Ya, kurasa kalimat di atas cukup mewakili
perasaanku saat ini terhadap organisasi mahasiswa yang satu ini. Maaf, bukannya
tidak bermaksud menghargai niat baik kawan-kawan aktivis dakwah. Ini hanya
perasaan pribadi saja, meskipun aku tidak begitu yakin ini tidak akan menular
kepada yang lainnya.
Saudaraku, sekali lagi aku mohon maaf jika
harus menuliskan ini. Terus terang, aku bingung harus menyampaikan ini kepada
siapa, mungkin hanya keyboard laptoplah yang akhirnya bisa menjadi
sasaran pelampiasan perasaan ini.
Ceritanya bermula ketika lebih setahun lalu. Kala
itu, aku ‘dijebak’ untuk masuk ke dalam lingkaran ini. Lingkaran yang katanya
adalah sarang kemunafikan. Lingkaran yang dicap sebagai kumpulan orang-orang
yang haus kekuasaan. Saat itu, aku sadar
sesadar-sadarnya telah terperangkap dalam jebakan ini. Tapi anehnya, aku tidak
berusaha sedikitpun untuk meronta, melakukan perlawanan agar buhul-buhul yang
melingkari pemikiranku terlepas. Aku bahkan menikmati
manisnya jebakan itu. Dan tahukah engkau, Kawan? Jebakan itu tidak hanya
memikat dari luar. Di dalam, malah ia kelihatan lebih manis, lebih indah dari
apa yang nampak dari luar. Saat itu, aku mulai ragu-ragu, jangan-jangan ini
bukan jebakan! Sikap skeptis itu jua yang menggelitik hati ini untuk terus
mencari tahu, ada apa gerangan dengan ‘jebakan’ bernama LDK. Maaf Kawan,
sengaja kali ini kucantumkan tanda petik sebagai pertanda keraguanku terhadap
penggunaan kata itu. Tapi jujur, aku juga belum menemukan kata yang tepat untuk
menggantikannya.
Tahukah
engkau, Kawan? Demi memuaskan rasa ingin tahu, aku masuk lebih jauh ke dalam.
Kuikuti kajiannya, kuhadiri mabitnya, kuturuti ajakan berbuka puasa sunnah
Senin-Kamisnya. Singkat kata, kudatangi semua kegiatan yang lebih mirip dengan
acara ‘ngumpul-ngumpul’ yang digelar oleh anak-anak muda yang sebagian besar
dari mereka berjenggot tipis itu. Akupun mulai menemukan beberapa keganjilan
dari organisasi ini. Pertama, hampir semua kegiatannya itu tidak prosedural
layaknya acara-acara resmi UKM lainnya. Jikapun ada, itu hanya berlaku untuk
kegiatan-kegiatan yang melibatkan dosen, dekan, rektor atau siapapun yang bukan
merupakan bagian dari mereka. Selain itu, jangan harap! Anda jangan
membayangkan kajian mereka itu seperti semacam seminar dengan pemateri memakai
jas perlente di depan bersama moderator dengan kostum yang sama. Anda juga
jangan membayangkan pesertanya duduk manis di kursi yang telah disediakan dan
sebelum masuk harus mendaftar di meja registrasi terlebih dahulu. Tidak! Bahkan
tak jarang kajian mereka gelar di alam bebas sembari merenungi kebesaran Tuhan.
Pemateri dan peserta tak jauh beda: duduk lesehan. Suasananya benar-benar
ramah.
Hal kedua
yang membuat saya heran adalah apapun kegiatan mereka –mau pembukan pameran,
kajian, bahkan rapat bidang—selalu diawali dengan pembacaan Alqur’an. Intinya, dikit-dikit
Alqur’an. Seolah-olah tanpa Alqur’an tidak boleh ada acara. Dan ketika
kutanyakan, kalimat di atas memang benar, bahkan tanpa kata ‘seolah-olah’. Aku
jadi semakin bimbang, sarang kemunafikan macam apa yang memuliakan Alqur’an?
Orang macam apa yang haus kekuasaan jika hidupnya tak jauh dari Alqur’an?
Ketiga,
seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, acaranya lebih mirip
‘ngumpul-ngumpul’ ketimbang agenda resmi yang elit. Jika Anda baru ikut pertama
kalinya, mungkin Anda langsung berkesimpulan ini adalah acara keluarga! Saya
sampai terheran-heran melihat lutut mereka yang saling bertemu ketika duduk
bersila sembari khusyu’ mendengarkan materi yang disampaikan. Kalau acara yang
bernama a‘rihlah’, itu sudah jelas ngumpul-ngumpul. Tapi
bagaimana dengan daurah, mabit, ifthar jama’i, kajian islam, dan sebagainya?
Ah, ‘jebakan’ macam apa ini? Belum sempat
kutemukan jawabannya, aku merasakan ada yang berubah jauh di lubuk hati sana. Ya,
ada perasaan damai, kasih sayang yang tiba-tiba tumbuh, dan rasa ingin selalu
bersama yang tiba-tiba menyelinap. Perasaan yang selama ini kucari-cari.
Mungkinkah ini muncul karena aku sering bersama mereka? Mungkinkah ini karena
aku mengikuti kajian-kajian mereka? Mungkinkah ini virus yang mereka tularkan
hingga membuat orang-orang di luar sana takut dengan nama LDK? Beribu
pertanyaan mulai menyerang benakku sebelum akhirnya aku mengambil satu
kesimpulan: jika memang ini virus, maka telah kubiarkan ia menyerang seluruh
tubuhku.
Ya, jika memang ini jebakan maut, maka aku rela
terjebak di dalamnya, bahkan untuk selama-lamanya. Bahkan jika suatu saat nanti
aku diberi kekuatan untuk keluar dari jebakan ini, aku tidak akan pernah
melakukannya.
Kini,
aku benar-benar ‘benci’ LDK. Benar-benar cinta!
Sudut Kamar; Sabtu, 30 November 2013
0 komentar:
Post a Comment