Friday, 7 February 2014

Belajar Berdusta

Pinokio, dongeng si anak yang tak boleh berdusta

Akhir-akhir ini, kita semakin tak asing saja dengan kebohongan. Janji-janji kampanye yang tidak ditepati oleh seorang pemimpin membuat rakyat kian tak menaruh harapan kepadanya. Sebenarnya apa definisi dari kebohongan--atau dalam istilah lain disebut dusta--itu sendiri?

Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa berkata kepada anak kecil, ‘mari sini, ini aku beri’ kemudian ia tidak memberi, maka ia adalah pendusta!".

Dalam riwayat lainnya dengan perawi Abu Daud dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar r.a. ia berkata: Pada suatu hari, ibuku memanggilku, dan Rasulullah SAW sedang bertamu di rumah kami. Berkatalah ibuku, "Wahai Abdullah, ke sinilah, nanti aku beri." Maka Rasulullah SAW bertanya kepada ibuku, "Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?" Ibuku menjawab, “Saya hendak memberikan kurma kepadanya." Rasulullah SAW bersabda, "Jika engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka tertulislah engkau sebagai pendusta."

Dua hadist di atas mengajarkan kita bahwa dusta adalah menjanjikan sesuatu agar seseorang mau melakukan apa yang diinginkan oleh penjanji, namun setelah terwujud, si penjanji membatalkan janjinya. Contoh yang paling mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah orang tua yang menjanjikan membelikan permen, mobil-mobilan atau yang lainnya hanya sekadar untuk mengambil hati si kecil untuk tujuan tertentu (misalnya agar si anak berhenti menangis). Namun ketika tujuan tercapai, janji pada si anak tidak dipenuhi. Janji yang tidak dipenuhi inilah yang menjadikan anak kecil meniru dan mulai belajar "dusta".

Rasulullah SAW, sebelum diangkat menjadi Nabi, terkenal dengan predikat Al-Amin (yang dipercaya). Dengan sifat amanah, Rasulullah SAW berhasil dalam menjalankan tugasnya yang berat. Kenyataan sejarah yang kita temui selanjutnya adalah bahwa modal utama pemimpin-pemimpin besar itu adalah tidak berdusta.

Lantas apa yang harus kita lakukan jika di negeri ini telah ada begitu banyak pendusta? Tak ada kata terlambat untuk berbenah diri. Kita harus berusaha, dimulai dari diri kita sendiri untuk mempunyai sifat amanah. Selanjutnya, tak kalah pentingnya membentuk generasi yang bisa dipercaya walaupun hanya dengan seorang anak kecil dengan cara memenuhi janji.

0 komentar:

Post a Comment