Saturday, 11 January 2014

Beribadahlah Sampai Kepastian Mendatangimu



Tilawahku terhenti di penghujung surah ke-15, ayat 99 surah Al-Hijr. Ayat terakhir itu begitu sarat makna, dan seolah-olah ia telah merangkum semuanya.

Dan sembahlah Tuhanmu hingga al-yaqin datang menemuimu.”

Indah sekali, subhanaLlah. Sungguh Maha Kuasa Allah, Ia merangkum apa yang hendak disampaikanNya dalam kalimat sependek ini.  Setelah kubaca beberapa tafsir Alquran dan merenung, aku menyimpulkan ada empat poin penting yang ingin dipertegas oleh Allah sekaligus dalam satu ayat penghujung ini.

Pertama, hakikat kehidupan. Ini tertera pada kata pertama, sembahlah atau beribadahlah! Fi’il Amar; kata perintah. Jelas, amaran ini menjadi senada dengan firmanNya dalam ayat 56 surah Adz-Dzariyat yang masyhur itu.

Kedua, batas akhir dari poin pertama. Allah sampaikan bahwa beribadah akan berakhir ketika al-yaqin (sesuatu yang pasti) mendatangi. Banyak perbedaan pendapat mengenai al-yaqin ini. M. Quraish Shihab dalam buku tafsirnya, Al-Mishbah, menjelaskan ada dua pendapat mengenai hal ini. sebagian mufassir beranggapan bahwa al-yaqin adalah kemenangan. Sebagian yang lain mengatakan bahwa al-yaqin adalah ajal atau kematian. Pendapat pertama jelas tertolak karena tidak mungkin ibadah akan berhenti ketika kita memperoleh kemenangan. Maka al-yaqin yang dimaksud pastilah kematian.

Ketiga, kepastian tentang datangnya kematian. Setelah kita sepakati bahwa al-yaqin itu adalah kematian, maka ini selayaknya menjadi renungan bagi kita. Bahwa kedatangannya adalah pasti, meski banyak yang menghindar dan lari darinya.

Keempat, al-yaqin atau kematian itu mendatangi kita, bukan kita yang mendatanginya. Karena naluriah manusia pasti tidak menginginkan mati. Jikapun ada yang berniat mengakhiri hidup, ia tetap tidak akan bisa apabila maut tidak menjumpainya. Pun, jika ada yang beranggapan hidup seseorang tidak lagi berpengharapan, selama maut tidak menemuinya, ia tetap tidak akan mati. Begitulah kiranya. Ariel Sharon, sang penjagal itu, kiranya cukup menjadi contoh yang menjelaskan tentang hal ini.

Terakhir, ini adalah kutipan kalimat hikmah dari Saidina ‘Ali, karamaLlahu wajhah.
“Aku tidak pernah menjumpai sesuatu yang bathil (sifatnya tidak pasti) namun banyak orang menganggapnya sebagai haq (sesuatu yang pasti dan berkekalan) kecuali kehidupan dunia, dan aku tidak menjumpai sesuatu yang haq namun orang banyak menganggapnya sebagai bathil kecuali kematian.”


Wallahu a’lam.

0 komentar:

Post a Comment