Tilawahku terhenti di penghujung surah ke-15,
ayat 99 surah Al-Hijr. Ayat terakhir itu begitu sarat makna, dan seolah-olah ia
telah merangkum semuanya.
“Dan sembahlah
Tuhanmu hingga al-yaqin datang menemuimu.”
Indah sekali,
subhanaLlah. Sungguh Maha Kuasa Allah, Ia merangkum apa yang hendak
disampaikanNya dalam kalimat sependek ini. Setelah kubaca beberapa tafsir Alquran dan
merenung, aku menyimpulkan ada empat poin penting yang ingin dipertegas oleh
Allah sekaligus dalam satu ayat penghujung ini.
Pertama, hakikat
kehidupan. Ini tertera pada kata pertama, sembahlah atau beribadahlah!
Fi’il Amar; kata perintah. Jelas, amaran ini menjadi senada dengan
firmanNya dalam ayat 56 surah Adz-Dzariyat yang masyhur itu.
Kedua, batas akhir dari
poin pertama. Allah sampaikan bahwa beribadah akan berakhir ketika al-yaqin (sesuatu
yang pasti) mendatangi. Banyak perbedaan pendapat mengenai al-yaqin ini.
M. Quraish Shihab dalam buku tafsirnya, Al-Mishbah, menjelaskan ada dua
pendapat mengenai hal ini. sebagian mufassir beranggapan bahwa al-yaqin adalah
kemenangan. Sebagian yang lain mengatakan bahwa al-yaqin adalah ajal
atau kematian. Pendapat pertama jelas tertolak karena tidak mungkin ibadah akan
berhenti ketika kita memperoleh kemenangan. Maka al-yaqin yang dimaksud
pastilah kematian.
Ketiga, kepastian
tentang datangnya kematian. Setelah kita sepakati bahwa al-yaqin itu
adalah kematian, maka ini selayaknya menjadi renungan bagi kita. Bahwa kedatangannya
adalah pasti, meski banyak yang menghindar dan lari darinya.
Keempat, al-yaqin atau
kematian itu mendatangi kita, bukan kita yang mendatanginya. Karena naluriah manusia pasti tidak
menginginkan mati. Jikapun ada yang berniat mengakhiri hidup, ia tetap tidak
akan bisa apabila maut tidak menjumpainya. Pun, jika ada yang beranggapan hidup
seseorang tidak lagi berpengharapan, selama maut tidak menemuinya, ia tetap
tidak akan mati. Begitulah kiranya. Ariel Sharon, sang penjagal itu, kiranya
cukup menjadi contoh yang menjelaskan tentang hal ini.
Terakhir, ini adalah kutipan kalimat hikmah
dari Saidina ‘Ali, karamaLlahu wajhah.
“Aku tidak pernah menjumpai sesuatu yang bathil (sifatnya tidak pasti) namun banyak
orang menganggapnya sebagai haq (sesuatu yang pasti dan berkekalan)
kecuali kehidupan dunia, dan aku tidak menjumpai sesuatu yang haq namun
orang banyak menganggapnya sebagai bathil kecuali kematian.”
Wallahu a’lam.
0 komentar:
Post a Comment