Tuesday, 23 September 2014

Akankah MIM ‘Membunuh’ SMS?

            SEKITAR satu dasawarsa silam, menjamurnya ponsel di Indonesia berhasil mematikan bisnis wartel. Kini, kejadian yang sama diprediksi akan terulang seiring dengan makin meningkatnya minat masyarakat terhadap smartphone.
Aplikasi Mobile Instan Messaging
            
            Kita masih ingat lebih dari sepuluh tahun silam, usaha warung telekomunikasi (wartel) adalah usaha dengan prospek yang menjanjikan. Telepon rumah masih menjadi barang canggih karena fungsinya yang lebih efisien daripada surat. Waktu lama yang bisa berhari-hari jika berkomunikasi menggunakan surat bisa dipangkas oleh telepon hingga beberapa detik saja. Namun masalahnya, harga barang canggih itu tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Ditambah lagi, telepon rumah tidak portable sehingga susah bila sewaktu-waktu hendak berkomunikasi. Inilah yang selanjutnya dimanfaatkan untuk dijadikan lahan bisnis wartel. Usaha ini selanjutnya berpengaruh besar pada lesunya aktivitas pos.
            Namun seiring waktu dan perkembangan teknologi, muncullah telepon seluler (ponsel) dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan. Harganya lebih murah dan portable, dua hal yang tidak dimiliki oleh telepon rumah. Lambat laun, masyarakatpun mulai berpindah dan meninggalkan wartel. Tidak butuh waktu lama, usaha wartel pun bernasib sama seperti kantor pos.
            Salah satu fitur yang ditawarkan oleh ponsel adalah short message service (SMS). Ini adalah sebuah layanan yang memungkinkan seseorang mengirimkan pesan tertulis kepada yang ditujunya. Tarifnya lebih murah daripada komunikasi suara. Ini pula yang menjadi salah satu daya tarik ponsel yang tidak dimiliki oleh telepon rumah.
            Kehadiran SMS ternyata memberi pengaruh besar terhadap cara berkomunikasi masyarakat dunia. Bagaimana tidak, dengan kehadiran SMS, kartu ucapan selamat, surat dari seorang anak kepada orang tua, hingga undangan berbagai acara semakin jarang ditemui. Semuanya cukup disampaikan lewat SMS saja. Ini tentu karena pertimbangan SMS lebih cepat dan hemat. Fakta menunjukkan pada 2011, ada lebih dari 7.8 triliun SMS yang telah dikirim dari berbagai penjuru dunia. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa betapa SMS telah merubah cara berkomunikasi masyarakat dunia. Selain itu, kehadiran fitur SMS ternyata mampu menjaga komunikasi menggunakan tulisan, hal yang sebenarnya sudah mulai ditinggalkan ketika telepon rumah menggantikan peran kantor pos.
            Dalam perkembangan selanjutnya, hadir fitur baru yang bernama Multimedia Message Service (MMS) yang memungkinkan pengguna ponsel mengirimkan pesan dalam bentuk suara dan gambar. Akan tetapi, layanan ini tidak berkembang sepesat SMS dikarenakan tarif yang mahal dan prosedur yang rumit.

Instan Messaging
Definisi awal Instan Messaging (IM), seperti yang dikutip dari Wikipedia adalah teknologi komunikasi mutakhir yang memungkinkan para pengguna dalam jaringan internet untuk mengirimkan pesan-pesan singkat secara langsung pada saat yang bersamaan (real time) dengan menggunakan teks kepada pengguna lainnya yang sedang terhubung ke jaringan yang sama. Namun belakangan ini, sebagian besar aplikasi Instan Messaging menawarkan fitur baru yaitu pesan singkat menggunakan suara.
Istilah Instan Messaging pertama kali dipopulerkan oleh American Online (AOL) lalu diikuti oleh Yahoo!, Google dan Microsoft. Awalnya, aplikasi ini hanya bisa digunakan dengan menggunakan komputer yang memiliki akses internet. Sebut saja aplikasi Internet Relay Chatting (IRC) atau yang lebih kita kenal sebagai chatting, mig33, eBuddy dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan maraknya smartphone di kalangan masyarakat, maka aplikasi Instan Messaging pun semakin menjamur. Hal ini dikarenakan sebagian besar Operating System (OS) ternama seperti Android, iOS, dan Windows Phone menyediakan jasa aplikasi Instan Messaging seluler secara cuma-cuma di toko aplikasi online mereka. Seperti yang kita ketahui, Android memiliki toko aplikasi online Google Play Store, iOS dengan App Store-nya dan Windows Phone dengan Windows Phone Store-nya.
Aplikasi Instan Messaging seluler (Mobile Instan Messaging atau MIM) pertama yang booming di masyarakat adalah Blackberry Messenger (BBM). Aplikasi ini dipopulerkan oleh Blackberry. Awalnya, BBM digunakan oleh kalangan perkantoran sebagai perangkat yang dapat menerima email selayaknya menerima SMS. Seiring dengan berkembangnya zaman, perangkat ini kemudian tidak hanya digunakan di kalangan perkantoran saja tetapi juga kalangan generasi muda seperti anak sekolah dan mahasiswa. Melalui BBM setiap orang dapat mengirimkan pesan teks, gambar, audio, dan juga dokumen sehingga fitur BBM menjadi andalan para pengguna Blackberry dalam berkirim pesan singkat layakanya SMS.
Kemudian kita menemukan ragam aplikasi MIM lainnya seperti Whatsapp, WeChat, LINE, Talk dan sebagainya. Aplikasi yang paling terkenal adalah Whatsapp disebabkan kemudahannya yang bisa digunakan oleh lintas platform. Kepopuleran Whatsapp sebagai aplikasi instant messaging juga dibuktikan sejak empat tahun terakhir ini dengan jumlah pengguna yang telah mencapai 430 juta di seluruh dunia dan sebanyak 50 milyar pesan terkirim melalui layanan Whatsapp. Angka ini bersaing ketat dengan jumlah peredaran pesan singkat atau SMS dalam satu hari. Ini juga mungkin yang menjadi pertimbangan Mark Zuckerberg untuk mengakuisisi aplikasi gratis yang satu ini.

Akankah MIM ‘Membunuh’ SMS?
            Pertanyaan ini mengemuka setelah melihat pergeseran penggunaan fitur komunikasi masyarakat dunia. Secara statistik, jumlah pesan yang terkirim via Whatsapp masih kalah dari SMS. Namun mengingat banyaknya aplikasi MIM, bukan tidak mungkin jawaban positif dari judul artikel ini akan kita temui. Pertimbangannya, pertama, faktor biaya. Pengiriman pesan melalui MIM diakui lebih murah daripada SMS. Kedua, faktor multifungsi. MIM mampu mengirimkan pesan singkat lainnya seperti pesan gambar, audio dan video. Ini tidak ditemui pada fitur SMS yang hanya bisa mengirimkan pesan teks. Ketiga, faktor efisiensi. MIM ternyata mampu berkirim pesan lebih cepat dibandingkan SMS. Singkat kata, MIM lebih realtime daripada SMS.

            Berdasarkan tiga faktor di atas, sepertinya bukan mustahil MIM akan mematikan fitur SMS seperti yang dilakukan telepon genggam terhadap wartel. Usaha ‘saling bunuh’ memang sudah menjadi hal yang biasa di manapun terlebih di bidang teknologi yang terus mengalami perkembangan. Bisa saja, suatu saat MIM pun akan ‘dibunuh’oleh fitur lain yang lebih canggih. Kita tunggu saja!

0 komentar:

Post a Comment