Tuesday, 21 January 2014

Kiat Istiqamah Tahajjud

Salah satu ibadah sunnah yang mempunyai nilai yang sangat tinggi di sisi Allah adalah qiyamul lail. Shalat malam ini merupakan ibadah tambahan bagi setiap muslim yang menjalankannya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surat Al Isra': 79:

" Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji".

Begitu pentingnya qiyamul lail, sehingga ketika salah seorang sahabat bertanya kepada rasul, shalat manakah yang paling utama setelah shalat lima waktu, Rasulullah menjawab, shalat tahajjud (HR. Muslim).

Tahajjud artinya bangun dari tidur, maka shalat tahajjud artinya shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan setelah tidur. Berapakah bilangan rakaat yang dilakukan Rasululah? Dalam hal ini, tidak ada ketentuan dan batasan yang pasti. Pernah Rasulullah memerintahkan kepada Ibnu Abbas menjalankan shalat tahajjud walaupun hanya satu rakaat. (HR. Tabrani). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits yang bersumber dari Aisyah, bahwa beliau kadang melaksanakan shalat tahajjud 11 rakaat, 13 rakaat dengan dua rakaat sebagai shalat iftitah. Rasul juga pernah melaksanakan 4 rakaat kemudian shalat witir 3 rakaat.

Nah, yang menjadi kendala utama dalam beristiqamah untuk tahajjud adalah waktu pelaksanaannya. Bukankah waktu sepertiga malam itu merupakan saat di mana kita sedang terbuai mimpi yang menghanyutkan? Bukankah waktu itu udara begitu dingin lalu membuat kita betah menyelimuti tubuh?

Maka dari itu, perlu ada kiat-kiat khusus agar kita mampu menepis kendala-kendala itu. Terlebih, setan akan mengoptimalkan usahanya agar kita tidak bangun dan menunaikan tahajjud. Lalu, apa-apa saja usaha itu? Mungkin beberapa kiat di bawah ini bisa membantu kita untuk konsisten bertahajjud.

Pertama, bangun niat yang kuat karena Allah. Niat tentu saja bukan sekedar ‘mau’ belaka, tapi ia juga harus mengandung ‘tekad kuat’ dan perasaan ‘butuh’ akan tahajjud. Untuk itu, harus sering-sering menyediakan waktu untuk merenungi dan menyesali malam-malam yang telah berlalu tanpa tahajjud. Juga, perlu waktu untuk membaca berbagai bacaan tentang keutamaan dan manfaat tahajjud.
Kedua, tentukan target raka’at yang akan dilaksanakan setiap harinya, Ingat! Setiap hari. Gak perlu tinggi-tinggi, untuk membiasakan mulailah dari yang kecil, misalnya 2 atau 4 rakaat per hari. Bila sudah terbiasa kita pasti termotivasi untuk menambah pencapaian itu. Kemudian tuliskan dalam selembar kertas dengan font yang lebih besar agar  mudah di baca lalu letakkan di tempat yang mudah dilihat.
Ketiga, tidurlah lebih awal. Jangan bergadang hingga larut malam kecuali ada hal-hal yang penting dan mendesak. Kurangnya waktu tidur akan membuat kita tidak fit ketika jam tahajjud tiba lalu memutuskan untuk memaafkan diri untuk tidak bertahajjud di mala itu.
Keempat, harus ada trigger (pemicu) agar memudahkan kita untuk bergegas tahajjud. Misalnya buatlah alarm, bila perlu buat lebih dari satu. Letakkan pada posisi yang sulit untuk dijangkau (tapi tetap kedengaran), sehingga untuk mematikan alarm, harus bangun dari tempat tidur.
Kelima, kurangi maksiat dan hindari kegiatan yang sia-sia di siang harinya. Jauhi makanan yang syubhat, apalagi haram.
Keenam, mintalah untuk dibangunkan di malam hari. Jika kita melihat ulama salaf, ternyata sudah ada yang biasa membangunkan orang lain untuk melakukan shalat malam. Salah satunya adalah Sufyan Tsauri Rahimahullah. Muhammad bin Yusuf berkata, “Sufyan Tsauri Rahimahullah membangunkan kami disuatu malam seraya berkata, “Bangunlah kalian wahai pemuda! Shalatlah, semasa kalian masih muda! Jika tidak shalat sejak sekarang, kapan lagi?”.
Ketujuh, ber-”fastabiqul-khairat”-lah dengan teman-teman. Bukan bermaksud untuk riya’, tapi berlomba-lomba dalam kebaikan akan menambah motivasi berlipat-lipat.

0 komentar:

Post a Comment