
Ada
rekah-rekah senyum
dalam
juang penuh rintang,
Ada
simpul-simpul tulus
sepanjang jalan sarat korban
Aku merasa ada hati yang tertaut
dalam
satu simpul takjub;
Ukhuwwah
Di
bebaris ukhuwwah
semua padat makna
semua satu warna
semua satu cita
Di lingkar ukhuwwah
tangis
berubah tawa,
luka
dibalut bahagia,
sepi sirna sudah, jamaah terang menjelma
Di
jabat-tangan ukhuwwah
mesra
kian kentara,
lisan
sering hilang kata,
hati: Kami ini saudara.
Pasir Putih, 1 Januari 2013
Ya, kami (baca: kita) ini saudara. Saudara seiman. Ikatan
persaudaraan itulah yang mengekal. Ia abadi selamanya lantaran tak mengenal
tempat dan waktu. Ketika ikatan nasionalisme sebangsa dan setanah air hanya
sebatas wilayah territorial tertentu saja, ketika ikatan kekerabatan seringkali
terlupakan begitu maut memisahkan, maka ikatan yang satu ini menempatkan
dirinya dalam lingkaran tak bertepi, layaknya dunia ini, tak berujung. Tak
salah, jika ikatan bernama lengkap Ukhuwwah Islamiyyah ini dilukis ibarat satu
simpul. Simpul menakjubkan! Betapa tidak? Kita mungkin tidak mengenal
saudara-saudara kita yang terzalimi di Mesir, beribu-ribu mil di sana. Kita
mungkin tidak pernah berjabat tangan dengan saudara-saudara kita yang dianiaya,
nun di Palestina. Kita bahkan mungkin tidak bisa berkomunikasi dengan baik
dengan saudara-saudara kita yang tertindas di Suriah. Tapi mengapa kita
tersakiti? Mengapa air mata ini mengalir begitu deras layaknya bendungan yang
mendadak jebol begitu kita melihat rekaman-rekaman penderitaan mereka? Mengapa
juga amarah yang bahkan hampir tidak kita ingat lagi wujudnya dalam diri kita itu
tiba-tiba memuncak melihat tirani yang semena-mena? Mengapa? Bukankah Palestina
itu jauh dari Indonesia? Bukankah Suriah itu tidak punya catatan sejarah yang
berkaitan dengan negara kita? Lalu, bukankah pula Mesir itu semacam negeri
‘antah berantah’ (selain sumbangsihnya untuk eksistensi Indonesia di awal
kemerdekaan), bahkan tidak sebenua dengan kita? Lantas, mengapa begitu Erdogan di Turki mulai memijarkan kembali cahaya
Islam yang telah redup, kita berbangga hati? Mengapa juga ketika perjuangan
Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga mengorbankan ribuan nyawa namun tak surut
setapakpun itu membuat kita kian kuat dan mantap di jalan dakwah di sini, di
Indonesia? Itu semua karena satu kata menakjubkan tadi. Ukhuwwah!
Di dalam barisnya yang mengagumkan itu, setiap inci punya makna, semua
padat makna. Kita merasakan berada di bawah satu panji, panji Islam, panji
teragung dan tertinggi hingga tidak ada lagi yang melebihi keagungan dan
kelebihannya. Maka jadilah barisan-barisan tadi layaknya satu bangunan, di
naungan bendera teragung. Satu bangunan, karena itu semuanya saling melengkapi.
Satu bangunan, semuanya mengambil peran dan posisi masing-masing. Ada yang
menjadi keramik di lantai, ada yang menjadi besi dalam tiang, ada yang menjadi
batu bata penyusun dinding. Ada yang menjadi jendela, pintu, bahkan engsel
sekalipun. Semua saling melengkapi, karena ketiadaan kawat pengikat besi (yang
terlihat paling kecil dan hampir tidak nampak fungsinya) akan menyebabkan
bangunan itu tidak kokoh dan mudah roboh.
Lalu, seperti yang digambarkan Rasulullah, maka barisan-barisan tadi
menjelma menjadi satu tubuh. Tubuh Islam. Jika satu bagian sakit, maka bagian yang lain akan
merasakan hal yang sama pula. Tak aneh jadinya bila muslim Indonesia menitikkan
air mata melihat saudara-saudaranya di Mesir, Palestina dan berbagai belahan
bumi lainnya. Semua kembali ke dalam satu simpul tadi.
Ukhuwwah!
Di dalam
barisnya yang mengagumkan itu, kita menjadi satu warna: warna Islam.
Ketika orang terlalu mempermasalahkan kulit putih dan kulit hitam, maka kita
telah sejak lama mengaburkan batasan-batasan itu. Maka kita takkan menemui kata-kata rasisme dalam kamus perjuangan ini. Di
dalam barisnya itu jua, kita hanya punya satu cita: cita-cita Islam. Cita-cita
menegakkan kejayaan Islam kembali. Mengembalikan izzahnya, menegaskan
eksistensinya, memakmurkan bumi beserta segala isinya. Dan ukhuwwah menjadi
modal awal dan utama.
Begitu berharganya ukhuwwah hingga rasa-rasanya, hampir tidak ada gambaran
yang lebih bagus lagi yang bisa menjelaskan tentang keberhargaannya itu. Ketika
kita tak lagi memikirkan apa yang telah kita korbankan, karena memang jalan ini
meminta segalanya dari kita, jalan sarat korban. Ketika kita sudah tak
lagi menuntut keuntungan perorangan, karena segalanya demi perjuangan, juang
penuh rintang, menuju tujuan. Maka di situlah, tangis berubah tawa, luka
dibalut bahagia. Ketika berhimpun di dalam jamaah ini, sepi sirna sudah,
jamaah telah menjelma.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati-hati ini telah berhimpun atas
mahabbahMu, bertemu untuk menaatiMu, bersatu dalam mendakwahi agamaMu, dan
berjanji setia untuk membela syari’atMu. Maka kuatkanlah ikatannya ya Allah.
Abadikanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalannya dan penuhi ia dengan cahayaMu
yang tiada pernah redup, lapangkan dadanya dengan keindahan iman dan tawakkal
kepadaMu, hidupkanlah ia dengan ma’rifatMu, matikanlah ia sebagai syahid di
jalanMu. Sungguh, Engkau sebaik-baik pelindung dan penolong.”
0 komentar:
Post a Comment