Wednesday, 1 January 2014

Catatan Awal Tahun: Ukhuwwah


Ada rekah-rekah senyum
dalam juang penuh rintang,
Ada simpul-simpul tulus
sepanjang jalan sarat korban

Aku merasa ada hati yang tertaut
dalam satu simpul takjub;
Ukhuwwah

Di bebaris ukhuwwah
semua padat makna
semua satu warna
semua satu cita

Di lingkar ukhuwwah
tangis berubah tawa,
luka dibalut bahagia,
sepi sirna sudah, jamaah terang menjelma

Di jabat-tangan ukhuwwah
mesra kian kentara,
lisan sering hilang kata,
hati: Kami ini saudara.

Pasir Putih, 1 Januari 2013

Ya, kami (baca: kita) ini saudara. Saudara seiman. Ikatan persaudaraan itulah yang mengekal. Ia abadi selamanya lantaran tak mengenal tempat dan waktu. Ketika ikatan nasionalisme sebangsa dan setanah air hanya sebatas wilayah territorial tertentu saja, ketika ikatan kekerabatan seringkali terlupakan begitu maut memisahkan, maka ikatan yang satu ini menempatkan dirinya dalam lingkaran tak bertepi, layaknya dunia ini, tak berujung. Tak salah, jika ikatan bernama lengkap Ukhuwwah Islamiyyah ini dilukis ibarat satu simpul. Simpul menakjubkan! Betapa tidak? Kita mungkin tidak mengenal saudara-saudara kita yang terzalimi di Mesir, beribu-ribu mil di sana. Kita mungkin tidak pernah berjabat tangan dengan saudara-saudara kita yang dianiaya, nun di Palestina. Kita bahkan mungkin tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan saudara-saudara kita yang tertindas di Suriah. Tapi mengapa kita tersakiti? Mengapa air mata ini mengalir begitu deras layaknya bendungan yang mendadak jebol begitu kita melihat rekaman-rekaman penderitaan mereka? Mengapa juga amarah yang bahkan hampir tidak kita ingat lagi wujudnya dalam diri kita itu tiba-tiba memuncak melihat tirani yang semena-mena? Mengapa? Bukankah Palestina itu jauh dari Indonesia? Bukankah Suriah itu tidak punya catatan sejarah yang berkaitan dengan negara kita? Lalu, bukankah pula Mesir itu semacam negeri ‘antah berantah’ (selain sumbangsihnya untuk eksistensi Indonesia di awal kemerdekaan), bahkan tidak sebenua dengan kita? Lantas, mengapa begitu Erdogan di Turki mulai memijarkan kembali cahaya Islam yang telah redup, kita berbangga hati? Mengapa juga ketika perjuangan Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga mengorbankan ribuan nyawa namun tak surut setapakpun itu membuat kita kian kuat dan mantap di jalan dakwah di sini, di Indonesia? Itu semua karena satu kata menakjubkan tadi. Ukhuwwah!

Di dalam barisnya yang mengagumkan itu, setiap inci punya makna, semua padat makna. Kita merasakan berada di bawah satu panji, panji Islam, panji teragung dan tertinggi hingga tidak ada lagi yang melebihi keagungan dan kelebihannya. Maka jadilah barisan-barisan tadi layaknya satu bangunan, di naungan bendera teragung. Satu bangunan, karena itu semuanya saling melengkapi. Satu bangunan, semuanya mengambil peran dan posisi masing-masing. Ada yang menjadi keramik di lantai, ada yang menjadi besi dalam tiang, ada yang menjadi batu bata penyusun dinding. Ada yang menjadi jendela, pintu, bahkan engsel sekalipun. Semua saling melengkapi, karena ketiadaan kawat pengikat besi (yang terlihat paling kecil dan hampir tidak nampak fungsinya) akan menyebabkan bangunan itu tidak kokoh dan mudah roboh.

Lalu, seperti yang digambarkan Rasulullah, maka barisan-barisan tadi menjelma menjadi satu tubuh. Tubuh Islam. Jika satu bagian sakit, maka bagian yang lain akan merasakan hal yang sama pula. Tak aneh jadinya bila muslim Indonesia menitikkan air mata melihat saudara-saudaranya di Mesir, Palestina dan berbagai belahan bumi lainnya. Semua kembali ke dalam satu simpul tadi. Ukhuwwah!

Di dalam barisnya yang mengagumkan itu, kita menjadi satu warna: warna Islam. Ketika orang terlalu mempermasalahkan kulit putih dan kulit hitam, maka kita telah sejak lama mengaburkan batasan-batasan itu. Maka kita takkan menemui kata-kata rasisme dalam kamus perjuangan ini. Di dalam barisnya itu jua, kita hanya punya satu cita: cita-cita Islam. Cita-cita menegakkan kejayaan Islam kembali. Mengembalikan izzahnya, menegaskan eksistensinya, memakmurkan bumi beserta segala isinya. Dan ukhuwwah menjadi modal awal dan utama.

Begitu berharganya ukhuwwah hingga rasa-rasanya, hampir tidak ada gambaran yang lebih bagus lagi yang bisa menjelaskan tentang keberhargaannya itu. Ketika kita tak lagi memikirkan apa yang telah kita korbankan, karena memang jalan ini meminta segalanya dari kita, jalan sarat korban. Ketika kita sudah tak lagi menuntut keuntungan perorangan, karena segalanya demi perjuangan, juang penuh rintang, menuju tujuan. Maka di situlah, tangis berubah tawa, luka dibalut bahagia. Ketika berhimpun di dalam jamaah ini, sepi sirna sudah, jamaah telah menjelma.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati-hati ini telah berhimpun atas mahabbahMu, bertemu untuk menaatiMu, bersatu dalam mendakwahi agamaMu, dan berjanji setia untuk membela syari’atMu. Maka kuatkanlah ikatannya ya Allah. Abadikanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalannya dan penuhi ia dengan cahayaMu yang tiada pernah redup, lapangkan dadanya dengan keindahan iman dan tawakkal kepadaMu, hidupkanlah ia dengan ma’rifatMu, matikanlah ia sebagai syahid di jalanMu. Sungguh, Engkau sebaik-baik pelindung dan penolong.”

0 komentar:

Post a Comment