Ayah,
kutulis ini dengan rindu yang membuncah. Setelah sekian lama kita terpisah. Dan
meski Rabb kita telah memberikan waktu selama itu, aku masih belum bisa menjadi
anak yang berbakti sepenuhnya padamu.
Ayah, rasanya
baru kemarin engkau pergi meninggalkan kami. Pergi menuju alam yang kekal
selama-lamanya, pergi meninggalkan dunia fana. Pergi menuju
ribaan Rabb kita.
Hari itu, aku tak menangisi kepergianmu. Karena kuyakin semuanya akan tiba
di detik penghujung, saat ketika maut menjadi pemisah. Aku menangisi
ketidakmampuanku membalas jasa, perjuangan dan pengorbananmu untukku. Aku
menangis karena sebentar lagi aku akan hanya bisa merindui sosok terhebat yang
pernah kutemui dalam hidup. Aku menangis karena sesudah itu aku tak bisa lagi
belajar kesabaran dan ketegaran darimu.
Ayah, dini hari itu aku bahkan tak bisa menemanimu. Mengantarmu
meninggalkan kami untuk selamanya. Hanya lewat telepon, aku tersentak di Shubuh
buta mendengar kabar yang mengejutkan itu. Ayah, aku minta maaf atas segala
kesalahan-kesalahan yang pernah melukai hatimu. Aku sadar belum menjadi anak
yang berbakti padamu. Justru selama ini, aku lebih sering meresahkanmu.
Ayah, aku tahu pada waktu-waktu tertentu, engkau malah memilih menyendiri.
Memikirkan masa depan kami, anak-anakmu. Padahal, bisa saja engkau mengikuti
jejak orang-orang di kampung kita. Mengajak kami terjun lebih awal ke dalam
kerasnya kehidupan; menjadi pedagang atau petani muda. Ayah, diam-diam aku memendam
rasa kagum padamu. Kagum pada keteguhan prinsipmu. Bahwa pendidikan adalah
kewajibanmu sebagai orang tua terhadap kami. Kagum pada perjuangan dan sikap
tidak gampang menyerahmu. Padahal membiayai pendidikan untuk lima orang putramu
sekaligus bukanlah hal yang mudah dan murah.
Ayah, rasanya baru kemarin bocah nakal ini engkau ajari huruf-huruf
hijaiyyah selepas Maghrib. Padahal, engkau baru saja pulang kerja saat matahari
sore meredup jingga, beberapa menit sebelum azan berkumandang dari mesjid desa.
Dan karena tidak mengulang-ulang di siang harinya, aku sering salah melafalkan
huruf-huruf yang hampir sama bentuknya. Tapi kesabaranmu lebih kentara dari
segalanya.
Ayah, rasanya baru kemarin siang engkau menuliskan huruf-huruf alfabet di
selembar kertas berukuran poster. Kau tulis huruf-huruf itu serapi mungkin,
lalu kauwarnai dengan warna-warna yang kami sukai. Itu semua kaulakukan agar
kami lebih cepat menghafal bentuk huruf-huruf itu. Hebatnya, itu kaulakukan di
sela-sela jam istirahat kerjamu.
Ayah, rasanya baru kemarin engkau memarahiku karena mendengar laporan dari
Ibu bahwa aku tidak sarapan ketika ke sekolah pagi itu. Padahal, aku juga
terpaksa melakukannya karena bangun telat. “Kalau gak sarapan, lebih baik gak
usah sekolah”. Aku tahu saat itu engkau benar-benar marah, tapi aku baru
menemukan jawabannya beberapa tahun kemudian. Rupanya, engkau sangat
memperhatikan kesehatan kami.
Ayah, rasanya semuanya baru terjadi kemarin. Hingga hari ini, rindu itu tiba-tiba
kian meradang. Meradang dalam doa-doa panjang untukmu. Meradang dalam air mata.
Ayah, andai
kita bisa berjumpa, meski lewat mimpi, aku ingin sekali bersimpuh di lututmu.
Aku ingin sekali, Ayah. Ingin meminta maaf atas segala tingkahku yang
merepotkan dan –bahkan lebih sering—membuatmu kesal. Aku ingin sekali, Ayah.
Ingin meminta maaf atas ketidaksanggupanku membalas sedikit jasamu. Sejauh ini, aku hanya bisa berharap pada Rabb kita agar Ia mengabulkan
pintaku.
Ayah, aku merindukan kelak kita bertemu kembali. Bertemu dengan hati ridha dan
diridhaiNya, bertemu dalam surga dengan nikmat yang tiada terkira.
Rabbighfirli waliwalidayya, warhamhuma kama rabbayani saghira. Amin.
Salam rindu,
Anakmu
Sajadah Rindu, 9 Januari 2014
0 komentar:
Post a Comment