin itu hanyalah stasiun pemberhentian agar sejenak melepas debu-debu riya’
yang mulai menempeli niat, melencangkan ghirah dan arah sebelum gerbong kereta
dakwah kembali sedia diberangkatkan. Mungkin juga itu waktunya melirik kompas
perjalanan, masih di jalurkah atau sudah keluar rel perjuangan.
0 komentar:
Post a Comment