Friday, 10 January 2014

Surat Rindu untuk Ayah



Ayah, kutulis ini dengan rindu yang membuncah. Setelah sekian lama kita terpisah. Dan meski Rabb kita telah memberikan waktu selama itu, aku masih belum bisa menjadi anak yang berbakti sepenuhnya padamu.

Ayah, rasanya baru kemarin engkau pergi meninggalkan kami. Pergi menuju alam yang kekal selama-lamanya, pergi meninggalkan dunia fana. Pergi menuju ribaan Rabb kita.

Hari itu, aku tak menangisi kepergianmu. Karena kuyakin semuanya akan tiba di detik penghujung, saat ketika maut menjadi pemisah. Aku menangisi ketidakmampuanku membalas jasa, perjuangan dan pengorbananmu untukku. Aku menangis karena sebentar lagi aku akan hanya bisa merindui sosok terhebat yang pernah kutemui dalam hidup. Aku menangis karena sesudah itu aku tak bisa lagi belajar kesabaran dan ketegaran darimu.

Ayah, dini hari itu aku bahkan tak bisa menemanimu. Mengantarmu meninggalkan kami untuk selamanya. Hanya lewat telepon, aku tersentak di Shubuh buta mendengar kabar yang mengejutkan itu. Ayah, aku minta maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah melukai hatimu. Aku sadar belum menjadi anak yang berbakti padamu. Justru selama ini, aku lebih sering meresahkanmu.

Ayah, aku tahu pada waktu-waktu tertentu, engkau malah memilih menyendiri. Memikirkan masa depan kami, anak-anakmu. Padahal, bisa saja engkau mengikuti jejak orang-orang di kampung kita. Mengajak kami terjun lebih awal ke dalam kerasnya kehidupan; menjadi pedagang atau petani muda. Ayah, diam-diam aku memendam rasa kagum padamu. Kagum pada keteguhan prinsipmu. Bahwa pendidikan adalah kewajibanmu sebagai orang tua terhadap kami. Kagum pada perjuangan dan sikap tidak gampang menyerahmu. Padahal membiayai pendidikan untuk lima orang putramu sekaligus bukanlah hal yang mudah dan murah.

Ayah, rasanya baru kemarin bocah nakal ini engkau ajari huruf-huruf hijaiyyah selepas Maghrib. Padahal, engkau baru saja pulang kerja saat matahari sore meredup jingga, beberapa menit sebelum azan berkumandang dari mesjid desa. Dan karena tidak mengulang-ulang di siang harinya, aku sering salah melafalkan huruf-huruf yang hampir sama bentuknya. Tapi kesabaranmu lebih kentara dari segalanya.

Ayah, rasanya baru kemarin siang engkau menuliskan huruf-huruf alfabet di selembar kertas berukuran poster. Kau tulis huruf-huruf itu serapi mungkin, lalu kauwarnai dengan warna-warna yang kami sukai. Itu semua kaulakukan agar kami lebih cepat menghafal bentuk huruf-huruf itu. Hebatnya, itu kaulakukan di sela-sela jam istirahat kerjamu.

Ayah, rasanya baru kemarin engkau memarahiku karena mendengar laporan dari Ibu bahwa aku tidak sarapan ketika ke sekolah pagi itu. Padahal, aku juga terpaksa melakukannya karena bangun telat. “Kalau gak sarapan, lebih baik gak usah sekolah”. Aku tahu saat itu engkau benar-benar marah, tapi aku baru menemukan jawabannya beberapa tahun kemudian. Rupanya, engkau sangat memperhatikan kesehatan kami.

Ayah, rasanya semuanya baru terjadi kemarin. Hingga hari ini, rindu itu tiba-tiba kian meradang. Meradang dalam doa-doa panjang untukmu. Meradang dalam air mata.

Ayah, andai kita bisa berjumpa, meski lewat mimpi, aku ingin sekali bersimpuh di lututmu. Aku ingin sekali, Ayah. Ingin meminta maaf atas segala tingkahku yang merepotkan dan –bahkan lebih sering—membuatmu kesal. Aku ingin sekali, Ayah. Ingin meminta maaf atas ketidaksanggupanku membalas sedikit jasamu. Sejauh ini, aku hanya bisa berharap pada Rabb kita agar Ia mengabulkan pintaku.

Ayah, aku merindukan kelak kita bertemu kembali. Bertemu dengan hati ridha dan diridhaiNya, bertemu dalam surga dengan nikmat yang tiada terkira.

Rabbighfirli waliwalidayya, warhamhuma kama rabbayani saghira. Amin.

Salam rindu,
Anakmu

Sajadah Rindu, 9 Januari 2014

0 komentar:

Post a Comment