Sejumlah
mahasiswa Unsyiah yang tergabung dalam tim RCDC Aceh melaksanakan program community
development di desa Saree Aceh, kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar.
Program ini merupakan unit kerja dari sebuah LSM nasional, Masyarakat Ilmuwan
dan Teknolog Indonesia (MITI), yang khusus menangani menangani
aplikasi teknologi tepat guna dan aplikasi inovasi dalam kaitannya dengan
pemberdayaan masyarakat.
Tim RCDC Aceh ini beranggotakan lima mahasiswa, masing-masing
adalah Nur Alqadry (mahasiswa Fakultas Pertanian, jurusan Teknologi Hasil
Pertanian), Yulifhirmarijal (FKIP, Pendidikan Matematika), Ikhsan, Roza Maulina
dan Rina Novi Yani (ketiganya kuliah di Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi). Program ini sendiri telah dimulai sejak awal Juli 2013 dan sedang memasuki
tahap monitoring dan evaluasi pertama (Monev I) di akhir November.
![]() |
| Salah satu peserta sedang mengunjungi kebun kakao warga di Saree Aceh (30/11). |
Adapun yang menjadi concern tim adalah
pemanfaatan limbah pulpa kakao untuk bahan baku pembuatan nata de cacao.
Hal ini didasarkan pada realita terbuangnya limbah pulpa kakao pada setiap kali
pengupasan buah kakao di Saree Aceh.
“Kebiasaan warga Saree Aceh adalah melakukan
pengupasan buah kakao di kebun atau pekarangan rumah. Biji kakao yang masih
berlendir itu dimasukkan ke dalam karung, sehingga pulpanya merembes ke luar.
Ini adalah potensi yang akan kita coba kembangkan untuk meningkatkan
perekonomian warga,” jelas Qadry selaku ketua tim.
Berbekal dari itu, tim yang difasilitasi oleh
MITI ini mencoba mengembangkan usaha berskala rumah tangga bagi warga setempat.
Selain itu, faktor penyelamatan lingkungan juga menjadi salah satu alasan
diluncurkannya program ini.
“Padahal jika ini terus berlanjut, pulpa
kakao yang asam itu dapat merusak tanah dan tentunya akan mempengaruhi tanaman
yang tumbuh di atasnya,” tambah Qadry.
Yang membuat program ini sedikit berbeda dari
community development lainnya
adalah adanya perhatian khusus terhadap keseimbangan aspek sosial, teknologi
dan kewirausahaan yang diistilahkan sebagai Sociotechnopreneurship. Artinya,
program ini tidak berfokus pada upaya meningkatkan finansial semata, tapi juga
disisipkan dengan pemanfaatan teknologi serta peningkatan aspek sosial. Khusus
untuk aspek terakhir disebutkan, program ini juga memiliki kegiatan seperti
bakti sosial, gerakan peduli pendidikan dan agama.
Program yang berlangsung hingga akhir Juni 2014 mendatang
ini ditargetkan bisa membentuk sebuah Desa Inovasi Mandiri dalam rangka
mengurangi angka pengangguran yang semakin meningkat. Selain itu, diharapkan
juga agar masyarakat, khususnya mahasiswa, semakin termotivasi untuk
menumbuhkan semangat berwirausaha.

0 komentar:
Post a Comment