Tuesday, 10 December 2013

Mahasiswa Unsyiah Kembangkan Sociotechnopreneurship



Sejumlah mahasiswa Unsyiah yang tergabung dalam tim RCDC Aceh melaksanakan program community development di desa Saree Aceh, kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Program ini merupakan unit kerja dari sebuah LSM nasional, Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), yang khusus menangani menangani aplikasi teknologi tepat guna dan aplikasi inovasi dalam kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat.
Tim RCDC Aceh ini beranggotakan lima mahasiswa, masing-masing adalah Nur Alqadry (mahasiswa Fakultas Pertanian, jurusan Teknologi Hasil Pertanian), Yulifhirmarijal (FKIP, Pendidikan Matematika), Ikhsan, Roza Maulina dan Rina Novi Yani (ketiganya kuliah di Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi). Program ini sendiri telah dimulai sejak awal Juli 2013 dan sedang memasuki tahap monitoring dan evaluasi pertama (Monev I) di akhir November.

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/1461209_755077777840790_1220317878_n.jpg
Salah satu peserta sedang mengunjungi kebun kakao warga di Saree Aceh (30/11).

Adapun yang menjadi concern tim adalah pemanfaatan limbah pulpa kakao untuk bahan baku pembuatan nata de cacao. Hal ini didasarkan pada realita terbuangnya limbah pulpa kakao pada setiap kali pengupasan buah kakao di Saree Aceh.
“Kebiasaan warga Saree Aceh adalah melakukan pengupasan buah kakao di kebun atau pekarangan rumah. Biji kakao yang masih berlendir itu dimasukkan ke dalam karung, sehingga pulpanya merembes ke luar. Ini adalah potensi yang akan kita coba kembangkan untuk meningkatkan perekonomian warga,” jelas Qadry selaku ketua tim.
Berbekal dari itu, tim yang difasilitasi oleh MITI ini mencoba mengembangkan usaha berskala rumah tangga bagi warga setempat. Selain itu, faktor penyelamatan lingkungan juga menjadi salah satu alasan diluncurkannya program ini.
“Padahal jika ini terus berlanjut, pulpa kakao yang asam itu dapat merusak tanah dan tentunya akan mempengaruhi tanaman yang tumbuh di atasnya,” tambah Qadry.
Yang membuat program ini sedikit berbeda dari community development lainnya adalah adanya perhatian khusus terhadap keseimbangan aspek sosial, teknologi dan kewirausahaan yang diistilahkan sebagai Sociotechnopreneurship. Artinya, program ini tidak berfokus pada upaya meningkatkan finansial semata, tapi juga disisipkan dengan pemanfaatan teknologi serta peningkatan aspek sosial. Khusus untuk aspek terakhir disebutkan, program ini juga memiliki kegiatan seperti bakti sosial, gerakan peduli pendidikan dan agama.

Program yang berlangsung hingga akhir Juni 2014 mendatang ini ditargetkan bisa membentuk sebuah Desa Inovasi Mandiri dalam rangka mengurangi angka pengangguran yang semakin meningkat. Selain itu, diharapkan juga agar masyarakat, khususnya mahasiswa, semakin termotivasi untuk menumbuhkan semangat berwirausaha.

0 komentar:

Post a Comment