Tuesday, 31 December 2013

Tahun Baru, Cukupkah Terompet dan Kembang Api?


 

Sudah menjadi tradisi setiap tahun baru Masehi diperingati dengan meriah. Orang-orang rela bergadang hanya untuk menyaksikan pergantian detik itu. Jalanan macet, istirahat warga terganggu. Yang paling parah, maksiat rentan terjadi pada saat-saat ‘sakral’ itu. Belum lagi, sampah yang bertebaran di mana-mana, pencopetan, kehilangan anak, sampai jiwa melayang. Semua itu seolah bukan masalah, asalkan terompet tertiupkan, kembang api berletusan menghiasi langit malam. Anehnya, perayaan mubazir itu turut dihadiri pula oleh orang nomor wahid di negara ini, negara yang katanya berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Di malam itu, semua menaruh harapan baru. Harapan untuk tahun baru yang akan dilaluinya esok hari. ada banyak harapan dan banyak cara menaruhnya. Pengusaha berharap tahun depan akan menjadi tahun keberuntungannya. Karyawan berharap dinaikkan gajinya, para bos berharap meraup laba perusahaan yang memuaskan, aparatur pemerintah menginginkan kenaikan pangkat, dan sebagainya. Tapi sayangnya, sedikit sekali yang berharap adanya perbaikan secara spiritual. Hampir semua yang merayakannya itu menginginkan adanya kemajuan secara material.

Lalu? Besoknya, semua kembali seperti sediakala. Yang terlanjur bergadang semalaman malah tidur pagi hari, lalu bangun kesiangan. Tidak ada perubahan. Harapan hanya sekedar harapan yang melayang ke udara dan menghilang seiring percikan kembang api.
Sahabat, sudahlah. Hentikan saja kebiasaan mubazir yang tak kautemui faedahnya itu. Lalui malam ini dengan indah, lakukan kegiatan yang bermanfaat. Yang belum tilawah sejak pagi tadi, mari kita membaca kalam indah Sang Pemilik segalanya ini. Yang belum menyapa tetangga, masih ada waktu sebelum menutup mata di malam ini.

Sahabat, sudahlah. Itu bukan budaya kita. Karena kita sudah paham betul darimana kebiasaan itu berasal. Terompet jelas menjadi simbolnya orang Yahudi. Topi kerucut menjadi penanda orang-orang murtad di Andalusia dulu. Kembang api jelas menjadi barang yang mubazir lantaran terbuang percuma tanpa makna, sementara mubazir adalah temannya syetan. Lalu apa lagi yang harus kita banggakan dari perayaan ini? Hura-hura di jalan? Balap-balapan motor? Tidak ada, sahabat. Sadarlah!

Lebih baik kita muhasabah, refleksi setahun yang lalu. Apa perubahan dalam diri kita, apa manfaat yang telah kita tebarkan ke sekitar? Apa targetan yang telah kita capai? Apa prestasi memuaskan yang patut untuk dibanggakan? Sudah sedekat apa jarak kita dengan Tuhan? Sudah sepeka apa kita terhadap lingkungan sekitar? Pertanyaan-pertanyaan ini yang seharusnya kita tanyakan di akhir tahun ini.

Sahabat, bila ada yang menganggap malam ini adalah malam spesial, maka sebenarnya tidak ada yang istimewa di malam ini. Malam ini adalah malam yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Malam yang menjadi tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir. Malam yang menjadi rutinitas yang dilalui oleh belahan bumi yang tidak menerima sinar matahari. Jika memang malam ini istimewa, coba cerahkan saja cuaca mendung yang menggelayut di langit sejak beberapa hari lalu. Jika malam ini istimewa, adakah bulan malam ini berwarna putih atau berubah bentuk; berbeda seperti malam-malam lainnya? Jika malam ini istimewa, adakah semuanya terasa mudah dan berpihak kepada kita malam ini?

Sekali lagi, kita hanya perlu muhasabah, Sahabat. Ya, muhasabah layaknya yang rutin kita lakukan di malam-malam sebelumnya, sebelum mata terpejam dan jiwa terlelap. Kita ingat-ingat, siapakah tadi pagi yang merasa tersakiti dengan tingkah kita? Siapa yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran kita? Siapa yang terzalimi dengan ulah kita? Adakah amanah yang belum tertunaikan? Adakah hutang yang belum terbayarkan? Adakah janji yang belum terlaksanakan? Itu jauh lebih penting daripada sekedar hura-hura yang tak jelas jua keuntungannya. Itu jauh lebih perlu daripada sekedar meniup-niup terompet dan menyalakan kembang api yang jelas-jelas bukan budaya kita.

Jadi, bila pertanyaan di judul tulisan ini diulang lagi, maka jawabannya adalah sangat tidak layak, bukan tidak cukup. Ya, tidak layak karena jawaban yang telah kita sepakati bersama-sama: Perayaan Tahun Baru Masehi dengan cara seperti ini (topi kerucut, kembang api, terompet) bukan budaya kita dan tidak bermanfaat.

Wallahu a’lam.


Darussalam, 31 Desember 2013

0 komentar:

Post a Comment