Friday, 13 December 2013

Tha'if, Sekeping Sejarah Kesabaran


 

"Ya Allah, padaMu jualah kuadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya siasatku, dan hinanya diriku di hadapan manusia...."

Membaca doa ini tak ubahnya ibarat menusuk belati kesedihan ke dalam sumsum iman. Doa yang mengajak kita ke lima belas abad yang silam, ke bawah sebatang anggur nan rimbun, nun di Tha'if. Di dalam kebun milik Utbah dan Syaibah. Di situ, sesosok manusia paling mulia duduk bersimpuh. Menghadap RabbNya. Mengadukan segalanya. Mencurahkan duka lara yang teramat. Baru saja mendung duka menggelayut, paman paling disegan se-kota Mekkah dan istri paling dicinta sepanjang hayat wafat. Kini siapa lagi yang menjadi penolong selain Allah? Tapi mendung memilih untuk tidak berhenti di sana. Ia bahkan turun, menjelma bak badai yang semakin menyamarkan jalan dakwah, menggoyahkan azzamnya, hingga hampir-hampir menipiskan asanya.

Tha’if! Bahkan hinaan dan bebatuan yang menghunjam. Bahkan lelehan darah yang membasahi terompah. Bahkan fitnah penuh benci yang didapatkan. Kini, pahit getir jalan dakwah baru saja menancapkan kukunya, dan Tha'if adalah saksi pertama yang mengiyakan. Perjuangan mahaberat itu baru saja dimulai. Mission impossible.

Tapi sosok itu bernama Muhammad saw. Figur yang menyejarah lewat kepribadiannya. Tokoh yang membuat kita berdecak kagum atas perjuangannya. Sekali lagi, namanya Muhammad, lengkapnya Muhammad ibn ‘Abdullah. Dan pasti, kita tidak akan pernah menemukan pembanding baginya.

Lihat saja, beberapa saat seusai peristiwa yang menderaikan air mata itu. Bahkan mungkin bekas luka di kaki nan mulia itu belum kering betul. Allah Maha Mendengar. Rasulullah sudah berjarak tiga mil dari Tha’if, dan kini langkahnya teriris-iris menuju Mekkah. Lihatlah, Allah mengutus Jibril seketika. Bersamanya, seorang malaikat penjaga gunung. Menawarkan diri untuk meratakan Tha’if dengan apa yang dijaganya. Lalu, jawaban Rasul?

“Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari mereka kalangan yang hanya menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan apapun.”

Adakah lagi orang yang setelah dilempari bebatuan hingga terompahnya memerah lalu menolak tawaran ini? Adakah lagi orang yang kesabarannya jauh melebihi batas seperti ini?


Wahai Rasulullah, shalawat dan salam untukmu. 

0 komentar:

Post a Comment