Wednesday, 4 December 2013

Aku ‘Benci’ LDK

Ya, kurasa kalimat di atas cukup mewakili perasaanku saat ini terhadap organisasi mahasiswa yang satu ini. Maaf, bukannya tidak bermaksud menghargai niat baik kawan-kawan aktivis dakwah. Ini hanya perasaan pribadi saja, meskipun aku tidak begitu yakin ini tidak akan menular kepada yang lainnya.
Saudaraku, sekali lagi aku mohon maaf jika harus menuliskan ini. Terus terang, aku bingung harus menyampaikan ini kepada siapa, mungkin hanya keyboard laptoplah yang akhirnya bisa menjadi sasaran pelampiasan perasaan ini.
Ceritanya bermula ketika lebih setahun lalu. Kala itu, aku ‘dijebak’ untuk masuk ke dalam lingkaran ini. Lingkaran yang katanya adalah sarang kemunafikan. Lingkaran yang dicap sebagai kumpulan orang-orang yang haus kekuasaan. Saat itu, aku sadar sesadar-sadarnya telah terperangkap dalam jebakan ini. Tapi anehnya, aku tidak berusaha sedikitpun untuk meronta, melakukan perlawanan agar buhul-buhul yang melingkari pemikiranku terlepas. Aku bahkan menikmati manisnya jebakan itu. Dan tahukah engkau, Kawan? Jebakan itu tidak hanya memikat dari luar. Di dalam, malah ia kelihatan lebih manis, lebih indah dari apa yang nampak dari luar. Saat itu, aku mulai ragu-ragu, jangan-jangan ini bukan jebakan! Sikap skeptis itu jua yang menggelitik hati ini untuk terus mencari tahu, ada apa gerangan dengan ‘jebakan’ bernama LDK. Maaf Kawan, sengaja kali ini kucantumkan tanda petik sebagai pertanda keraguanku terhadap penggunaan kata itu. Tapi jujur, aku juga belum menemukan kata yang tepat untuk menggantikannya.
Tahukah engkau, Kawan? Demi memuaskan rasa ingin tahu, aku masuk lebih jauh ke dalam. Kuikuti kajiannya, kuhadiri mabitnya, kuturuti ajakan berbuka puasa sunnah Senin-Kamisnya. Singkat kata, kudatangi semua kegiatan yang lebih mirip dengan acara ‘ngumpul-ngumpul’ yang digelar oleh anak-anak muda yang sebagian besar dari mereka berjenggot tipis itu. Akupun mulai menemukan beberapa keganjilan dari organisasi ini. Pertama, hampir semua kegiatannya itu tidak prosedural layaknya acara-acara resmi UKM lainnya. Jikapun ada, itu hanya berlaku untuk kegiatan-kegiatan yang melibatkan dosen, dekan, rektor atau siapapun yang bukan merupakan bagian dari mereka. Selain itu, jangan harap! Anda jangan membayangkan kajian mereka itu seperti semacam seminar dengan pemateri memakai jas perlente di depan bersama moderator dengan kostum yang sama. Anda juga jangan membayangkan pesertanya duduk manis di kursi yang telah disediakan dan sebelum masuk harus mendaftar di meja registrasi terlebih dahulu. Tidak! Bahkan tak jarang kajian mereka gelar di alam bebas sembari merenungi kebesaran Tuhan. Pemateri dan peserta tak jauh beda: duduk lesehan. Suasananya benar-benar ramah.
Hal kedua yang membuat saya heran adalah apapun kegiatan mereka –mau pembukan pameran, kajian, bahkan rapat bidang—selalu diawali dengan pembacaan Alqur’an. Intinya, dikit-dikit Alqur’an. Seolah-olah tanpa Alqur’an tidak boleh ada acara. Dan ketika kutanyakan, kalimat di atas memang benar, bahkan tanpa kata ‘seolah-olah’. Aku jadi semakin bimbang, sarang kemunafikan macam apa yang memuliakan Alqur’an? Orang macam apa yang haus kekuasaan jika hidupnya tak jauh dari Alqur’an?
Ketiga, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, acaranya lebih mirip ‘ngumpul-ngumpul’ ketimbang agenda resmi yang elit. Jika Anda baru ikut pertama kalinya, mungkin Anda langsung berkesimpulan ini adalah acara keluarga! Saya sampai terheran-heran melihat lutut mereka yang saling bertemu ketika duduk bersila sembari khusyu’ mendengarkan materi yang disampaikan. Kalau acara yang bernama a‘rihlah’, itu sudah jelas ngumpul-ngumpul. Tapi bagaimana dengan daurah, mabit, ifthar jama’i, kajian islam, dan sebagainya?
Ah, ‘jebakan’ macam apa ini? Belum sempat kutemukan jawabannya, aku merasakan ada yang berubah jauh di lubuk hati sana. Ya, ada perasaan damai, kasih sayang yang tiba-tiba tumbuh, dan rasa ingin selalu bersama yang tiba-tiba menyelinap. Perasaan yang selama ini kucari-cari. Mungkinkah ini muncul karena aku sering bersama mereka? Mungkinkah ini karena aku mengikuti kajian-kajian mereka? Mungkinkah ini virus yang mereka tularkan hingga membuat orang-orang di luar sana takut dengan nama LDK? Beribu pertanyaan mulai menyerang benakku sebelum akhirnya aku mengambil satu kesimpulan: jika memang ini virus, maka telah kubiarkan ia menyerang seluruh tubuhku.
Ya, jika memang ini jebakan maut, maka aku rela terjebak di dalamnya, bahkan untuk selama-lamanya. Bahkan jika suatu saat nanti aku diberi kekuatan untuk keluar dari jebakan ini, aku tidak akan pernah melakukannya.

Kini, aku benar-benar ‘benci’ LDK. Benar-benar cinta!

Sudut Kamar; Sabtu, 30 November 2013

0 komentar:

Post a Comment