SEKITAR satu dasawarsa silam, menjamurnya ponsel di Indonesia berhasil mematikan bisnis wartel. Kini, kejadian yang sama diprediksi akan terulang seiring dengan makin meningkatnya minat masyarakat terhadap smartphone.
![]() |
| Aplikasi Mobile Instan Messaging |
Kita
masih ingat lebih dari sepuluh tahun silam, usaha warung telekomunikasi
(wartel) adalah usaha dengan prospek yang menjanjikan. Telepon rumah masih
menjadi barang canggih karena fungsinya yang lebih efisien daripada surat. Waktu
lama yang bisa berhari-hari jika berkomunikasi menggunakan surat bisa dipangkas
oleh telepon hingga beberapa detik saja. Namun masalahnya, harga barang canggih
itu tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Ditambah lagi, telepon rumah tidak portable sehingga susah bila
sewaktu-waktu hendak berkomunikasi. Inilah yang selanjutnya dimanfaatkan untuk
dijadikan lahan bisnis wartel. Usaha ini selanjutnya berpengaruh besar pada
lesunya aktivitas pos.
Namun
seiring waktu dan perkembangan teknologi, muncullah telepon seluler (ponsel)
dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan. Harganya lebih murah dan portable, dua hal yang tidak dimiliki
oleh telepon rumah. Lambat laun, masyarakatpun mulai berpindah dan meninggalkan
wartel. Tidak butuh waktu lama, usaha wartel pun bernasib sama seperti kantor
pos.
Salah
satu fitur yang ditawarkan oleh ponsel adalah short message service (SMS). Ini adalah sebuah layanan yang
memungkinkan seseorang mengirimkan pesan tertulis kepada yang ditujunya.
Tarifnya lebih murah daripada komunikasi suara. Ini pula yang menjadi salah
satu daya tarik ponsel yang tidak dimiliki oleh telepon rumah.
Kehadiran
SMS ternyata memberi pengaruh besar terhadap cara berkomunikasi masyarakat
dunia. Bagaimana tidak, dengan kehadiran SMS, kartu ucapan selamat, surat dari
seorang anak kepada orang tua, hingga undangan berbagai acara semakin jarang
ditemui. Semuanya cukup disampaikan lewat SMS saja. Ini tentu karena
pertimbangan SMS lebih cepat dan hemat. Fakta menunjukkan pada 2011, ada lebih
dari 7.8 triliun SMS yang telah dikirim dari berbagai penjuru dunia. Sekali
lagi, ini menunjukkan bahwa betapa SMS telah merubah cara berkomunikasi
masyarakat dunia. Selain itu, kehadiran fitur SMS ternyata mampu menjaga
komunikasi menggunakan tulisan, hal yang sebenarnya sudah mulai ditinggalkan ketika
telepon rumah menggantikan peran kantor pos.
Dalam
perkembangan selanjutnya, hadir fitur baru yang bernama Multimedia Message Service (MMS) yang memungkinkan pengguna ponsel
mengirimkan pesan dalam bentuk suara dan gambar. Akan tetapi, layanan ini tidak
berkembang sepesat SMS dikarenakan tarif yang mahal dan prosedur yang rumit.
Instan
Messaging
Definisi awal Instan
Messaging (IM), seperti yang dikutip dari Wikipedia
adalah teknologi komunikasi mutakhir yang memungkinkan para pengguna dalam
jaringan internet untuk mengirimkan pesan-pesan singkat secara langsung pada
saat yang bersamaan (real time)
dengan menggunakan teks kepada pengguna lainnya yang sedang terhubung ke
jaringan yang sama. Namun belakangan ini, sebagian besar aplikasi Instan
Messaging menawarkan fitur baru yaitu pesan singkat menggunakan suara.
