Di pelabuhan Ilahi
Ramadhan yang kaubenci telah melabuhkan jangkar
Secantik purnama setengah bulan silam
Ia tersenyum di taman hatimu,
lalu berkata: "akulah temanmu sebulan"
Ramadhan yang kaubenci
kini tinggal di tamanmu, meski tak kau izinkan
Ramadhan yang kaubenci
kini menjamah akar keegoan, membabat tunas-tunas nafsu
membakar batang-batang keangkuhan
memberantas hama riya' dari pohon keikhlasan
Ramadhan, kini ia menemani hari-harimu
Membangunkanmu di tunas fajar, memaksamu mengurung dahaga
di kerongkongan seharian
juga, mendorong kaki-kakimu ke shaf-shaf Tarawih
berjejalan di malam melelahkan
kaulakukan juga semua itu bersamaan seribu satu kesal
Ramadhan, kini telah tiba sebulan
engkaupun girang: "sudah waktunya ia pulang"
Tak sengaja kaulirik tamanmu
Ia telah menjelma taman surga,
adakah
kau sesal?
- Darussalam, 18 Juli 2012

0 komentar:
Post a Comment