Cinta memang aneh. Mungkin lebih tepatnya: ajaib. Ia
mengajak kita menyulap semuanya menjadi indah mempesona. Ajaibnya lagi, kita
tak pernah terpaksa melakukannya. Makanya tak heran bila orang yang amat
mencintai Rabbnya senantiasa tenteram jiwanya, lapang dadanya dan tenang
hidupnya. Ujian dan musibah senantiasa adalah alasan untuk bahagia: Rabbku
telah menyediakan cerah di balik badai yang maha.
Cinta memang ajaib. Kehadirannya lebih sering
menakjubkan, membahana! Bahkan di titik itu, nalar logika seringkali raib
dayanya. Keterbatasan malah melecut semangat kian membara. Maka tak perlu
takjub jika seorang tua-buta menggunakan temali demi mencapai mesjid, memenuhi
panggilan adzan: panggilan cinta.
Cinta memang ajaib. Ia mengajarkan kita untuk tetap
mengibarkan asa, menepis segala rasa “tak percaya”. Sehebat apapun tantangan,
sungguh Rabb Maha Kuasa. Maka betapa sejarah telah merekam kisah perjuangan nan
indah bertaburkan cinta: perang Badar, penaklukan Konstantinopel hingga jihad
mengusir Belanda.
Sekali lagi, cinta memang ajaib. Di hadapannya, nafsu
bertekuk lutut, jurus pamungkasnya sungguh bukan apa-apa. Setan penggoda lumpuh,
kehabisan kata-kata. Maka berbahagialah pencinta sejati. Dinginnya sepertiga
malam mungkin akan membekukan urat-urat, memaksanya untuk tidak beranjak dari
mimpi; tapi pencinta memang telah memilih cinta, larut dalam sujud harap-takut
berurai air mata.
0 komentar:
Post a Comment