Istilah Instan
Messaging pertama kali dipopulerkan oleh American Online (AOL) lalu diikuti oleh
Yahoo!, Google dan Microsoft. Awalnya, aplikasi ini hanya bisa digunakan dengan
menggunakan komputer yang memiliki akses internet. Sebut saja aplikasi Internet
Relay Chatting (IRC) atau yang lebih kita kenal sebagai chatting, mig33, eBuddy dan sebagainya. Dalam perkembangan
selanjutnya, seiring dengan maraknya smartphone
di kalangan masyarakat, maka aplikasi Instan Messaging pun semakin
menjamur. Hal ini dikarenakan sebagian besar Operating System (OS) ternama seperti Android, iOS, dan Windows
Phone menyediakan jasa aplikasi Instan Messaging seluler secara cuma-cuma di
toko aplikasi online mereka. Seperti yang kita ketahui, Android memiliki toko
aplikasi online Google Play Store,
iOS dengan App Store-nya dan Windows Phone dengan Windows Phone Store-nya.
Aplikasi Instan
Messaging seluler (Mobile Instan
Messaging atau MIM) pertama yang booming
di masyarakat adalah Blackberry Messenger (BBM). Aplikasi ini dipopulerkan
oleh Blackberry. Awalnya, BBM digunakan oleh kalangan perkantoran sebagai perangkat yang dapat menerima email selayaknya
menerima SMS. Seiring dengan berkembangnya zaman, perangkat ini kemudian tidak
hanya digunakan di kalangan perkantoran saja tetapi juga kalangan generasi muda
seperti anak sekolah dan mahasiswa. Melalui BBM setiap orang dapat mengirimkan
pesan teks, gambar, audio, dan juga dokumen sehingga fitur BBM menjadi andalan
para pengguna Blackberry dalam berkirim pesan singkat layakanya SMS.
Kemudian kita menemukan
ragam aplikasi MIM lainnya seperti Whatsapp, WeChat, LINE, Talk dan sebagainya. Aplikasi
yang paling terkenal adalah Whatsapp disebabkan kemudahannya yang bisa
digunakan oleh lintas platform. Kepopuleran
Whatsapp sebagai aplikasi instant messaging juga dibuktikan sejak
empat tahun terakhir ini dengan jumlah pengguna yang telah mencapai 430 juta di
seluruh dunia dan sebanyak 50 milyar pesan terkirim melalui layanan Whatsapp.
Angka ini bersaing ketat dengan jumlah peredaran pesan singkat atau SMS dalam
satu hari. Ini juga mungkin yang menjadi pertimbangan Mark Zuckerberg untuk
mengakuisisi aplikasi gratis yang satu ini.
Akankah
MIM ‘Membunuh’ SMS?
Pertanyaan ini
mengemuka setelah melihat pergeseran penggunaan fitur komunikasi masyarakat
dunia. Secara statistik, jumlah pesan yang terkirim via Whatsapp masih kalah
dari SMS. Namun mengingat banyaknya aplikasi MIM, bukan tidak mungkin jawaban
positif dari judul artikel ini akan kita temui. Pertimbangannya, pertama, faktor biaya. Pengiriman pesan
melalui MIM diakui lebih murah daripada SMS. Kedua, faktor multifungsi. MIM mampu mengirimkan pesan singkat
lainnya seperti pesan gambar, audio dan video. Ini tidak ditemui pada fitur SMS
yang hanya bisa mengirimkan pesan teks. Ketiga,
faktor efisiensi. MIM ternyata mampu berkirim pesan lebih cepat dibandingkan
SMS. Singkat kata, MIM lebih realtime daripada
SMS.
Berdasarkan
tiga faktor di atas, sepertinya bukan mustahil MIM akan mematikan fitur SMS
seperti yang dilakukan telepon genggam terhadap wartel. Usaha ‘saling bunuh’ memang
sudah menjadi hal yang biasa di manapun terlebih di bidang teknologi yang terus
mengalami perkembangan. Bisa saja, suatu saat MIM pun akan ‘dibunuh’oleh fitur
lain yang lebih canggih. Kita tunggu saja!

0 komentar:
Post a Comment