1. Membatasi kebebasan
A: “Jalan, yuk!”
B: “Ke mana?”
A: “Ke taman.”
B: “Ayuk..”
Di taman…
A: “Seru, ya. Banyak
orang di sini.”
B: (sibuk melihat-lihat ke
sekeliling)
A: “Hei, matanya jangan jelalatan gitu, dong.”
B: “Ah, nggak. Cuma lihat pemandangan aja.”
A: “Ah, alasan. Padahal lihat c*w*k yang tadi kan?”
(sambil marah-marah).
B: (dalam hati) “Emang gue suami lo?”
Baru nyadar!
2. Belajar mementingkan orang lain
Rio baru saja pulang dari kampus menjelang Maghrib.
Soal-soal final test benar-benar menguras energinya. Begitu sampai di rumah, ia
melepas sepatu dan berniat hendak duduk di sofa. Baru saja niatnya itu akan
dilaksanakan, tiba-tiba hp-nya bordering. Ani, pacarnya, menelepon.
“Bisa antarin aku pulang, nggak?” suara di ujung sana.
Diam sejenak.
“Rio…”
“Oh, bisa…bisa…”
“Kamu nggak capek, kan?”
“Oh…nggak, ini lagi
duduk-duduk di rumah.”
“OK, aku tunggu di kampus, ya.”
Tiit tiit. HP dimatikan.
“Ya Tuhan, susahnya punya pacar, kita belum istirahat
juga.”
Baru nyadar!
3. Belajar ‘rendah diri’
“Nanti malam aku jemput, ya?”
“Jangan. Ortu-ku galak
banget.”
“Wah, gimana tuh? Aku
pengen kita jalan-jalan, mumpung malam Minggu.”
“Ya sudah, aku tunggu di
simpang jalan ke rumah aku aja, ya.”
“Lho, nanti gimana aku nganterinnya?”
“Anterin sampai simpang itu juga. Nggak apa-apa, kok”
Ini rendah diri atau merendahkan harga diri?
4. Dewasa
“Nak, kamu sebaiknya jangan terlalu dekat dengan si Boy
itu.”
“Lho, emangnya kenapa Pa, Ma?”
“Dia itu pemuda nggak jelas, shalat nggak jelas, merokok,
nggak rapi, pokoknya nggak ideal deh.”
“Mama ni gimana sih. Emang Mama ngekorin dia terus,
sehingga Mama merasa yakin dia nggak shalat? Kalo merokok, itu memang budaya
pemuda sekarang, Ma. Terus, macho gitu Mam bilang nggak rapi. Gimana sih? Aku
udah dewasa, Ma. Jadi sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Papa Mama
sih, nggak gaul.”
Dewasa!!! Lebih dewasa dari orang tuanya. Mungkin lahir duluan.
0 komentar:
Post a Comment